Ketika Rakyat Kecil Bertarung

OPINI POLITIK

*) Oleh: Mokhlas Pidono

Pilkada Kota Serang 2018 bisa dikatakan sudah di depan mata, 27 Juni 2018 menjadi titik balik perubahan di Kota Serang, minimal berubah pemimpinnya untuk 5 tahun kedepan. Sebagai warga Kota Serang saya turut bangga, ada lebih dari 2 calon yang bertarung, sehingga dana dari uang rakyat puluhan miliar tidak terbuang percuma, sebab kalau menengok Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang yang hanya ada calon tunggal, puluhan uang rakyat seperti melayang percuma untuk menyaksikan petahana berduel dengan kolom kosong.

Menariknya lagi, perhelatan Pilkada Kota Serang tak hanya menampilkan calon usungan partai politik, melainkan semakin sengit dengan munculnya calon dari jalur perseorangan yang diremehkan banyak pihak sebelumnya. Sebut saja ketika Pak Anis Fuad, pengamat politik Untirta seperti dikutip dari media radarbanten.co.id, penamerdeka.com, dan liputanbanten.co.id menyatakan bahwa calon perseorangan tidak akan sanggup mengumpulkan syarat minimal dukungan 38.700 KTP, lebih jauh beliau mengatakan bahwa kecil kemungkinan calon perseorangan dapat memenangkan Pilkada Kota Serang.

Meski begitu, minimal pernyataan pertama tentang tak akan ada calon perseorangan karena tak mungkin sanggup mengumpulkan dukungan KTP minimal sudah terbantahkan. Faktanya, satu calon atas nama Samsul Hidayat dan Rohman dengan slogan BUYA mampu melenggang melebihi syarat dukungan minimal, bisa jadi pernyataan kedua tentang sulitnya calon perseorangan menang juga terpatahkan. Pernyataan calon perseorangan tak memiliki popularitas, elektabilitas dan liketabilitasnya bisa jadi juga akan terbantahkan.

Sebatas yang saya tahu, calon perseorangan pada Pilkada Kota Serang tahun 2018 ini benar-benar berasal dari bawah, rakyat biasa yang tak punya kuasa. Bukan keturunan pengusaha, ningrat, pejabat, bangsawan, apalagi keluarga petahana. Seorang guru SMP dan dosen non ASN pada sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Serang dengan lantang menyatakan diri sebagai penantang jagoan dari partai-partai besar yang salah satunya sudah tradisi di Banten pasti keluarga dari dinasti yang hampir semua wilayah di Provinsi Banten ada dalam genggaman keluarganya.

Sudah bisa diprediksi sebelumnya, tanpa kekuasaan, tanpa dana melimpah, tanpa partai-partai besar, tentu hembusan serangan akan terasa sangat kencang bagi calon dari jalur perseorangan. Apalagi calon yang diusung hanya seorang rakyat kecil, berasal dari keluarga pendidik yang sederhana, bermula dari kampung pelosok di Walantaka sana, aroma black campaign akan sangat tercium rasanya. Sebut saja beberapa berita hoax yang disebutkan bahwa mereka hanya pemecah suara, meramaikan sebagai pemecah ombak kandidat lain. Padahal sungguh pernyataan tersebut sama sekali tak mendasar. Bagaimana tidak, mustahil seseorang mau melepaskan statusnya sebagai PNS, pekerjaan paling diburu banyak orang hanya untuk jadi pemadu sorak, pemecah ombak.

Mustahil pula rasanya, seorang rakyat kecil membohongi puluhan ribu orang yang menyerahkan KTP nya tanpa syarat, tanpa kontrak politik dengan menggadaikan harga dirinya hanya untuk memecah suara. Rasanya, jika memang itu tujuannya puluhan ribu pemilik KTP akan meminta pertanggungjawaban calon tersebut dunia akhirat. Padahal dengan tegas Samsul Hidayat menyatakan bahwa lillahita’ala tujuan dia mencalonkan dengan niat ibadah, bukan untuk uang, tapi bertekad menang.

Hal senada juga dilontarkan Rohman sebagai calon wakilnya, bahwa pencalonannya adalah karena memiliki visi yang sama, menuju perubahan Kota Serang ke arah yang lebih baik, bukan sebagai peramai semata.
Parahnya lagi, calon perseorangan ini ada selentingan tidak direstui ibunya, orang tuanya.

Padahal faktanya 1000% mereka mendukung, menengadah dan terisak disela-sela do’anya, agar anaknya bisa maju dan memenangkan kontestasi Pilkada Kota Serang ini. Fitnah akan merebak membabi buta terhadap mereka yang berasal dari rakyat kecil, dari masyarakat kelas bawah yang ingin mencoba mendobrak tradisi, memberikan pendidikan politik bagi masyarakat bahwa siapapun punya hak yang sama untuk maju dan bertarung dalam perebutan kursi kepala daerah, bukan hanya mereka para keluarga penguasa, keturunan pejabat, atau birokrat hebat yang berhak bergelut dalam arena dan kancah politik, khususnya Pilkada Kota Serang.

Maka, jika Obama berhasil duduk sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat, Jokowi menggenggam kursi RI atau banyak pemimpin lain yang mendobrak tradisi dan prediksi. Mestinya kita tetap memberi apresiasi bagi calon perseorangan dengan politik yang bersih, bersih dari intervensi, bersih dari intimidasi, maupun hoax politik yang menyesatkan. Karena pada hakikatnya, pemilih murni tak akan bisa dibeli, menggadaikan harga diri dan hati nurani, hanya untuk money. Kita lihat saja nanti. (*/Red)

***

*) Penulis adalah rakyat kecil, masyarakat Kota Serang, Calon pemilih Pilwalkot Serang 2018.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *