Dinas LH Belum Mau Pastikan Status Pencemaran Sungai Ciujung

SERANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang mengaku akan memberikan sanksi tegas terhadap perusahaan yang terbukti melakukan pencemaran dengan membuang limbah di
Sungai Ciujung.

Diketahui, selama ini warga Kampung Tengkurak, Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, kembali mengeluhkan kondisi Sungai Ciujung menghitam dan berbau.

Masyarakat sekitar sudah tak bisa mandi, mencuci baju di sungai, bahkan ikan-ikan pun sudah tidak nampak lagi ada di muara.

Baca Juga : Bupati Serang Ngaku “Bosan” dengan Permasalahan Limbah di Sungai Ciujung

Berkaitan dengan hal tersebut Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah mengaku bahwa ia sudah mengeluarkan peraturan dan protapnya dalam hal penanganan limbah.

“Aturanya apa yang sudah dilakukan itu teknis, jadi LH rutin mengontrol industri bagaimana cara membuang limbah mereka,” kata Ratu Tatu saat ditemui di Makam Pahlawan Ciceri, Jumat pagi (11/8/2017).

Sementara dijelaskan Kabid Pengendalian Dampak Lingkungan DLH Kabupaten Serang, Nani Nuraeni, terkait adanya tudingan pencemaran sungai harus dibuktikan melalui uji laboratorium, seperti mengambil sampel sejauh mana kadar pencemaran air sungai yang tercemar, dan bisa dengan melihat ada unsur apa saja yang mengakibatkan sungai menjadi hitam dan berbau.

Meski membenarkan penceramah sungai kerap terjadi, namun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang mengaku tidak mau gegabah menunjuk industri yang telah sengaja mencemari Sungai Ciujung.

“Pada dasarnya menghitam dan berbau bukan hanya dari hasil buangan limbah industri, melainkan bisa dihasilkan karena sungai alami pendangkalan. Kemudian musim kemarau pun mempengaruhi tercemarnya air pada sungai tersebut,” ujar Nani saat ditemui di kantor DLH, Jumat (11/8/2017).

Neni juga mengaku DLH akan memastikan pencemaran, dengan melakukan pemantauan ke lapangan.

“Kalau memang perusahaan melakukannya, kami panggil untuk arahan dan pembinaan kepada perusahaan. Apakah ada kebocoran atau apa. Pada prinsipnya itu tugas kami di LH, karena kan sungai itu memang digunakan sebagian masyarakat untuk keperluan sehari-hari,” imbuhnya. (*)