Jelang Ramadhan, Risma An-Nashr Ciwandan Bina Anak-anak Tahfiz Qur’an

BUDAYA CILEGON

CILEGON – Kerumunan anak-anak begitu jelas terlihat. Warna baju putih yang mereka kenakan mendominasi di balik tenda berwarna cokelat muda berukuran lima kali dua belas meter yang berdiri tegak meneduhkan mereka.

Di sebelah Selatan, panggung dengan tinggi satu meter terpasang dengan alas berwarna hijau. Di belakangnya, terbentang banner acara Ahlan Wasahlan Syahru Romadhona dengan tema ‘Menyambut Bulan Suci Ramadhan dengan Penuh Kegembiraan Menuju Hari Kemenangan’ yang dilaksanakan oleh remaja dari Kampung Belungbang-Kubangsaron, Kelurahan Tegalratu, Ciwandan Kota Cilegon pada Senin (14/5/2018) kemarin.

Hari begitu cerah. Pagi itu, waktu menunjukan jam delapan. Pancaran sinar mentari mulai menunjang tinggi. Panitia memulai segalanya. Di kursi penerima tamu, berjejer kotak snack yang dibagikan. Dari arah Utara dan Selatan masyarakat mulai berdatangan. Wajah cerah terpancar dari mereka. Rata-rata ibu-ibu yang hendak menyaksikan anaknya tampil tahfiz qur’an.

“Selamat pagi diisi kerihin nggih buku daftar tamune bu,” ucapan penerima tamu dengan bahasa bebasan dibarengi dengan senyuman manis, mengisyaratkan pelayanan dan acara yang baik dan berlangsung khidmat.

Pembawa acara mulai mempersilahkan tamu undangan untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Bertanda, acara akan segera dimulai. Master of ceremony (MC) membuka acara dengan mengucapkan salam diringi dengan mukadimah. Setelah membuka kemudian membaca ayat suci al-qur’an, kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan.

KH. Misal Syamsudin, Ketua Yayasan Al-Itmam selaku tokoh masyarakat pagi itu menggunakan sarung, memakai piama dilapisi dengan jas berwarna cokelat hijau memberikan sambutan.

Dalam sambutannya, ia mendukung penuh acara yang digelar oleh para pemuda yang tergabung dalam Risma untuk terus mengembangkan nilai-nilai ke-Islaman di lingkungan masyarakat.

“Anak-anak dikenalkan sejak dini untuk mencintai Al-Qur’an. Kecintaan inilah yang harus dibangun. Terutama di akar rumput. Acara Tahfiz Qur’an seperti ini yang menjadi contoh supaya terus menjadi kegiatan yang baik,” katanya.

Ia mengingatkan, agar tak hanya Tahfiz yang dilakukan dalam pendidikan anak. Implementasi dari Al-Qur’an untuk kehidupan sehari-hari juga penting untuk diaplikasikan.

“Jangan sampai, ketika bikin acara ini, tp sholatnya lewat, Magribnya, Isyanya, Dzuhur, Ashar, Subuh malah terlewat,” tuturnya.

Ia berharap, ilmu-ilmu yang terkandung dalam Al-Qur’an dapat diamalkan untuk kehidupan sehari-hari.

Ahmad Matin, Ketua Risma An-Nashr mengatakan, ia bersama rekan-rekannya memiliki kepedulian terhadap generasi Islam saat ini. Moment menjelang lebaran adalah waktu yang pas.

“Anak-anak kami bina. Insyaallah tak berhenti disini. Setelah acara ini, kegiatan Tahfiz qur’an akan terus berlanjut,” tuturnya.

Waktu menunjukkan jam sepuluh siang. Seremonial acara sudah hampir selesai. Anak-anak yang duduk berbaris di kursi ditemani ibunya, mulai tak sabar untuk tampil.

Tercatat, terdapat empat puluh anak mengikuti kegiatan tahfiz. Sebelumnya, mereka mempersiapkan diri dengan bimbingan kakak-kakakny yang tergabung dalam Risma An-Nashr, usia mereka variatif mulai dari TK hingga usia SMA.

Dalam acara tersebut masyarakat cukup antusias. Hati yang bercampur menyelimuti orangtua yang anaknya hendak tampil.

“Ya Allah, deg-degan ini, takut ngebleng nggak hafal,” kata Ema Mustakim, saat anaknya hendak tampil.

Peserta Tahfiz satu persatu mulai unjuk gigi. Ada yang tampil PD, ada yang tampil ngebleng/lupa saat di panggung hingga yang kurang PD dan akhirnya menangis diatas panggung. Acara tersebut selesai sore hari.

Tausiyah Agama

Setelah selesai sholat magrib, panitia masih menyibukkan dirinya. Mempersiapkan tausiyah agama, yang rencananya akan diisi oleh Ustadz Munawir dari Cikande.

Tempat-tempat dibersihkan, sampah-sampah dikumpulkan. Kursi dirapihkan. Space waktu antara Magrib dan Isya tak terpaut jauh. Acara direncanakan berlangsung ba’da Isya.

Setelah selesai Salat Isya, panitia bergegas mengumumkan.

“Maring Ibu-ibu, bapak-bapak, sipengpuniki wenten acara tausiyah agama lan temoate ning langgat lor kubangsaron,” kata panitia terdengar dari pengeras suara.

Fatullah Hasyim, selaku Tokoh Pemuda setempat mengatakan, dalam sambutannya, bahwa praktek keagamaan di akar rumput harus terus terjaga. Budaya-budaya inilah yang harus dipertahankan.

“Seniki wenten aksi bom ning Surabaya Bapak-bapak, Ibu-ibu. Kule sengen ngaji ning riki bahwa aksi-aksi terorisme diharamkan. Jangan sampe, pecil-pecil kule niki termakan sereng ajaran-ajaran mengkoten,” katanya dalam sambutannya. (*/Cholis)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *