www.faktabanten.co.id
Suara Merdeka Rakyat Banten

Melihat Tradisi Prah-Prahan di Kampung Kosambi Cinangka Setiap 10 Muharram

0
Camat Cilegon_sulaeman

SERANG – Setiap momen Hari ‘Asyura atau tanggal 10 di bulan Muharram tahun hijriyah, warga di Kampung Kosambi 1, Deda Karang Suraga, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, ternyata punya tradisi yang unik dalam merayakannya.

Adalah tradisi Prah-Prahan atau ngeriung yang dilakukan oleh warga kampung, dimana mereka berkumpul dari mulai pagi hingga sore hari. Tidak hanya berkumpul di masjid, bahkan hingga di jalanan kampung.

Kearifan lokal yang sudah turun menurun di Kampung Kosambi ini, hingga kini masih dilestarikan oleh warga. Dan selalu semarak dalam pelaksanaannya.

Bentuknya tradisi Prah-Prahan ini, dimana sejak pagi hari para Pemuka Agama di kampung tersebut membaca ‘Syiekh Barjanji’ di masjid setempat dan berlangsung hingga sore hari. Sementara semua warga memasak berbagai jenis makanan, untuk merayakan acara puncak dengan Prah-prahan pada sore harinya.

“Prah-prahan itu semacam ngeriung lah. Warga membawa makanan yang dijejerkan dari masjid hingga ke jalan kampung, kemudian setelah semua warga baca do’a yang dipimpin kyai, dibagikan lagi. Warga dari kampung tetangga pun tadi banyak yang hadir,” jelas warga Kosambi 1, Irfan Arifin, kepada faktabanten.co.id, Selasa (10/9/2019).

oman

Menurut Irfan, tradisi Prah-Prahan ini dilakukan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rezeki yang tak terhingga kepada warga Kampung Kosambi.

“Kalau kata pak ustadz mah, ini ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Jadi Prah-nya sore antara waktu Ashar dan Maghrib, karena itu diyakini waktu yang mustajab untuk berdo’a,” terangnya.

Selain Prah-prahan ini membawa keberkahan bagi warga Kosambi, Irfan juga berharap kegiatan tersebut terus berjalan setiap tahun dan dijaga kelestariannya.

Warga meyakini bahwa tradisi ini merupakan kebaikan dan tidak bertentangan dengan aqidah Islam.

“Kita berharap ada barokah dari do’a dan kebersamaan warga di acara tradisional ini. Dan selama kegiatan warisan leluhur kami ini tidak menyimpang dari akidah kita akan terus menjaganya,” tandasnya. (*/Ilung)

Dapatkan notifikasi lansung ke perangkat Anda, Klik Aktifkan

Advert

error: www.faktabanten.co.id