Meneliti Berhala Zaman Now

OPINI UTAMA

Oleh : Ilung (Sang Revolusioner)

FAKTA BANTEN – Setiap kali kita disuguhkan oleh kata “kebenaran”, bisa jadi dan mungkin kebanyakan dari kita berfikir pada sesuatu yang menjadi patokan. Bisa itu berbentuk Kitab Suci, Undang-undang, Peraturan, atau apapun yang sedang berlaku dan dianggap patokan normatif yang harus berposisi terlihat atau saling berhadapan, hitam-putih dan kadang kaku tanpa sela.

Namun apakah benar hal-hal yang selama ini dipresisikan hitam-putih, berhadap-hadapan, kaku, linier tersebut selalu harus menjadi referensi utama menguak “kebenaran” tanpa adanya upaya mengkontekstualkan pada fenomena sejarah dan kebudayaan secara siclikal, apalagi untuk coba mengambil sudut pandang, cara pandang, jarak pandang dan resolusi pandang untuk mendapatkan presisi kebenaran tentang suatu hal.

Sebagai masyarakat Nusantara ada hazanah berupa istilah ‘Niteni’. Secara linguistik niteni atau titen berasal dari bahasa Jawa, yang berarti ingat atau eling. Sebagai konsep filosofis dalam kata kerja sekaligus kata sifat berupa kecakapan dalam praktik yang meliputi aspek pengamatan, memperhatikan, kecermatan, atau meneliti. Dikalangan akademisi biasa menyebut istilah ini sebagai observasi.

Dengan niteni inilah biasanya orang Jawa yang menyebutnya dengan Ilmu Titen ini, digunakan tidak hanya untuk menangkap kejadian kejadian di lingkungan sekitar hanya dengan panca indera sebagai alat pengamatan, melaikan mengunakan perangkat rasa, dan kejernihan batin yang diolah terus-menurus melalui laku dan pengalaman yang rasional untuk mendapatkan pembuktian secara empiris dalam konteks persinggungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam maupun transendental.

Kemampuan alamiah manusia untuk niteni sebagai upaya merancang masa depan sudah lama menjadi tradisi manusia Nusantara ini, namun sepertinya kian kikis saja oleh pengadopsian anak cucu ‘Garuda Nusantara’ pada ilmu modern yang lebih berorientasi patokannya pada wadag fisik saja.

Padahal Ilmu Titen atau Meneliti yang jangkauannya lebih komperhensif tidak tertumpu oleh panca indera saja ini, bisa lebih mendapatkan akurasi untuk mewaspadai kejadian di sekitarnya, menghindari maupun mencegah malapetaka atau akibat buruk bagi pribadi maupun manusia dan keadaan lingkungan disekitarnya. yang salah satunya adalah menghindari manusia dari kepunahan eksistensinya. Baik ego, komunitas, entitas baik maupun makna kemanusiaanya.

Dari sejarah kita belajar bahwa kadang kala kehancuran peradaban manusia dimulai dari kehilangan konsep Rububiyahnya. Karena zaman now lebih cenderung pada berhala sebagai bagian penanding Entitas Pelindung. Alam sebagai saksi sekaligus penopang peradaban manusia kerap dihadirkan sebagai tertuduh. Sebagai contoh, ketika terjadi banjir dianggap sebagai bencana alam, padahal alam tidaklah salah_manusialah yang salah menghalangi sunatullah grafitasi air yang mengalir pada tempat rendah dan kosong. Karena esensi berhala pada ujungnya adalah pembiasan laku secara konservatif yang kemudian menutup kemungkinan hadirnya re-evaluasi dari Sang Maha Mutlaq.

Maka, sudah sepatutnya kita mengingat dan belajar dari sejarah Nabi Ibrahim, sebagai bapak Tauhid, kita diingatkan pada peristiwa penghancuran berhala secara fisik yang berupa patung-patung yang dianggap sebagai Tuhan. Dan mengingatkan serta mengajarkan kepada kita untuk kembali pada Allah SWT sebagai Tuhan yang sejati dan hanya mengabdi dan berTuhan kepada Allah bukan kepada yang selain_Nya.

Karena dalam kehidupan hari ini atau zaman now, tentu sangat berbeda dengan masa yang lampau. Dulu orang tak pernah disibukkan dengan media sosial, pencitraan, harta benda; uang banyak, perhiasan, rumah megah, mobil mewah, serta segala obsesi dan persaingan duniawi lainnya.

Meski kita sadari zaman telah berubah, zaman wis akhir. Entah kenapa saya semakin banyak melihat orang-orang yang lebih gemar pada popularitas, identitas, kekayaan materialistis serta eksistensi diri sebagai hal yang bukan asing lagi untuk dikejar-kejar.

Di dalam lagu ‘Rampak Osing’ kita diingatkan;

“Arep golek opk arep golek opo kok uber-uberan
Podo ngoyak opo podo ngoyak opo kok jegal-jegalan
Kabeh do mendem kabeh do mendem rak mari-mari
Bondo kuoso rak di gowo mati”

Semua itu tidak dibawa mati, karena titik perpindahan di dunia adalah kematian. Hal-hal bersifat sementara telah menjadi berhala. Cerita ini mungkin selalu ada di dunia dengan bentuk yang berbeda di setiap zamannya.

Apakah hari ini dengan adanya fenomena berita viral zaman now akhir-akhir ini termasuk pemberhalaan, yang entah disengaja atau tidak, di/terbentuk oleh media. Baik itu media televisi maupun media sosial. Indoktrinasi media yang membentuk cara berpikir instan untuk memperoleh kesuksesaan dan ketenaran, yang sebenarnya merupakan pembentukan berhala-berhala kecil yang tujuan akhirnya memperoleh berhala yang lebih besar yaitu uang.

Dengan demikian, Ilmu Niteni ada baiknya kita pelajari dan kita hadirkan. Kita tidak hanya berhenti pada membaca, tapi pada langkah aplikatif, yang dalam Islam sebagai sarana. Membaca apa yang diwahyukan– Iqra` bismi Rabbika–tentang kehidupan ini detik demi detik selalu berubah. “Ambir weruh tentang dutaning wong urip luruh kebenaran Sejati” tanpa harus terjebak pada palung keberhalaan. Sebab sehebat apapun berhala yang dihadirkan oleh setiap pergulatan zaman, tidak akan pernah bisa menerjemahkan kehakikian fungsinya, apalagi kepada manusia secara langgeng. “ Wa laa yastathi’una lahum nasro wa laa anfusahum yanshuruun ” (Al-A’raf: 192).

Dengan niteni atau meneliti kembali diri dan kehidupan ini, mungkin kita akan lebih mengerti karena niteni bukan sekedar mengingat-ingat. Niteni tentu lebih kompleks, karena kita harus melihat peristiwa dari berbagai dimensi baik waktu, arah, apa dan bagaimana peristiwa dengan sudut, jarak, cara, resolusi pandang dan seterusnya.

Sudah semestinya kita bisa menyambungkan antara akal dan hati untuk mencari, mencoba mengenali dan meneliti lebih dalam dengan kejernihan batin makna ‘Berhala Zaman’ sekarang ini. Karena bagaimanapun dalam hidup dan bersosial, tentu tak akan lepas dari hal-hal bersifat materi dan juga media sosialnya.

Bagaimana seharusnya, kita bermedia-sosial yang baik dan menyikapi, dengan laku hidup yang sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan semata. Sehingga menjadi bekal lebih jauh melangkah dan memantapkan kuda-kuda hidup agar siap dengan perubahan dan dinamika zaman serta selalu bersama Allah dan Rasulullah. (*)

 

*) Penulis adalah Jurnalis Fakta Banten Online

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *