9 Juli Sejarah Geger Cilegon, Mahasiswa Dorong Adanya Museum

BUDAYA CILEGON

CILEGON – Sejarah merupakan bagian yang tak terpisahkan bagi sebuah bangsa maupun daerah.

Cilegon, kota yang sekarang menjadi pusat industri padat modal terutama baja, sehingga mendapat julukan Kota Baja, juga sebenarnya memiliki sejarah heroik perjuangan dalam mengusir penjajah. Namun hal ini terkesan kurang diperhatikan oleh pemerintah, sehingga banyak generasi muda yang tidak mengetahui nilai-nilai luhur dari para pendahulu Kota Cilegon yang patut diteladani.

Hal ini yang menjadi perhatian serius dan bahan kajian dari mahasiswa Kota Cilegon dari berbagai latar belakang keilmuan. Dalam sebuah diskusi, mereka mengkritisi soal identitas sejarah Cilegon yang makin luput dari perhatian.

Seperti yang diungkapkan Yusuf (20), ia melempar soal makin dilupakannya tokoh pahlawan menjadi identitas sejarah dan budaya yang bisa dilihat dan dibanggakan oleh masyarakat Cilegon.

“Dulu Cilegon sebagai kota santri. Dari Cilegon lahir lah pahlawan Ki Wasyid, Ki Arsyad Thowil, Ki Syam’un dan banyak lagi. Tokoh-tokoh sejarah ini, jadi spirit yang harusnya diteladani oleh generasi masa kini,” ujar Mahasiswa Sekolah Tinggi Analis Kimia (STAK) Cilegon, kepada faktabanten.co.id pada Senin, (9/7/2018).

Begitu juga yang diutarakan oleh Umun Fadilah (21). Ia mengkritisi dengan tidak adanya museum di Kota Cilegon

Mahasiswa ini juga sangat menyayangkan pihak-pihak tertentu yang kerap menggunakan jargon Geger Cilegon yang sebenarnya peristiwa sejarah itu, sebagai isu untuk kepentingan politik. Hal ini juga disebabkan karena Pemkot Cilegon yang tidak berusaha merawat peristiwa sakral bersejarah tersebut, menjadi peringatan bersama masyarakat untuk menghormati para pendahulunya.

Umun menyebutkan literasi sejarah Cilegon itu terbatas, sekarang yang banyak menjadi bahan rujukan dari buku Sartono Kartodirjo tentang Pemberontakan Petani Banten 1888.

“Harus ada museum yang bisa menjadi sarana edukasi ke masyarakat dan generasi muda, saya juga merasa prihatin dengan adanya kelompok tertentu menggunakan isu Geger Cilegon untuk kepentingan politik golongannya,” ujar aktivis Kartini Cilegon ini.

Diketahui, tanggal 9 Juli 1888 merupakan momen bersejarah Geger Cilegon, dimana para ulama dan masyarakat Cilegon bersatu melawan penjajah Belanda dalam peperangan berdarah. (*/Doa-Emak)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *