Peserta Lulus Seleksi Beasiswa ke Libanon, Akan Ikuti Kelas Khusus di Al-Khairiyah

CILEGON – Yayasan Pendidikan Islam Al-Khariyah Citangkil bekerjasama dengan Global University Libanon, telah melangsungkan seleksi tahap pertama untuk santri yang ikut serta pada program beasiswa ke Libanon.

Pada seleksi atau tes tersebut peserta diujikan dengan materi tes Bahasa Arab serta pengetahuan umum tentang Agama Islam. Kedua materi ini sangat diwajibkan bagi calon peserta yang akan mendapatkan beasiswa ke Libanon.

Dikatakan Ketua Yayasan Al-Khariyah Citangkil, Ali Mujahidin, seleksi penjaringan untuk beasiswa ke Global University Libanon harus menyaring yang terbaik. Maka dari itu menurutnya, santri diwajibkan fasih berbahasa Arab dan pengetahuan umum ilmu agama Islam.

“Seleksi penjaringan untuk Global University saat ini baru tahapan awal, setelah tahapan ini selesai dan sudah ada yang dinyatakan lulus pada tahap ini, selanjutnya akan diberikan bimbingan,” ungkap pria yang akrab disapa Haji Mumu ini kepada faktabanten.co.id di sela-sela seleksi, Kamis (28/12/2017).

Lebih lanjut, Haji Mumu mengatakan, pihaknya akan lebih memproritaskan calon penerima beasiswa dari kalangan santri, meskipun ia menegaskan bahwa program beasiswa ke Libanon ini terbuka untuk umum.

Ditegaskan Haji Mumu, ini adalah kesempatan emas yang seharusnya tidak disia-siakan oleh santri, karenanya ia juga berharap nantinya para santri yang sukses mengenyam pendidikan di Global University Libanon, setelah itu bisa mengabdi di Al-Khairiyah.

Haji Mumu juga berpesan agar para santri penerima beasiswa ini menjaga dan bisa merawat dengan baik kerjasama Al-Khariyah dengan Global University Libanon ini.

“Kita jalin hubungan kerjasama dengan luar negeri, karena Al-Khariyah juga punya track record baik ya, hubungan dan mengirim santri kita ke Al-Azhar Kairo,” paparnya.

Peserta seleksi Al-Khairiyah untuk beasiswa Global University, Libanon /dok

Sementara itu, Ketua Panitia Penjaringan Beasiswa Global University Libanon, Ustadz Aswab As’ad BA-Hum mengatakan, materi seleksi yang telah diselenggarakan di Al-Khariyah, semuanya menggunakan Bahasa Arab.

“Tes yang kita gunakan sesuai dengan yang diminta oleh Kampus Global sendiri yaitu dengan menggunakan bahasa Arab. Tapi rupaya tadi ada sebagian peserta, soalnya saja katanya tidak paham, menjawabnya saja dengan bahasa Indonesia,” ujar Ustadz Aswab.

“Padahal kita ingin mengetahui seberapa jauh tingkat kemampuan di level berapa atau di tingkat berapa setiap peserta yang ikut tes ini,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga mengatakan dari 100 peserta yang mengikuti seleksi pada tahap ini tidak semua yang lolos, karena menurutnya Indonesia hanya diberikan kuota 30 peserta beasiswa untuk melangsungkan kuliah di Global University Libanon.

“Setiap tahunya kita mendapatkan jatah untuk tahun kemarin dan tahun sebelumnya sebanyak 30, tetapi kita juga tidak bisa memenuhi kuota, karena standar kemampuan berbahasa Arab yang dititik beratkan disana, ini kemampuan utama seorang mahasiswa bisa sekolah di sana (Libanon-red),” jelasnya.

Ustadz Aswab menjelaskan lebih lanjut terkait kelanjutan dari tahapan tes saat ini, serta kelanjutannya untuk peserta yang lolos seleksi dalam mengikuti beasiswa Global University Libanon ini.

Ditegaskan, santri yang lolos tes saat ini akan dilakukan penggembelengan terlebih dahulu, agar sesuai dengan standar dari Global University Lbanon, dengan mengikuti kelas khusus dan kelas tersebut akan dilaksanakan di kampus Al-Khariyah.

“Natinya harus mengulang ke tahun pertama, menghidari hal seperti itu, makanya kita melakukan program karantina (Kelas Khusus-red) untuk penguatan. Kita sudah jalankan di beberapa tempat, kita punya istilahnya seperti pondok pesantren atau pusat kajian,” paparnya.

“Di beberapa tempat di Jawa Tengah ada kemudian di Pare Jawa Timur, Bandung, Aceh, Riau, Rokan Hilir, dan insyaAllah kita melakukan seleksi kali ini di Banten juga akan buka kelas khusus itu di pesantren atau kampus Al-Khariyah,” tutupnya. (*/Temon)