Yang Tak Terekspos dalam Dialog Grand Syeikh Al-Azhar dan Kiai Said Aqil Siroj

INTERNASIONAL NASIONAL

FAKTA BANTEN – Dalam setiap peristiwa monumental akan selalu ada narasi besar atau yang dibesar-besarkan. Tidak heran kalau menjadi viral di media sosial ataupun media massa cetak dan elektronik. Mungkin salah satu faktornya karena sejalan dengan tuntutan aktual pada ruang dan waktunya.

Di sisi lain, selalu ada pula yang “tidak tertangkap”, “tidak terbaca” dan karena itu “tidak tertulis”. Status-status sederhana ini hanya mencoba menuliskan apa yang mungkin terlanjur luput dari persepsi (tak tertangkap) dan kemudian tak terekspos. Anggaplah sebagai upaya “Kitaabat maa lam yuktab” (mendokumentasikan apa yang tak tertulis), sependek yang berkembang selama dua hari ini. Mumpung masih hangat!

Salah satu di antara yang kurang terekspos, mungkin karena tidak sesuai dengan “image” yang selama ini terlanjur banyak tersebar, adalah statemen Ketua Umum PBNU, Kang Said Aqil Siradj, dalam kata pengantarnya: Nahdlatul Ulama (NU) yang beliau pimpin adalah organisasi sosial-kemasyarakatan yang mempunyai basis teologis Akidah Imam Asy’ari dan Imam Maturidi, beribadah sesuai dengan ajaran Madzhab Empat, dan bertashawwuf sesuai dengan teladan Imam al-Junaid Al Baghdadi dan Hujjatul Islam al-Ghazali.

“NU adalah organisasi yang tidak Wahhabiyah, tidak liberal dan tidak Syiah,” tegas beliau.

Dan penegasan ini penting, menurut hemat saya, untuk digarisbawahi.
Beliau juga melanjutkan bahwa NU adalah organisasi yang mengusung Islam Nusantara sebagai sebuah karakteristik umum dan faktor pembeda. Islam Nusantara adalah pengejawantahan daripada ketiga basis (teologis, amal-ubuduyah, dan akhlaq spiritual) dalam kehidupan sehari-hari setiap individu muslim kawasan Asia Tenggara dan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hingga menjadi Islam yang tawassuth, tawazun dan I’tidal. Karena Islam di bawah ke Indonesia oleh para wali dengan ajaran kedamaian, suri teladan yang mulia hingga mampu meng-Islamkan sebagian besar kawasan ini hanya dalam masa lima puluh tahun saja.

Gampangnya, Islam Nusantara sebagai pembeda adalah Islam yang lembut, berakhlaq mulia, tidak memecah-belah; Islam yang anti kekerasan dan ekstremitas. Islam yang membangun, bukan menghancurkan. Sekali lagi, menurut saya ini sangat penting untuk digarisbawahi.

Respon GSA Terhadap Islam Nusantara (bagian a)

Terus-terang saya sangat menikmati dialog yang berlangsung di gedung PBNU tersebut; dialog yang mempertemukan dua karakter yang berbeda. Kiai Said mempunyai karakter yang ceplas-ceplos meledak-ledak, padahal merepresentasikan Islam Nusantara yang katanya lemah-lembut dan adem. Sedangkan Grand Syaikh Al-Azhar, Guru Mulia Prof. Dr. Ahmed el Thayyeb (GSA) orangnya kalem dan pembicaraannya runtut, padahal merepresentasikan Islam Arab yang dianggap kasar dan pemarah.Karakter Kang Said menciptakan suasana segar dan hangat, sedangkan gaya GSA membuat pembicaraan tetap fokus terkendali.

Kalau diumpamakan, hal ini bagaikan pertemuan unsur Yin dan Yang (meminjam istilah Filsafat China Klasik) yang membentuk kesatuan yang padu. Tidak heran kalau GSA merasa seperti di rumah sendiri, berkali-kali protokoler hendak menyudahi acara, tapi GSA malah yang minta waktunya ditambah untuk dialog dengan para hadirin saat waktu terus beranjak larut.

Mungkin salah satu faktor yang mendorong terwujudnya chemistry antara beliau berdua adalah karena beliau berdua satu jurusan spesialiasi keilmuan dan satu kecenderungan sufistik. Sebagai seorang professor Teologi & Filsafat Islam yang bertemu dengan kolega sejurusan, tidak heran kalau GSA sering menyelipkan terma-terma filsafat yang cukup berat bagi pemirsa awam, sebagaimana akan diekspos dalam rangkaian status ini, insya Allah.

“Ijinkan saya menjawab candaan yang hangat ini dengan candaan yang lain,” dawuh GSA.

Andaikan Allah Taala mengutus seorang nabi (berdasarkan karakteristik umum sebuah bangsa), pastilah Dia akan mengutus nabi tersebut di Indonesia, dari kalangan kalian (NU) Hehehehe. Tetapi Allah Taala telah berkehendak untuk mengutus seorang nabi terakhir yang membawa kerasulan untuk semua umat manusia; tanpa disekat oleh batas kebangsaan, ruang dan waktu.

Berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya yang kerasulannya dibatasi oleh komunitas bangsa tertentu, tempat tertentu bahkan waktu tertentu. Ajaibnya, Nabi terakhir yang diutus membawa rahmatan lil aalamin ini berasal dari bangsa Arab yang katanya mempunyai karakteris umum yang begundal, kasar dan suka menumpahkan darah. Maka, secara teologis kita wajib mencintai dan mengikuti Nabi Muhammad yang berasal dari bangsa Arab tersebut; keimanan kita menjadi tidak sah dan tidak benar tanpa itu.

“Jangan lupa pula, yang membawa Islam damai ke sini adalah orang Arab. Andaikan tidak ada mereka ke sini, mungkin sampai sekarang anda semua bukan beragama/bermadzhab Islam apapun; mungkin kita akan berjumpa sekarang ini dan anda semua menganut madzhab apa ya namanya, mungkin madzhab Asia Tenggara (kuno)!” Canda beliau sambil tersenyum.

 

Respon GSA Terhadap Islam Nusantara (bagian b)

Kemudian GSA berpendapat bahwa semua karakteristik dan distingsi (faktor/variabel pembeda) daripada Islam Nusantara (yang dipaparkan oleh Kang Said) adalah kesejatian agama Islam itu sendiri. Itulah yang menggabungkan kita semua dalam koridor “saling menghormati dan menjaga siapapun yang shalat seperti kita, menghadap kepada kiblat yang sama, dan memakan makanan yang kita sembelih…” Kesejatian Islam tersebut kemudian mengejawantah/ termanifestasikan dalam tindakan sehari-sehari manusia muslim, baik dalam konteks individual dan maupun dalam konteks bermasyarakat dan bernegara.

“Tentu saja saya datang ke sini tidak bermaksud untuk mengajarkan apa yang menjadi adat-kebiasaan di tempat saya, apalagi kalau melihat bahwa sekarang kawasan Arab (bahkan dunia Islam secara umum) secara sosial-politik sedang bermasalah …”, kata beliau.

Akan lebih penting, menurut beliau, untuk menekankan “jangan sampai perbedaan antar setiap bangsa dan golongan muslim menghalangi kita untuk saling menghormati, apalagi sampai merendahkan bangsa lain, apalagi sampai memonopoli kebenaran dan mengkafirkan pihak lain”

“Apapun yang terjadi, saya anti orang yang merasa lebih tinggi dari orang lain, saya anti monopoli kebenaran, saya anti takfir. Tidak ada yang bisa mengeluarkan seorang muslim dari status keislamannya kecuali mengingkari apa yang membuatnya masuk sebagai seorang muslim,” tegas beliau.

GSA juga menegaskan bahwa kita tidak bisa menegasikan adanya perbedaan bangsa dan aliran pemikiran. Semua madzhab ada, dan biarlah itu tetap ada, tidak perlu dipaksakan jadi satu.

“Biarlah Salafisme itu ada, biarlah Sufisme ada, biarlah Syiah itu ada,”

Menurut GSA, hal itu adalah keniscayaan historis! “Bahkan biarlah Madzhab Azhary itu ada, biarlah pula Madzhab Nahdliyin juga tetap ada. yang penting kita semua bisa bersinergi dalam ko-eksistensi!”

Lebih jauh GSA berpendapat, orang yang memaksakan penyatuan semua aliran Islam itu adalah orang yang keislamannya masih berkualitas anak-anak; mereka melihat dunia hanya berwarna hitam putih: kalau anda tidak benar berarti salah, kalau anda bukan golongan kami berarti musuh kami!

Islam yang dewasa menurut GSA adalah Islam yang merangkul dan tidak meminggirkan.

“Ya, saya berbeda dengan anda, tetapi saya tetap menghormati anda dan menyayangi anda sebagai saudara seagama!” Pungkasnya.

 

Sinergi Al-Azhar dan NU

Suasana yang santai penuh kekeluargaan membuat GSA tak seperti biasanya membuka diri. Beliau bercerita bahwa sejak kecil hidup di keluarga yang teguh beragama menurut paham tradisional, sehingga (hapal Al-Qur’an dan) menguasai ilmu-ilmu Islam dasar bermadzhab Maliki. Di sisi lain, lingkungan tempat beliau tinggal (Luxor) adalah kawasan wisata internasional yang membuat beliau berkesempatan berinteraksi langsung dengan para turis dan budaya berbeda. (Tak heran kalau tokoh muslim paling berpengaruh di dunia ini sampai mampu menguasai 8 bahasa asing secara aktif). Beliau lalu ke Al-Azhar dan mendapatkan bahwa metodologi yang dikembangkan di Al-Azhar mendidik santri-santrinya menjadi manusia muslim yang inklusif.

“Sebab, mulai dari pelajaran yang paling pokok dan sederhana (hingga pelajaran tingkat tinggi), kita diajari bahwa selalu ada perbedaan pendapat di dalamnya. Rasulullah SAW mengajarkan cara shalat kepada semua sahabat beliau, yang pada gilirannya sampai kepada para imam dan guru kita. Semuanya bersepakat bahwa solat (lima waktu) itu wajib, dimulai dari takbir sampai ke salam. Tetapi sesudah itu para imam dan para ulama berbeda pendapat hampir dalam setiap detail ibadah solat….” dawuh beliau seakan ingin menegaskan bahwa semuanya benar karena ada landasannya, dan bahwasanya Islam satu tetapi pemahaman/madzhab umat Islam absah berbeda-beda.

Di sisi lain, di Al-Azhar beliau belajar Teologi Asy’ariah yang tidak pernah mengkafirkan sesama muslim yang berpaham beda ataupun berbuat dosa.

“Bahkan di Al-Azhar saya mengaji kepada para guru besar yang bukan hanya berstatus sebagai ulama, mereka juga sekaligus adalah para wali sufi. Ya betul, saya serius, mereka memang para wali sufi. Berkat mereka, saya tidak pernah terasing dalam sekat-sekat ilmu pengetahuan Islam: filsafat, teologi, tafsir dan hadits (menjadi satu kesatuan yang komprehensif)!”

(Sebagaimana diketahui, GSA kemudian melanjutkan pendidikannya di Sorbonne, Perancis sebelum kembali ke Al-Azhar untuk mendapatkan master keduanya dan menyelesaikan jenjang doktoralnya).

Maka, bertolak dari sikap saling menghormati keberagaman dalam kerangka besar keseragaman, GSA mengajak Kang Said, NU dan komunitas Islam Nusantara (Madzhab Nahdhiyin) untuk bersinergi dengan Al-Azhar untuk mengangkat nilai-nilai moderat dalam Islam; bersama-sama menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.

“Kang Said, anda seorang Azhary, apa bukan? Oh anda tamatan Ummul Quro, ya?”

Setelah Kang Said menimpali bahwa beliau belajar kepada para Professor dari Al-Azhar di sana, GSA berkomentar bahwa ada masa bahwa di sana lebih baik dari masa-masa sesudahnya (Di saat para professor tadi masih mengajar di sana, dibandingkan sesudah paham Wahhabi dipaksakan secara rigid).

Beliau terlihat menerima bahwa Kiai Said adalah seorang yang tumbuh besar dalam pendidikan berpaham Asy’arian dan mempunyai kecenderungan Asy’arian yang berakidah lima puluh dan tidak mengkafirkan orang, meskipun gelar master dan doktoralnya didapatkan dari Saudi Arabia.

“Kang Said, apakah anda sudah mengaji kitab Al-Isyarat wat Tanbihat yang dianggit oleh Ibnu Sina kepada beliau (Alm. Prof. Sulaiman Dunya)? Di kitab tersebut ada pembahasan tentang (teori emanasi Aristotelian), Aktif Agens (al-`Aql al-Fa`aal) dan Poeilitis/Produktif Agens (al-`Aql al-Mudabbir)”.

Sedikit penjelasan, bahwasanya Intelektus Agens (al-`Aql al-Fa`aal) dan Produktif Agens (al-`Aql al-Mudabbir) dalam filsafat Peripatetik Sinawiyan adalah entitas transendental (ghaib/melangit) yang berbeda tapi seperti dua sisi mata uang. Intelektus Agens menerima ilham, data dan instruksi dari Tuhan, sedangkan Produktif Agens mewujudkannya dalam dunia nyata.

Lalu beliau hendak mengalihkan penerapan konsep yang melangit tadi kepada aktivitas sinergis yang membumi.

“Kang Said, tipikal anda lebih dekat sebagai seorang yang aktiv agens atau produktif agens? … mmm … InsyaAllah anda adalah seorang aktiv agens ….” dawuh beliau seakan menyiratkan bahwa Kang Said adalah tipikal pemimpin yang mengilhami, menginspirasi dan menggerakkan, bukan murni pelaksana/manajer lapangan.

Maka, karena itu beliau pun mengajak, “Kang Said, kita adalah sama, kita adalah satu. Selama saya masih hidup maka saya akan memback-up anda ….!”

GSA pun meminta agar Kang Said membawa NU mendunia, bersama Al-Azhar menjembatani perbedaan antar umat, melakukan disseminasi terhadap genre Islam yang damai dan merekatkan, bukan paham Islam yang memecah-belah. Dan sebagai pernyataan keseriusan (statement of intent), beliau langsung memberikan buah-tangan berupa 30 beasiswa untuk 20 calon mahasiswi dan 10 calon mahasiswa dengan perbandingan 2/38-nya akan diarahkan ke fakultas-fakultas non-agama seperti kedokteran, teknik, farmasi dan lain-lain (belakangan jumlah beasiswa ini ditambah).

Beliau dan Al-Azhar juga akan membuka jalan bagi Kang Said dan NU untuk bisa berkiprah lebih jauh di gelanggang internasional. (*/Dutaislam.com)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *