Banyak Kegiatan Selama Ramadhan di Masjid Agung Cilegon, Pintu Terbuka untuk Pejalan Kaki

CILEGON

CILEGON – Mesjid Agung Kota Cilegon setiap tahunnya mengadakan Bazar sebagai salah satu sentra kegiatan yang berkaitan dengan Ramadhan. Bazar itu salah satu diantara kegiatan yang digelar oleh DKM Masjid Agung Nurul Ikhlas Cilegon, selama bulan Ramadhan ini.

Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat membeli kebutuhan untuk mengisi hari-hari selama menjalankan ibadah puasa. Seperti yang diungkapkan salah satu pengurus DKM, Agus Rahmat, saat ditemui wartawan Fakta Banten, Senin (21/5/2018).

Agus Rahmat menyampaikan hal tersebut untuk mengklarifikasi terkait pemberitaan yang menyebutkan ada pungutan kepada pedagang di sekitar Masjid Agung Cilegon. Agus mengakui bahwa biaya yang dikenakan kepada pedagang tersebut merupakan kebijakan DKM, dimana pendapatannya untuk menanggulangi biaya kegiatan selama Ramadhan.

“Kegiatan di bulan Ramadhan cukup banyak, seperti shalat tarawih berjamaah, kemudian kultum, Tilawatil Qur’an, kuliah subuh, kuliah dzuhur, kemudian kami mengadakan pesantren kilat (Sanlat), kemudian ta’jil, Bazar Ramadhan agar memberikan kemudahan kepada masyarakat yang ingin berbelanja husunya untuk kebutuhan Ramadhan,” ungkapnya.

Agus mengaku bahwa biaya sewa tempat jualan di sekitar Masjid Agung ini, telah disepakati dengan para pedagang yang menempati lapak tersebut.

“Bahwa itu bahasanya bukan pungutan, kalau pungutan itu kita mengambil tidak resmi, sedangkan kalau ini kita ada kwitansi, artinya kita bisa mempertanggungjawabkan, jadi untuk di stand-stand berapa, dan untuk semua pendanaan itu dipergunakan untuk sewa tenda selama satu bulan dan memback-up kegiatan-kegiatan keagamaan selama bulan Ramadhan,” jelas Agus.

Sementara berkaitan dengan pengembokan pintu pagar Masjid Agung, Agus menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan karena alasan keamanan.

“Kenapa harus kami amankan karena untuk penjagaan Masjid Agung saat ini hanya ada satu orang, ketika ada mobil dan motor sedangkan tidak ada penjagaan, kalau hilang bagaimana,” papar Agus, seraya menjelaskan bahwa sebelumnya pernah terjadi pengalaman ada kendaraan yang hilang di pelataran Masjid Agung.

“Kita masih mendasarkan pada satu pengalaman, pernah ada yang kehilangan motor, akhirnya harus mengganti. Ini semata-mata untuk menjaga keamanan saja,” tegasnya.

Sedangkan perihal Masjid yang tertutup, Agus membantahnya, dan menegaskan bahwa Masjid selama ini terbuka 24 jam.

“Pintu untuk orang masuk itu kan ada 3, jadi selama ini orang bisa masuk untuk pejalan kaki, bukan pengendara bermotor. Tapi kalau memang masyarakat menginginkan (pintu pagar) dibuka, kita tidak ada persoalan. Tetapi kita akan tulis kalau di jam sekian, kita tidak bertanggungjawab jika ada kehilangan,” pungkasnya.

Sementara, Ismatullah, pengurus DKM Masjid Agung Cilegon lainnya menambahkan, untuk kegiatan Mikran itu pihaknya sangat senang bahkan siap untuk memfasilitasi jika ada masyarakat yang melakukannya untuk menghidupkan malam Ramadhan.

“Kami dari pengurus Masjid Agung ikut senang kalau ada Mikran, pengajian di sini. Kalau perlu kami akan memfasilitasi untuk masyarakat yang mau Mikran di Masjid Agung,” pungkasnya. (*/Asep-Tolet)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *