Pengguna Medsos, ber-Mi’raj-lah

OPINI UTAMA

Oleh: Sunano

FAKTA BANTEN – urip kuwi mung mampir ngumbe, begitu nasehat orang Jawa, “hidup itu cuman singgah minum”. Cuman minuman seperti apa yang kita teguk, berbeda-beda setiap orang. Minuman paling bergizi salah satunya madu. Badan jadi sehat. Beda sekali jika kita minum air comberan tiap hari, akan mencret-mencret dan paling parah gagal ginjal terus mati.

Minuman bagi jasmani adalah minuman yang menyehatkan. Rutinlah minum air kelapa muda, dan jangan lupa berolahraga. Minuman bagi rohani, adalah banyak-banyaklah beribadah, biar semakin dekat dengan Sang Pencipta dan Maha Pemberi Petunjuk.

Minuman bagi akal, janganlah banyak mengkonsumsi informasi remeh-temeh. Tidak akan mencerdaskan. Minumlah informasi yang benar, sudah dicek dan betul kebenarannya. Banyak-banyaklah baca buku, dan baca berita hoaks saja. Apalagi cuman berita share di medsos.

Bagi sebagian orang, medsos dengan facebook, whatsapp, twitter dan youtube bisa menguntungkan, tetapi bisa menjadi petaka. Bahkan orang nomor satu di Indonesia, pernah di bully di medsos waktu kejadian final sepak bola piala presiden.

Jika kita runut kebelakang, pertarungan medsos dimulai sejak Pilpres 2014 ketika tim cyber masing-masing kandidat antara Jokowi dan Prabowo. Akumulasi penggunaan medsos dalam berpolitik memuncak saat Pilkada Jakarta 2017. Korban medsos pertama adalah Ahok, salah satu kontestan yang maju sebagai calon Gubernur Jakarta. Korban terus berlanjut, tak hanya satu, merembet pada beberapa orang yang tergabung dalam tim Saracen dan Muslim Cyber Army (MCA).

Mensikapi masalah medsos yang cukup berbahaya, Mabes Polri mengambil langkah tegas dengan membentuk Direktorat Tindak Pidana Siber untuk menangani penyebaran ujaran kebencian dan konten hoaks. Kasus terbaru menyeret Sukmawati Soekarnoputri, Rocky Gerung, bahkan Amien Rais juga dilaporkan. Ironis memang.

Hikmah Isra’ Mi’raj

Ber-mi’raj-lah akalmu, rohanimu, jasmanimu, nafsumu, dengan semua yang kamu miliki, maka kamu bisa bertemu Aku. Begitu kira-kira perintah Tuhan pada Nabi Muhammad, dalam kondisi gundah gulana, dalam masa diasingkan, dua pelindung utama, Paman Nabi, Abu Thalib dan istri tercinta Khadijah meninggal.

Apakah itu peristiwa tunggal, hanya untuk Nabi Muhammad, atau untuk umat Islam keseluruhan? Sampai sekarang sebagian besar umat Islam memperingati isra’ mi’raj sebagai peristiwa agung dan bersejarah. Dimana-mana diselenggrakan pengajian. Bahkan di Indonesia menjadi salah satu hari libur nasional.

Isra’ mi’raj adalah perjalanan Rasulullah dari Makkah ke Masjid Al-Aqsa di Palestina, dilanjutkan naik ke Sidratul Muntaha (naik ke langit tujuh). Perjalanan Rasulullah untuk menerima perintah shalat 5 waktu tiap hari bagi umat Islam. Isra’ mi’raj juga merupakan ujian bagi bangsa Quraish umumnya dan umat Islam khususnya, apakah akan mempercayai kebenaran kisah perjalanan Rasulullah. Apakah harus diferivikasi pengetahuannya atau diterima saja kebenarannya.

Konsep pengetahuan dalam Islam ada hierarkinya. Level pertama adalah jahl, pengetahuan yang belum diferivikasi kebenarannya. Itulah kenapa orang Arab disebut Jahiliyyah. Pengetahun level jahl bisa sesat dan menyesatkan. Isinya hoaks dan ujaran kebencian.

Level kedua adalah taklid. Orang yang tidak tahu dan dia tahu ia tidak tahu, maka mengikut pada orang orang yang tahu. Agar tidak salah jalan, penting sekali merujuk pada pemilik otoritarif. Sayang sekali, hari ini kita dibingungkan oleh para panutan kita juga rutin membuat hoaks. Maka banyak-banyak bershalawatlah biar dapat petunjuk.

Level ketiga adalah dzon, belum sampai pada konsep ilmu tapi masih prasangka. Dzon levelnya taklid berbasis ilmu pengetahuan walaupun masih pada kesimpulan kira-kira. Dunia politik Indonesia ini dipenuhi gossip dengan prasangka dan kira-kira. Kalau tepat menggorengnya, bisa jadi presiden. Buktinya? Sudah ada dua.

Nah baru pada level keempat adalah ‘ilm, sampai pada taraf makrifat, ada bukti obyektif dan menenangkan jiwa (kepuasan jiwa). Presiden RI sekarang adalah Jokowi, itu jelas. Tapi banyak yang jiwanya tidak puas? Itu lain persoalan.

Isra’ sebagai konsep perjalanan, tidak mungkin kita memperoleh level ‘ilm hanya berdiam diri. Kita harus beranjak maju, berpengetahuan, kita harus melakukan isra’ dengan mengunjungi sumber ilmu; tokoh otoritatif yang dipercaya: ulama, kyai, pemerintah dan para ahli; dan perpustakaan (buku).

Jika kita sudah melakukan isra’ kita bisa melakukan mi’raj, naik level dari jahl ke ‘ilm. Kalau sekarang masih kecebong, buru-burulah jadi kodok, biar bermanfaat membasmi nyamuk nakal. Apalagi Jakarta, nyamuknya banyak banget.

Coba bandingkan luasnya cakrawala yang bisa dilihat antara orang hanya naik di lantai 1 dengan lantai 7. Kalua kita hanya diam di lantai 1, pandangan kita hanya dalam kotak, terhalang tembok dan rimbun pepohonan. Naiklah ke lantai 7, mi’raj-lah ke lantai 7, nikmati luasnya Jakarta.

Lakukanlah mi’raj dengan membaca buku, berdialog dengan banyaknya pengatahuan, dengan beragam informasi. Jangan dibatasi, pelajarilah tiap bangsa yang hilang dan berkemajuan, pemimpin yang akhirnya tenggelam dalam masalah dan berjaya. Pemikiran tiap tokoh, dan berbagai pandangan tiap kelompok. Biar kita tidak terjebak dalam kelompok jahiliyyah, pengetahuan tanpa konfirmasi. Tidak terjebak dalam ujaran kebencian dan hoaks. (*)

Soenano adalah seorang Penulis Buku “Muslim Tionghoa di Yogyakarta”

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *