Di Balik Operasi Penyusupan Tentara Israel ke Jalur Gaza

INTERNASIONAL

GAZA – Aksi penyusupan yang dilakukan oleh Israel di Jalur Gaza telah memicu gelombang ketegangan baru. Aksi saling serang pun terjadi antara Israel dan Hamas yang didukung sekutunya Jihad Islam. Kendati telah dimediasi Mesir, benih-benih pertempuran dapat sewaktu-waktu pecah. Karena persoalan utama yang menjadi sumber pertikaian belum teratasi.

Sejumlah pertanyaan muncul, mengapa Israel menyusup ke Gaza di tengah situasi memanas ini? Mengapa Israel membunuh Komandan Hamas di Khan Younis?

Menurut seorang mantan pejabat intelijen Israel yang mengetahui informasi tersebut, tujuan dari misi ini adalah pengamatan, bukan pembunuhan. Misi semacam ini, pada umumnya bertujuan untuk memasang alat mata-mata dan diminimkan terjadi kontak senjata.

Juru bicara militer Israel Letnan Kolonel Jonathan Conricus mengonfirmasi, misi tersebut bukan untuk membunuh pemimpin Hamas. Aksi ini adalah misi rutin untuk memitigasi ancaman dari luar yang disebut Israel sebagai organisasi teroris.

“Tujuan operasi ini bukan untuk menculik atau membunuh pemimpin Hamas,” ujar Conricus seperti dilansir New York Times.

Ia tak menjelaskan mengapa operasi itu berubah menjadi bentrokan. Namun, menurutnya, bila suatu waktu pasukan Israel menemui masalah, maka mereka akan bertindak secara profesional dan dengan cepat mempertahankan diri.

“Pasukan akan menarik diri secara profesional dan memastikan semua personel dapat balik ke Israel dengan aman, tanpa ada yang tertinggal,” ujarnya.

Koresponden BBC Tom Bateman mengatakan, mantan jenderal Israel menyebut insiden ini terjadi karena ada kesalahan dalam menjalankan misi intelijen.

Namun seorang pejabat Hamas menilai kekerasan bermula ketika sebuah mobil yang lewat milik pasukan keamanan Israel menembaki milisi bersenjata di Gaza. Serangan ini menewaskan salah seorang komandan Hamas. Orang-orang bersenjata Hamas mengejar mobil itu saat menuju kembali ke perbatasan Israel.

Para saksi mengatakan selama pengejaran tersebut pesawat Israel menembakkan lebih dari 40 rudal di daerah tempat insiden itu terjadi.

Versi lain menyebut, pasukan Israel sudah diawasi oleh kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Hamas setelah memasuki tiga kilometer ke Gaza. Hal ini kemudian memicu konflik bersenjata yang mengakibatkan satu warga Palestina syahid dan tentara Israel tewas.

Pascainsiden tersebut, Hamas melepaskan roketnya ke wilayah yang diduduki Israel. Sebaliknya Israel juga meluncurkan rudal, salah satunya mengarah ke gedung saluran televisi pro-Hamas. Setidaknya tujuh warga Palestina tewas, dan 25 lainnya terluka.

Kasus Khashoggi

Ada versi lain yang beredar terkait ketegangan baru-baru ini di Jalur Gaza. Versi itu mengaitkan nama Putra Mahkota Saudi Pangeran Muhammad bin Salman (MBS). Pangeran dilaporkan telah berusaha membujuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk memulai konflik dengan Hamas di Gaza.

Menurut sumber di Arab Saudi yang mengatakan kepada Middle East Eye, hal itu merupakan bagian dari rencana untuk mengalihkan perhatian dunia dari kasus pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi.

Konflik terbaru di Gaza diduga merupakan skenario darurat yang dibentuk oleh sebuah satuan tugas Saudi untuk menutup tuduhan-tuduhan Turki yang ditujukan kepada Arab Saudi terkait kematian Khashoggi.

Sumber mengatakan, satuan tugas itu, yang terdiri dari pejabat kerajaan, kementerian luar negeri, kementerian pertahanan, dan dinas intelijen Saudi, bertugas memberi arahan kepada MBS setiap enam jam.

Satuan tugas itu mengatakan kepada MBS bahwa perang di Gaza akan mengalihkan perhatian Trump dan memfokuskan kembali perhatian Washington pada peran Arab Saudi dalam memperkuat kepentingan strategis Israel.

Kelompok itu juga menyarankan MBS agar segera menetralisir Turki dengan segala cara, termasuk dengan menyuap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan tawaran pembelian senjata Turki. Namun laporan ini belum bisa dikonfirmasi secara independen.

Pangeran MBS telah membantah terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. Ia pun berjanji akan menyeret para pelaku pembunuhan ke pengadilan.

Dalam sebuah komentar yang disampaikan dalam konferensi Future Investment Initiative bulan lalu, MBS mengatakan kasus pembunuhan Khashoggi telah dimanfaatkan untuk mendorong perselisihan antara Arab Saudi dan Turki.

“Itu tidak akan terjadi selama ada seorang raja yang disebut Raja Salman bin Abdulaziz dan seorang putra mahkota bernama Mohammed bin Salman di Arab Saudi,” ujar MBS saat itu.

Beberapa rekomendasi lain dari satuan tugas itu juga diketahui oleh salah satu orang terdekat MBS, Turki Aldakhil, manajer umum saluran berita Al Arabiya. Dia mengungkapkan lebih dari 30 langkah potensial akan diambil Riyadh jika Washington memberlakukan sanksi.

Dia mengatakan kerajaan Saudi mampu menggandakan tiga kali lipat harga minyak, menawarkan Rusia pangkalan militer di utara negara itu, dan beralih ke Rusia dan Cina sebagai pemasok senjata utamanya. Berbicara kepada BBC awal tahun ini, Netanyahu mengatakan Israel dan beberapa negara Arab sedang mengalami proses normalisasi subterraneran.

Menurut sumber-sumber Middle East Eye, langkah-langkah lain yang direkomendasikan oleh satuan tugas adalah menunjukkan kepada Trump bahwa Arab Saudi tidak bergantung pada Washington. Arab Saudi akan mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengunjungi Riyadh. (*/Republika)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *