Mengenal CEO Indorama Sri Prakash Lohia, Orang Terkaya Nomor 3 Indonesia

EKONOMI NASIONAL

JAKARTA – Sri Prakash Lohia kembali menjadi miliarder Indonesia ersi majalah Forbes.

Kekayaannya dari Indorama Corporation, diperkirakan mencapai USD5,3 miliar, dan membuat dia menjadi orang terkaya nomor tiga di Indonesia.

Dia dan ayahnya mendirikan Indorama, perusahaan pembuat benang pintal pada 1976. Saat ini, usahanya bukan hanya di bidang benang semata, dan telah berevolusi menjadi petrokimia, pembangkit tenaga listrik membuat berbagai produk industri, termasuk polyethylene, polypropylene dan sarung tangan medis.

Indorama pun terus melakukan investasi. Saatini, investasinya di benua Afrika diperkirakan mencapai USD2 miliar. Namun, siapa yang menyangka taipan tersebut sebelumnya adalah seorang imigran.

Hampir empat dekade lalu, seorang Sri Prakash 19 tahun pindah ke Indonesia dari India untuk membuat kehidupan baru. Meskipun sudah menjadi ketua dan direktur pengelola Indorama Corporation, salah satu poliester terbesar di dunia, dia tetap suka merendah. Indorama Corporation saat ini menghasilkan USD10 miliar yang berasal dari tekstil dan petrokimia.

Lahir di Kolkata pada 1952, Sri Prakash belajar berdagang di Universitas Delhi sebelum lulus pada 1971. Pada 1973, dia pindah ke Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Suharto. Dia dan ayahnya kemudian mendirikan Indorama Synthetics, penghasil benang pintal dengan fasilitas manufaktur di Purwakarta, Jawa Barat.

Sri Prakash mengalami masa paling sulit untuk membangun bisnisnya selama tiga sampai empat tahun. Setelah itu, perusahaan terus berkembang menjadi produsen benang terbesar di Indonesia, dari bahan baku tekstil hingga fasilitas manufaktur yang tersebar di seluruh Indonesia , Uzbekistan, dan Thailand.

Pada akhir 1980-an, Ayahnya, Manohar Lal, membagi kerajaan bisnis tersebut dengan ketiga anaknya untuk menghindari perselisihan keluarga masa depan. Adik Sri Prakash Om Prakash, dikirim ke negara asalnya India. Adiknya, Aloke, pindah ke Thailand untuk mendirikan Indorama Holdings, produsen benang wol.

Pada pertengahan 1990, Sri Prakash melakukan diversifikasi pada Indorama Synthetics dan mulai memproduksi polyethylene terephthalate (PET), yang digunakan untuk pembuatan botol plastik minuman termasuk Coke dan Pepsi. Di tahun yang sama, adiknya juga mulai membangun sebuah perusahaan PET manufaktur, Indorama Ventures, di Thailand.

Akhirnya pada 2008 mereka pun memutuskan untuk menggabungkan bisnis PET mereka, dengan Sri Prakash menjual sahamnya di dua perusahaan serat polyester dan benang dan dua perusahaan asam tereftalat murni untuk Indorama Ventures, untuk ditukar dengan saham Indorama Ventures.

Saat ini, Indorama Ventures memiliki pendapatan tahunan USD8 miliar dan merupakan produsen terbesar kedua di dunia dari botol PET. Sri Prakash kini menjadi CEO Indorama Ventures dengan kepemilikan saham 34%.

Menurutnya, selama bertahun-tahun mereka harus mengimpor poliester dari Taiwan dan mebuat mereka harus bergantung dari negera tersebut. Oleh karena itu, dia pun memutuskan untuk membangun pabrik poliester dan membeli tanaman yang ada dari semua pemain besar termasuk dari Dow Chemicals di Italia, Dupont di AS dan SK Kimia di Polandia dan Indonesia.

Memasuki periode 2006, Sri Prakash mendirikan perusahaan di Afrika yang diinvestasikan dalam industri petrokimia, dengan mengakuisisi Perusahaan petrokimia Nigeria Eleme. Saat itu perusahaan tersebut dikelola pemerintah Nigeria, National Petroleum Corporation, dan Indorama mendapatkan 225 juta. Akuisisi ini termasuk salah satu yang terbaik, lantaran Eleme telah berkinerja buruk selama bertahun-tahun namun tetap menguntungkan.

Meski begitu, dia tidak hanya berkutat dengan bisnis dan plastik. Sri Prakash juga merupakan kolektor seni yang terkenal, dan salah satu kolektor terbesar buku langka di dunia. Sri Prakash mempunyai koleksi buku edisi abad ke-16 dari The Holy Bible dan versi abad ke-18 Al-Quran.

Dia juga menjadi kolektor terbesar kedua litograf-ilustrasi di dunia, yang dicetak dari blok batu ke atas kertas. Banyak karya seni miliknya berasal dari abad ke-17. Di London, tempat tinggalnya saat ini, Lohia telh menghabiskan USD75 juta untuk merenovasi rumah berusia 243 tahun di Mayfair.

Guna memperbaiki rumah tersebut, dia memerlukan waktu lima tahun dan bantuan dari sejumlah sejarawan, desainer dan ahli seni. Karenanya, dia pun mendapatkan julukan “Maharajah dari Mayfair”. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Okezone.com

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *