Mereka Petarung, Bukan Pecundang

OPINI POLITIK SERANG

*) Oleh: Mokhlas Pidono

BAIK, tadinya saya tidak tertarik membahas ini lagi karena memang sudah di tiga kecamatan dalam kampanye pertemuan terbatas Samsul Hidayat menegaskan bahwa Demi Allah, demi Rasulullah, demi langit dan bumi bahwa ia bukan calon boneka, bentukan atau pemecah ombak. Bahkan mubahalah sekalipun sepertinya mereka siap menyanggupinya, asalkan penyebar isue ini juga jantan menunjukan dirinya. Tapi, saya tergelitik dengan status salah satu teman saya yang menulis “mereka ini petarung, bukan boneka”. Maka, saya akan menguatkan pernyataan teman saya tersebut.

Begini, dari awal kedua anak muda ini sangat percaya diri dan optimis akan kansnya maju dalam kontestasi Pilkada Kota Serang, tekad dari awal dan dorongan teman-teman seperjuangan mereka juga sama, independen, karena mereka sadar bahwa dukungan masyarakat dan ridho Allah yang bisa memenangkan mereka.

Mereka juga sadar bahwa mereka adalah rakyat biasa, bukan keluarga yang biasa berkuasa di Banten, pejabat, konglomerat, birokrat dan bangsawan. Rakyat biasa yang jengah melihat ketidakadilan dan ketidakmerataan kesejahteraan di Kota Serang.

Dari awal pencalonan, kedua anak muda pejuang ini sangat diremehkan, bahkan dicibir, para pengamat politik di Banten bahkan berganti saling mengeluarkan statement bahwa tak akan ada calon yang mampu mengumpulkan 38.700 KTP dukungan masyarakat untuk bisa maju menjadi calon, artinya lolos jadi calonpun sudah luar biasa. Faktanya memang iya, Sigit Suwitarto yang merupakan Kepala di Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Banten serta Agus Irawan Hasbulloh yang pernah maju dari jalur perseorangan pada Pilkada sebelumnya memang gagal lolos jadi calon, mereka hanya bisa mengumpulkan KTP riil sebanyak 9.000 dan 13.000 saja. Sedangkan Samsul Hidayat – Rohman mampu mengumpulkan 42 ribu KTP, melebihi syarat dukungan yang ditetapkan KPU Kota Serang. Padahal, saya juga membantu mencari KTP dukungan dan tak ada yang saya bayar, termasuk saya pun tak dibayar dengan uang, sepeserpun. Namun bayaran saya adalah semangat perubahan, agar anak muda dari rakyat biasa yang memimpin. BUYA ini mengagetkan banyak orang. Ingat, orang yang bergerak karena memperjuangkan nilai perubahan dan kesantunan akan jauh lebih kuat dan militan ketimbang orang yang bergerak karena uang, karena iming-iming jabatan. Saya, tak dibayar dengan uang, saya dibayar oleh kebanggaan dan keinginan agar Kota Serang lepas dari cengkraman sebuah dinasti yang berkuasa sejak Kota Serang dimekarkan .

Sekarang, BUYA saya lihat terus mendapat dukungan dari semua pihak, masyarakat dan warga Kota Serang yang memiliki nilai yang sama, ingin pemimpin, muda, berkualitas dengan akhlak dan budi pekerti yang baik, jauh dari indikasi korupsi, kolusi dan nepotisme. Wajar kalau semua lawan menyudutkan, mungkin mereka sebenarnya ingin mendukung, namun malu, egonya tak merestui, khawatir kalah sama anak ingusan yang katanya belum berpengalaman, nyatanya? BUYA terus memberi kejutan, atas izin Allah SWT.

Masyarakat mulai sadar bahwa inilah figur anak muda yang mereka cari, bayangkan mereka berdua rela meninggalkan zona nyaman, pekerjaan tetapnya yang mohon maaf walau sudah pensiunpun tidur dan bengongnyapun digaji, yaitu PNS. Samsul Hidayat mundur dari ASN sebagai guru SMP bersertifikasi dengan pengalaman organisasi yang banyak, sementara Rohman mundur sebagai Dosen tetap bahasa Inggris di UIN SMH Banten, almamater saya juga, padahal mereka punya istri dan banyak anak, punya keluarga.

Maknanya mereka bahkan mengorbankan kepentingan dirinya untuk bisa mengabdi dan mengubah wajah Kota Serang jauh lebih baik lagi. Maka, saya sepakat dengan status teman saya yang menyatakan, Mereka Petarung, Bukan Boneka.

Maka bagi para penyebar hoak yang menuduh BUYA boneka, saya doakan agar mendapat hidayah secepatnya bahkan menjadi partisipan, simpatisan dan relawan paling loyal menjelang pencoblosan, Aamiin.

Sampai sini faham? Bahwa mereka adalah pejuang, bukan pecundang. (*)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *