Desa Bulakan Jadi Kawasan Terpadu Pertanian Jagung Terbesar di Kabupaten Lebak

LEBAK

LEBAK – Dianggap telah berhasil melakukan penanaman jagung hingga menghasilkan panen terbesar, Pemerintah Kabupaten Lebak meminta agar Desa Bulakan, Kecamatan Gunung Kancana, bisa dijadikan sebagai kawasan terpadu penghasil tanaman jagung.

“Kepada Perhutani, Pemerintah RI, dan Pemerintah Provinsi Banten saya meminta agar Desa Bulakan dapat menjadi sebagai kawasan terpadu penanaman jagung dengan berkelanjutan,” kata Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya dalam sambutannya pada acara Gerakan Panen Jagung dan Launching Pengiriman Perdana Hasil Panen Desa Bulakan kepada perusahaan Pokhpan, Rabu (26/7/2017).

Menurut Iti, tahun 2017 ini rencananya akan dilakukan panen jagung sebanyak 35 Ton, meskipun dalam realisasinya masih terkendala oleh fasilitas pendukung seperti alat panen dan kebutuhan pendukung lainnya.

“Kita juga meminta kepada pihak Pemerintah Pusat untuk peningkatan fasilitas pertanian di Kabupaten Lebak, agar bidang pertanian bisa secara cepat dapat menyukseskan capaian target tanam,” jelasnya.

Dikatakan Iti, jika Desa Bulakan ini bisa dijadikan kawasan terpadu yang berkelanjutan, tentunya ini akan dapat menekan beberapa faktor negatif yang ada di Kabupaten Lebak, seperti menekan angka pengangguran, hingga dapat meminimalisir terjadinya tindak kejahatan, selain itu dapat juga mengurangi warga Kabupaten Lebak yang menjadi TKI di luar negeri.

“Tentu saja masyarakat akan sangat terbantu dari sisi ekonominya, intinya Kabupaten Lebak siap menyukseskan Swasembada Pangan Nasional,” pungkas Iti.

Sementara itu, Kementerian Pertanian mengapresiasi atas dukungan lembaga terkait, seperti TNI, Polri dan semua jajaran terkait, untuk menyukseskan program swasembada jagung di Provinsi Banten.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Ir. Bambang mengatakan, pada tahun 2017 pemerintah pusat sangat memperhatikan sektor pertanian, hal itu bertujuan untuk memelihara tanaman pertanian, tanaman perkebunan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

“Kementerian atau lembaga yang lainnya boleh jadi ada pengurangan anggaran, akan tetapi Kementerian Pertanian alhamdulillah Presiden pun sangat memberikan perhatian yang tinggi terhadap masyarakat pertanian, perkebunan dengan menambahkan alokasi anggaran pada APBN tahun 2017. Khusus untuk perkebunan saja ada Rp 600 miliar, oleh karena itu, kepada pemerintah daerah agar mengusulkan traktor, pompa air supaya berkembang lagi dan juga bisa dipersiapkan untuk menanam komoditas perkebunan kelapa, jagung dan banyak tanaman perkebunan kehutanan yang sangat memungkinkan untuk diintegrasikan dengan jagung dan kedelai,” katanya.

Ditambahkan Bambang, suksesnya program swasembada jagung, bisa diukur dari berkurangnya pasokan impor.

Secara nasional, komoditas jagung pada tahun 2016 sudah mencapai 23,6 juta Ton dan pada akhir tahun 2017 diperkirakan bisa mencapai 24,5 ton. Diharapkan Indonesia bisa menjadi exportir jagung terbesar pada tahun 2020.

Selain itu, Gubernur Banten Wahidin Halim menyampaikan bahwa pemerintah pusat harus membantu para petani dalam penyaluran atau pemasaran jagung paska panen.

Wahidin Halim juga berpesan agar Kementerian Pertanian bersungguh-sungguh dan berkesinambungan dalam menyukseskan swasembada jagung yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Lebak sendiri sangat optimis akan menjadi penyumbang atas tercapainya sasaran upsus produksi jagung nasional yang telah ditetapkan sebesar 30.544.728 Ton. (ADV)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *