Dihadiri Tokoh Al-Khairiyah, GMNI Cilegon Gelar Syukuran Dies Natalis dan Dialog Kebangsaan

AL KHAIRIYAH CILEGON

CILEGON – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Cilegon menggelar syukuran dalam acara Dies Natalis GMNI ke-64, yang bertempat di Aula DPRD Kota Cilegon, Minggu (1/4/2018) kemarin.

Terdapat tiga kegiatan sekaligus dalam acara tersebut. Selain syukuran Dies Natalis GMNI ke 64, juga dilaksanakan Pelantikan DPK GMNI STIE Al-Khairiyah dan Dialog Kebangsaan yang mengambil tema ‘Menyulam Kebangsaan, Pancasila sebagai Bintang Penuntun Pemersatu Bangsa’.

Sebagai pembicara, hadir tokoh Al-Khairiyah yang juga alumni GMNI yakni Ustadz Alwiyan Qosyid Sam’un, dan juga aktivis Kota Cilegon, Supriyadi.

Diketahui, dalam catatan sejarahnya GMNI lahir pada tanggal 23 Maret 1954, hasil fusi atau peleburan dari 3 Organisasi Kemahasiswaan terbesar saat itu, yang memiliki kesamaan azas yakni Marhaenisme ajaran Bung Karno, ketiga organisasi tersebut adalah Gerakan Mahasiswa Marhaenis (GMM) yang berpusat di Jogjakarta, Gerakan Mahasiswa Merdeka yang berpusat di Surabaya, dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI) yang berpusat di Jakarta. Atas restu dan petunjuk dari Bung Karno selaku Presiden Pertama Republik Indonesia kala itu, maka ketiga organisasi kemahasiswaan tersebut bersepakat untuk melebur menjadi satu kesatuan yang utuh dan menamakan diri Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Sementara itu, Ketua DPC GMNI Kota Cilegon, Syaihul Ihsan mengatakan, dalam melihat realitas perjalanan bangsa tidak terlepas dari peran mahasiswa khususnya GMNI dengan tetap berdialektika terhadap perubahan dan perkembangan zaman maka sebagai organisasi mahasiswa tentunya sikap kritis, intelektualitas, profesionalisme yang diikuti semangat kebangsaan akan terus kita kembangkan dengan terus melakukan upaya peningkatan kualitatif dan kuantitatif khususnya terhadap kader-kader GMNI Kota Cilegon.

“Kita tetap akan berjuang untuk lestarikan api perjuangan Bung Karno dengan mengajak seluruh elemen masyarakat di Kota Cilegon untuk senantiasa memahami dan menghayati dalam implementasi Pancasila di tengah-tengah arus globalisasi di Kota Cilegon dan membiasakan diri untuk menggunakan Pancasila sebagai ‘bintang penuntun’ dalam menyelesaikan masalah bangsa di tengah-tengah arus globalisasi ini,” katanya.

Lebih lanjut Syaihul menambahkan, Pembasisan Pancasila bukanlah sekedar transfer of knowledge, melainkan harus merupakan usaha raksasa untuk membangun kembali etos kebangsaan yang kian terkikis, tentunya GMNI terus konsisten dalam ideologi Pancasila dalam usaha membangun karakter kader.

“GMNI yang memiliki basis pada tingkatan mahasiswa dengan tradisi intelektual dan gerakan dengan semboyan filosofis pejuang pemikir – pemikir pejuang tetap konsisten dalam rel nya yakni berjuang bersama rakyat menuju kemenangan Marhaen dan kejayaan Indonesia,” tutupnya. (*/Ilung)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *