Membaca Peluang Pecahnya Petahana di Pilkada Kota Tangerang 2018

Oleh : Ahmad Basori

MESKIPUN Perhelatan Pilkada Kota Tangerang masih satu tahun lagi, namun perbincangan mengenai konstalasi politiknya makin menarik untuk diulas. Pasalnya Wakil Walikota Petahana Sachrudin sudah terlihat melakukan manuver politik untuk tidak lagi bersama-sama dengan Sang Walikota Petahana Arief Rahman Wismansyah pada Pilkada 2018 mendatang.

Terpilihnya Sachrudin menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kota Tangerang, serta mendaftarnya Sachrudin dalam penjaringan calon walikota yang dibuka oleh PDIP, makin menguatkan sinyal bahwa mantan Camat Pinang ini akan siap bersaing dengan Arief sebagai calon Walikota Tangerang.

Setelah menjadi Ketua Golkar posisi Sachrudin tentu tidak lagi hanya mengambil keputusan politik hanya untuk dan atas nama individu, termasuk akan tetap menjadi wakil walikota atau maju sebagai calon Walikota Tangerang. Posisinya sebagai Ketua Golkar akan berkaitan dengan kepentingan partai yang harus dimenangkan pada Pilkada 2018.

Meskipun secara individu Sachrudin kerap menyatakan masih tetap ingin mendampingi Arief di Pilkada 2018, namun apabila Partai Golkar memutuskan untuk mengusung kadernya maju di Pilkada 2018 maka sebagai individu Sachrudin akan dikalahkan dengan keputusan partai.

Golkar sebagai partai besar di Republik ini dan juga partai penguasa sebelum Demokrat di Kota Tangerang, memiliki kepentingan untuk menjadikan kadernya menjadi orang nomor satu di Kota Tangerang.

Sebagai partai yang pernah berkuasa di Kota Tangerang, secara psikologis keinginan untuk mengembalikan kejayaan Golkar di Kota Tangerang itu masih sangat besar. Dilihat dari trendnya semenjak Pilkada langsung pertama kali di usung, Golkar selalu mengusung calon walikota bukan wakil walikota.

Pilkada 2008 Golkar mengusung Wahidin Halim, dan di Pilkada 2013 mengusung Abdul Syukur. Dari trend prilaku partai politik Golkar selalu mengusung calon pada posisi nomor satu bukan wakil, hal ini karena sejarahnya Golkar pernah menjadi partai penguasa di Tangerang. Secara psikologis keinginan untuk mengembalikan kejayaan itu sangat kuat.

Selain dari sisi partai, Sachrudin dari hasil survei yang dilakukan oleh Media Survei Indoesia (MSI) yang dirilis pada 22 Mei 2017 kemarin, Sachrudin cukup memiliki popularitas yang tinggi (51%). Angka yang cukup besar dibandingkan 19 calon kandidat yang lain di luar Arief Wismansyah (94%).

Selain itu, posisi Sachrudin hari ini sangat menguntungkan, birokrat yang memiliki pengalaman dalam posisi petahana. Dalam posisi inilah nilai tawar Sachrudin di mata partai dan masyarakat semakin tinggi.

Dengan posisi Sachrudin sebagai Ketua Partai Golkar, popularitas yang cukup tinggi, posisi saat ini sebagai petahana dan memiliki pengalaman menjadi birokrat yang baik dalam mengelola pemerintahan. Di tambah lagi dengan target politik dan pola perilaku Partai Golkar yang setiap kontestasi Pilkada selalu mengusung kadernya. Bisa diprediksi bahwa kemungkinan besar Partai Golkar akan mencalonkan kader terbaiknya untuk bertarung di Pilkada 2018 mendatang. Apakah sosok yang diusung adalah Sachrudin? (*)
*Penulis adalah Wakil Ketua Himpunan Pemuda Al-Khairiyah (HPA).