Pembangunan Gedung BPBD Cilegon “Merusak” Lapangan Sepakbola Link Periuk

CILEGON PEMERINTAHAN

CILEGON – Adanya Pembangunan Gedung Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon di Link Periuk, Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Jombang, dikeluhkan warga setempat karena dibangun persis di atas lahan lapangan sepakbola yang biasa digunakan sarana olahraga oleh pemuda setempat.

Diketahui, proyek tersebut sudah berjalan sekitar satu bulan, dengan sumber anggaran APBD Kota Cilegon Tahun 2018 sebesar Rp9 miliar lebih, yang dilaksanakan oleh kontraktor PT Nina Arta Propaganda Putri.

“Terus kita mau latihan bola dimana lagi kalau lapangannya tingga separuh begini? Apa Pemkot tidak punya lahan lain sampai mengorbankan lapangan bola untuk latihan pemuda dan anak-anak Priuk?” kata salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya, kepada faktabanten.co.id Kamis (9/8/2018) sore.

Dari pantauan langsung di lokasi, memang benar adanya, tampak lapangan sebagai harapan untuk menempa bakat-bakat pemain sepakbola itu hanya tinggal separuh saja, dengan posisi salah satu gawang berada di dalam proyek yang dipagar dengan seng tersebut.

Meski demikian, sepertinya tidak mengendurkan semangat anak-anak Link Priuk, untuk terus berlatih sepakbola. Wajah-wajah polos mereka seakan tak bergeming di tengah pembangunan yang telah mengorbankan sarana untuk melatih talenta dan skill sepakbola mereka.

“Pastinya kita nggak bisa maksimal latihannya. Kalau anak-anak latihan dengan separuh lapangan sih wajar. Lha untuk pemuda? Ini jauh dari standarisasi FIFA. Dan warga nggak bisa mengadakan lomba sepakbola di HUT RI tahun ini, dulu mah lomba bola hampir ad semua kategori termasuk buat Ibu-ibu,” ujar pemuda yang mengeluhkan dampak pembangunan di lingkungannya tersebut.

Bak jauh panggang dari api, mungkin pilihan lokasi gedung di lapangan sepakbola ini merupakan kebijakan Pemkot Cilegon yang tidak sesuai dengan maksud atau harapan masyarakat Cilegon untuk bisa berprestasinya sepakbola Cilegon.

Untuk berprestasi di kancah nasional, tentu harus lahir bibit-bibit pemain muda dari lingkungan.

Bahkan, hilangnya lapangan sepakbola akibat pembangunan dan pesatnya industri sudah banyak terjadi di Cilegon dalam beberapa tahun terakhir ini. Sehingga wajar bila kini kita jarang menemui Kompetisi Sepakbola Antar Kampung (Tarkam).

Dan tidak bisa disalahkan memang, ketika club sepakbola asal Cilegon CUFC lebih didominasi oleh pemain dari luar Cilegon, karena minimnya potensi lahirnya bibit pemain dan sulit berprestasi di kancah nasional. (*/Ilung)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *