Ini Solusi Optimalisasi Teknologi untuk Pertanian Menurut Haji Rosyid

CILEGON HEADLINE

CILEGON – Rosyid Haerudin, Calon Anggota Legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Dapil Banten 2 (Kota Cilegon dan Kabupaten/Kota Serang) nomor urut 3 dari Partai Amanat Nasional (PAN), menyinggung perlu adanya penguatan dan optimalisasi teknologi pertanian guna menunjang ketahanan pangan.

Menurut pria yang akrab disapa Abah Haji Rosyid ini, dengan potensi dari luasnya sawah baik dari Kota dan Kabupaten Serang menjadi primadona yang harus dikuatkan dan didukung secara keseluruhan sehingga berdampak langsung untuk menyukseskan kedaulatan pangan.

“Banyak teknologi yang bisa digunakan, dan telah dipatenkan, terutama dari Badan Penilitian, Pengembangan (Balitbang) Pertanian, sehingga bisa menjadi katalis yang bagus untuk petani,” kata Haji Rosyid kepada faktabanten.co.id pada Jum’at, (5/10/2018) membuka obrolan.

Perihal keterbatasan modal petani, Rosyid menawarkan bisa dengan Coorporate Social Responsibility (CSR) atau dengan dana pemerintah, menurutnya, seringkali dijumpai masalah pendanaan.

“Untuk permodalan, bisa dengan dana pemerintah ataupun CSR, karena seringkali keterbatasan modal menjadi masalah petani, dan teknologi itu harus gratis didapatkan petani, itu perlu kekuatan dan dukungan semua pihak, terutama sinergi antar eksekutif dan legislatif,” papar Haji Rosyid, yang juga Sarjana Pertanian.

Menurut Haji Rosyid, kunci suksesi berada pada petani yang menjadi subjek dan objek dari pengoptimalisasian teknologi pertanian. Seperti diketahui, kehadiran teknologi ini dapat mengatasi kendala kekurangan air bagi tanaman pada lahan berpasir.

Adapun beberapa teknologi yang dimaksudkan oleh Rosyid yakni;

1. Alat Pengering Cepat Kedelai Brangkasan

Alat yang dirancang oleh I Ketut Tastra, dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian ini, dapat mencegah turunnya mutu benih kedelai akibat terlambatnya proses pengeringan. Komponen alatnya, antara lain, drum pemanas udara, dua kompor minyak tanah, sebagai sumber panas, dan sebuah blower untuk menghisap dan menghembuskan udara panas.

Jika dibandingkan dengan alat pengering konvensional, alat ini dapat mempercepat proses pengeringan, sehingga mampu menghemat waktu pengeringan dari 8 hari menjadi 1 hari. Selain itu, teknologi pengering ini juga dapat meningkatkan mutu (daya tumbuh) benih kedelai hingga mencapai 90,3%.

2. Tarikan Matrik Tanah Liat

Sistem irigasi pertanian konvensional, memasok air melalui permukaan tanah, dinilai tidak efektif, terutama pada tanah dengan tekstur berpasir. Air tanah akan tertahan, dan terlindung di bawah tanah dengan tekstur berpasir tersebut.

Sehingga perlu sebuah alat yang dapat menarik air dari bawah permukaan ke atas permukaan agar tersedia bagi tanaman. Berdasarkan kondisi itu, Subowo, dari Balai Penelitian Tanah, merancang teknologi yang disebut tarikan matrik tanah liat.

Bentuk alat ini sangat sederhana, yaitu plumpung yang terdiri dari silinder, dengan lubang-lubang vertikal maupun miring. Teknologi tarikan matrik tanah liat, dapat mengatasi kendala kekurangan air bagi tanaman pada lahan dengan tekstur berpasir.

3. Instalasi Pengolah Limbah untuk Biogas, Pupuk Cair, dan Pakan Ternak.

Instalasi ini dapat mengolah limbah ternak, yang terbuang menjadi sesuatu yang bermanfaat, seperti biogas, pupuk organik cair, dan bahan pakan ternak. Selain itu, dengan menggunakan instalasi ini, limbah ternak bisa terkelola dengan baik. Apabila limbah ternak tidak dikelola dengan tepat, maka akan menimbulkan pencemaran lingkungan yang serius.

Perancang instalasi pengolah limbah untuk biogas, pupuk cair, dan pakan ternak, adalah Suprio Guntoro, dan dan 7 orang lainnya, dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali.

4. Alat Irigasi Tipe Sprinkler Berjalan untuk Rumah Kaca.

Alat berkonstruksi kokoh ini dirancang sesuai kebutuhan sistem irigasi di rumah kaca. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan alat ini pun dapat digunakan pada areal terbuka. Salah satu fungsinya, yaitu dapat bergerak maju-mundur, untuk memberikan air dengan ukuran partikel, waktu, dan jumlah sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Alat irigasi tipe sprinkler berjalan untuk rumah kaca, dirancang oleh, Teguh Wikan Widodo, bersama 4 orang lainnya, dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian.

Keunggulan alat irigasi tipe sprinkler berjalan tersebut adalah sifatnya yang fleksibel karena dapat diatur tinggi-rendahnya, sehingga bisa disesuaikan dengan tinggi tanaman. Aplikasi air untuk irigasi menjadi lebih efisien.

5. Perangkat Uji Cepat Tanah Kering (PUTK).

Alat pengukur, serta cairan formula kimia, untuk menentukan status hara, P, K, bahan organik, pH, dan kebutuhan kapur pada lahan kering, merupakan bagian dari perangkat uji cepat tanah kering (PUTK).

Teknologi ini memungkinkan penyuluh lapangan, atau kelompok tani, untuk menganalisis unsur-unsur yang terdapat pada lahan kering. Sehingga berdasarkan analisis tersebut, mereka dapat membuat rekomendasi, pemupukan untuk padi gogo, jagung, dan kedelai pada tanah kering. Alat yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanah, ini dikemas dengan praktis, mudah dibawa, dan dapat diisi ulang (refill). (*/Adv/Do’a¬†Emak)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *