Ini Upaya Masyarakat Menjaga Hutan di Ujung Kulon dari Kebakaran

BADAKKITA PANDEGLANG

PANDEGLANG – Kebakaran hutan menjadi satu momok bagi upaya pelestarian alam, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kebakaran, namun yang paling dominan adalah faktor kesengajaan dan kelalaian manusia.

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) sebagai salah satu kawasan pengawetan plasma nutfah di Indonesia mempunyai tanggung jawab yang besar untuk dijaga kelestariannya, termasuk dari kebakaran hutan.

Hal ini yang memaksa pengelola dalam hal ini Balai Taman Nasional Ujung Kulon untuk bekerja ekstra menjaga kawasan tersebut agar tetap lestari.

Selain pengelola, tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam di habitat alami satu-satunya badak Jawa tersebut juga ada di pundak masyarakat.

Hal ini lantaran keterbatasan petugas sehingga pengelolaan partasipatif oleh masyarakat menjadi penting dan masyarakat adalah yang paling dekat dengan kawasan.

Saat ini, dalam menjaga hutan dari ancaman kebakaran, masyarakat di sekitar TNUK telah membentuk lembaga relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) di Kecamatan Sumur.

Dalam prakteknya, MPA turut aktif membantu masyarakat dalam melakukan monitoring titik-titik potensi api (hotspot) dan kegiatan sosialisasi terhadap masyarakat.

“Kami komunitas MPA (Masyarakat Peduli Api) telah melakukan usaha penyadaran masyarakat, mengenai pentingnya menjaga api. Supaya masyarakat harus selalu hati-hati dengan api sekecil apapun. Karena api sekecil bara dari kuntung rokok saja bisa-bisa membakar hutan pada musim kemarau, jika dibuang sembarangan begitu saja di hutan,” kata Samsudin, Selasa (7/8/2018).

Komunitas MPA terdiri dari 30 orang masyarakat di sekitar TNUK, secara sukarela warga yang dibantu petugas rutin melakukan patroli dan upaya pemadaman jika terjadi kebakaran.

Jelas Samsudin sebagian besar kejadian kebakaran karena disebabkan ulah manusia, sehingga perlu diberikan pemahaman terhadap masyarakat sekitar dan luar kawasan.

“Pemahaman pada masyarakat sekitar kawasan ini sangat penting, karena jika terjadi kebakaran hutan, kemungkinannya cukup besar karena kelalaian manusia itu sendiri terhadap api. Karena kecerobohan menyalakan api dan mungkin kemudian meninggalkannya begitu saja, tanpa mematikan api terlebih dahulu, apipun menjalar hingga menimbulkan kebakaran hutan,” jelasnya.

Sementara itu, di tengah puncak musim kemarau saat ini, pihak pengelola Taman Nasional Ujung Kulon sedang bersiaga ekstra, karena musim kering seperti ini dikhawatirkan memicu terjadinya kebakaran hutan.

Dikatakan Untung, Keur Perlindungan Hutan (Linhut) BTNUK, Untung Sunarko menjelaskan peran serta masyarakat dalam menjaga hutan dari kebakaran sangat besar, selain mengadakan patroli, komunitas MPA Kecamatan Sumur ini juga melakukan upaya lain dengan membuat sekat bakar.

“Mereka dengan alat sederhana arit, pacul, blancong, mereka (masyarakat-red) membantu kami mencegah kebakaran hutan,” terang Untung.

Ke depan, jelas Untung pihaknya ingin memaksimalkan fungsi partisipatif ini dengan kembali membentuk Komando Damkar di wilayah lain.

“Mungkin dalam waktu dekat kita juga sudah minta ijin untuk membentuk pasukan damkar ini, agar semua wilayah di 3 seksi di Taman Nasional Ujung Kulon bisa terawasi,” pungkasnya. (*/Yosep)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *