Gempita Banten Dukung Kampanye Keong Sawah Sebagai “Pengganti” Daging

FAKTA BANTEN – Beragam tanggapan pro dan kontra, kini mencuat pasca pernyataan Menteri Pertanian RI, Amran Sulaeman, yang mengajak rakyat Indonesia mengkonsumsi Keong Sewah untuk mendapatkan protein tinggi pengganti daging yang harganya kini tengah tinggi.

Keong Sawah pun kini menjadi populer kembali, dan seakan rakyat Indonesia diingatkan kembali dengan makanan alami yang menjadi ciri khas wilayah pedesaan dan rakyat di daerah dengan pertanian yang subur.

Keong Sawah seperti diungkapkan Menteri Amran, memiliki protein yang tinggi, dan memang bukan merupakan makanan baru bagi rakyat Indonesia. Beberapa daerah justru kerap menyajikan Keong Sawah atau juga biasa disebut Tutut ini, sebagai cemilan dan lauk utama pendamping nasi.

Di saat musim hujan seperti saat ini, dan mendekati musim panen padi, Keong Sawah akan sangat mudah ditemukan. Di wilayah pedesaan dengan areal pertanian padi yang luas, Keong Sawah ini tentu sangat melimpah.

Selain untuk makanan, keberadaan Keong Sawah ini juga akan selalu diambil oleh petani dari areal sawahnya, karena dianggap juga sebagai Hama yang kerap mengganggu tanaman padi.

Sebagian orang mungkin merasa jijik untuk menyantap daging Keong Sawah yang terlihat berlendir ini. Padahal sebenarnya, daging Keong Sawah memiliki protein yang tinggi. Selain itu, dagingnya memiliki rasa manis seperti kerang. Sedangkan teksturnya yang kenyal dan berserat seperti jamur.

Koordinator Wilayah Gerakan Pemuda Tani (Gempita) Provinsi Banten, Nasrullah, menegaskan bahwa Keong Sawah adalah makanan alami yang sangat baik untuk dikonsumsi.

Gempita mengapresiasi upaya Menteri Pertanian yang telah mengajarkan rakyat untuk kembali ke makanan alami, dan pola hidup yang mencintai alam.

“Apa yang disampaikan Pak Menteri harus dimaknai sebagai tujuan yang sangat mulia, karena rakyat diingatkan bahwa pentingnya pertanian, pentingnya menjaga alam, dan makanan yang lahir dari alam adalah sehat,” ujar Nasrullah.

Gempita Banten juga mengakui bahwa komitmen Menteri Amran dalam menjaga dan menyemangati rakyat untuk melestarikan pertanian sangat luar biasa, dan selama ini telah terbukti berhasil meningkatkan produksi pertanian.

“Kami memahami apa yang disampaikan Pak Menteri juga merupakan upaya untuk melestarikan dan menjaga pertanian. Karena Keong Sawah ini tempatnya melimpah di lahan pertanian. Kalau lahan pertaniannya tergusur dan hilang, kita akan sulit mendapatkan makanan alami,” tegas pria asal Pandeglang ini.

Gempita meyakini, menu makanan alami sangat bervariasi dan lebih tidak membosankan. Selain itu juga, banyaknya pilihan makanan alami di negeri ini, menunjukkan ketahanan pangan bangsa Indonesia yang harus dijaga dan disyukuri.

“Jika rakyat bisa mengkonsumsi makanan dari alam yang sangat bervariasi ini, seperti keong sawah ini, maka tidak akan ada lagi masalah rakyat kekurangan protein karena konsumsi daging rendah. Karena ada solusi dan pilihan lain, ini juga membuat harga daging bisa turun dan lebih murah,” jelas Nasrullah.

Cara Mengkonsumsi Keong Sawah

Adapun cara memasak Keong Sawah, sebagaimana biasa dilakukan masyarakat pedesaan, bisa dilakukan cara berikut;

1. Cuci dan bersihkan siput sampai bersih dari lumpur.
2. Irisi cabai dan bawang.
3. Rebus cabai, bawang, serai, lengkuas, dan jahe yang sudah di iris, lalu tambahkan daun salam, penyedap rasa dan garam sampai mendidih.
4. Setelah direbus dan mendidih, masukkan siput yang sudah dibersihkan.
5. Aduk sebentar, lalu jika kuahnya ingin lebih kental, bisa ditambahkan santan kelapa.
6. Tunggu sampai matang, lalu angkat.

Sedangkan untuk mendapatkan rasa yang maksimal dan beragam, Kawan Fakta juga bisa menggorengnya atau bahkan menumisnya dengan tambahan sayuran, karbohidrat (seperti pasta) atau jenis daging lainnya. Daging Keong Sawah dengan masakan tumis pedas pun akan terasa nikmat dengan sensasi rasa pedas dan gurih kenyal. (*/Red)