Ketua ILUNI UI Tertarik Isu Pemuda Adat Masuk ke Kampus

NASIONAL PENDIDIKAN

JAKARTA – Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Dr. Endang Mariani mengungkapkan pihaknya bersedia mendukung kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat adat, hal itu dikatakan saat silaturahim bersama Pengurus Nasional Barisan Pemuda Adat Nusantara (PN-BPAN) di Lotte Shopping Avenue Kuningan Jakarta Selatan, Minggu, (8/7/2018) sekira pukul 16.00 WIB.

Menurut Endang isu pemuda adat bisa masuk ke salah satu materi yang akan kita bahas. Penggunaan hak politik masyarakat adat dan partisipasi pemuda adat dalam ranah politik tentu bisa menjadi bahan kajian ilmiah bagi kalangan civitas akademika di kampus Universitas Indonesia (UI).

“Nanti kita bisa bekerjasama dengan jurusan Antropologi ataupun Pusat-pusat kajian terkait di UI. Paling tidak, issue tersebut bisa juga dibahas sebagai bahan diskusi di Policy Center, ILUNI UI,” terang Endang.

Dirinya juga menyambut baik tawaran Ketua Umum BPAN agar issue-issue masyarakat adat bisa diangkat ke lingkungan civitas akademisi untuk menjadi kajian ilmiah, menjadi pengetahuan dan juga bisa menumbuhkan kesadaran bagi civitas akademika UI terkait eksistensi masyarakat adat.

“Ke depannya bisa saja membantu memfasilitasi audiensi dengan pihak UI. ILUNI UI menyambut baik visi dan misi ketua umum BPAN,” ujar Endang.

Endang mengaku ILUNI UI sering kali mengangkat issue-issue yang sedang hangat di masyarakat. Dia mencontohkan isu yang telah diangkat dalam beberapa bulan ini ialah isu reklamasi dan wabah difteri. Dikatakan Endang dirinya bersedia membantu apabila BPAN meminta difasilitasi untuk bertemu dengan ILUNI UI dan memperkenalkan program-programnya. Sehingga apabila teman-teman dari BPAN membutuhkan akedemisi dari ILUNI UI, kami bisa memberikan referensi dalam mengimplementasikan program-program kalian.

“Saya sarankan dalam waktu dekat ini BPAN bisa mengirimkan surat surat secara resmi untuk memperkenalkan organisasi BPAN itu apa, visi dan misinya apa dan permintaan dukungan ke ILUNI UI itu apa saja. Nanti akan kita bantu memfasilitasi agar BPAN bisa audiensi resmi dengan Ketua Umum ILUNI UI beserta Badan Pengurus Harian. Sehingga issue-issue yang muncul di komunitas adat bisa terangkat di permukaan dan bisa didiskusikan bersama di Kampus,” ungkap Endang.

Endang menambahkan bahwa salah satu yang menjadi fokus saat ini ialah Issue tentang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Mungkin hal itu bisa kita kaitkan dengan penguatan sekolah adat yang sedang digagas oleh beberapa anggota BPAN di komunitas. Sehingga dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat ke depan bisa dilakukan kolaborasi antara ILUNI UI dengan BPAN.

“Kolaborasi itu bisa berupa donasi buku ke sekolah adat ataupun penyediaan tenaga yang bisa berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan, di sekolah adat dalam waktu temporer. Untuk penyediaan tenaga-tenaga pengajar temporer, tentu kami juga harus menghimbau kampus agar ke depan bisa menjadi ide untuk pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau Kuliah Lapangan. Harapannya nanti mahasiswa yang KKN atau melakukan Praktik Kerja Lapangan, bisa menjadi tenaga guru di sekolah-sekolah adat,” harapan Endang.

Berkaitan dengan sekolah adat, Endang menilai bahwa efektivitas program donasi buku ke sekolah adat itu tergantung pada pengelolaan sekolah adat itu sendiri. Dia menilai bahwa percuma saja donasi buku dilakukan apabila tidak ada SDM yang bersedia mendedikasikan dirinya untuk membimbing dan mendistribusikan isi buku-buku tersebut. Menurutnya didonasikan agar bisa dibaca dan dimanfaatkan. Kalau tidak ada orang yang bisa mengelola, tentu saja akan percuma donasi buku-buku tersebut.

“Untuk penguatan sekolah adat dan donasi buku ke sekolah adat, kami dari ILUNI UI biasanya bekerjasama dan mendapat dukungan dari Kick Andy Foundation serta tokoh publik seperti Kang Maman Suherman selaku Duta Baca dan Literasi Kemendikbud RI dan Duta Literasi ILUNI UI,” jelas Endang.

Selain itu, untuk pertemuan ke depan dirinya meminta kepada BPAN agar membawa data lengkap mengenai sekolah adat yang dikelola masyarakat. Menurut Endang dalam waktu dekat yang memungkinkan bisa dikerjakan bersama ialah pilot project Sekolah Adat di Lebak.

Untuk teknisnya akan didiskusikan lebih lanjut. Karena minggu ini, bersama Dewan Ketahanan Nasional, dirinya sedang melaksanakan saresehan nasional tentang merawat perdamaian, yang narasumber dan pesertanya berasal dari tokoh-tokoh masyarakat adat. Mereka yang diundang dalam sarasehan nasional itu berasal dari berbagai komunitas dan untuk peserta yang hadir bisa diperkirakan ada sekitar 500 orang lebih. Sebagian besar adalah tokoh adat.

“Nanti saya mintakan undangan untuk BPAN agar bisa hadir. Sampai saat ini, saya sendiri baru mengetahui bahwa di Indonesia ada organisasi BPAN. Saya melihat BPAN memiliki misi berkaitan dengan perlindungan kekayaan intelektual masyarakat adat khususnya pengetahuan tradisional yang dimiliki. Saya sepakat terkait kearifan lokal yang harus dipertahankan dan menyambut baik misi tersebut,” ungkap Endang sambil tersenyum.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Moh. Jumri menyambut baik kolaborasi yang dilakukan antara BPAN dan ILUNI UI, dirinya berharap ke depan organisasi BPAN bisa bekerja sama dengan ILUNI UI dan juga dengan UI itu sendiri.

“Harapan saya dengan adanya pertemuan ini, ke depan issue-issue masyarakat adat yang ada di setiap komunitas, daerah dan wilayah bisa dikampanyekan oleh teman-teman di UI,” tutup Jumri. (*/Cholis)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *