Petasan dari Budaya China; Digunakan untuk Ngusir Setan

Oleh: Alwi Shahab

Pergantian tahun 2017 ke 2018 tinggal menghitung jam. Pada malam pergantian tahun, masyarakat di sejumlah daerah sudah menyiapkan diri menyambut datangkan tahun baru. Pada malam itu seperti sudah menjadi tradisi jika petasan menjadi barang wajib untuk merayakan pergantian tahun. Padahal, merayakan malam pergantian tahun tidak ada dalam ajaran Islam, terlebih merayakan dengan hal yang berlebihan seperti membakar petasan.

Padahal, sudah bertahun-tahun aparat keamanan telah mengeluarkan larangan bermain petasan, khususnya selama bulan Ramadhan, karena membahayakan keselamatan. Berbagai razia dilakukan di daerah-daerah terhadap para pedagang maupun pembuatnya. Kenyataan suara petasan yang memekakkan telinga hingga ini masih terdengar di kampung-kampung.

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa petasan berasal dari daratan Cina. Dibawa oleh para imigran Cina yang datang ke Nusantara terutama pada abad ke-19. Di negeri asalnya sendiri petasan digunakan untuk mengusir, setidaknya menakuti-nakuti setan, iblis, memedi, dan roh jahat.

Hal itu berkaitan dengan kepercayaan masyarakatnya. Ketika terjadi wabah penyakit di Cina, banyak korban berjatuhan. Menurut kepercayaan mereka, wabah penyakit itu disebabkan oleh setan dan iblis tengah murka pada ulah manusia. Untuk mengusirnya, penduduk pun memukul-mukul benda yang bersuara nyaring seperti seng, tambur dan gendang, serta menyulut petasan.

Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), orang Cina telah menggunakan obat mesiu untuk membuat petasan dan kembang api, yang ditembakkan ke udara dan membuat pola-pola indah warna-warni. Maka, petasan digunakan untuk meramaikan pesta-pesta, seperti tahun baru Imlek, capgomeh dan pehcun (pesta perahu) serta berbagai pesta rakyat lainnya. Petasan yang dibuat dengan cara mencampurkan bahan belerang (sulfur) dan nitrat.

Kalau sampai 1970-an petasan impor berasal dari Jepang, kini dari RR Cina. Negeri yang berpenduduk 1,2 miliar jiwa ini dapat menghasilkan 300 jenis kembang api (yang dalam bahasa Mandarin disebut janghwe). Pada Olimpiade 2008 lalu, dunia dibuat kagum dengan pesta kembang api pada saat pembukaan dan penutupan Olimpiade di Beijing.

Kedatangan para imigran Cina ke Nusantara umumnya tanpa disertai dengan istri. Di sini mereka mengawini wanita pribumi, khususnya para budak yang saat itu dijualbelikan. Bahkan, di Kali Besar, Jakarta Kota, ada tempat jual beli (lelang) budak. Meskipun anak-anak mereka berdarah campuran, tetap mempertahankan tradisi nenek moyangnya.

Imigran Cina bertambah banyak dengan dimulainya era kapal uap menjelang akhir abad ke-19. Petasan pun dijadikan salah satu atraksi oleh mereka untuk merayakan pesta rakyat. Pesta capgomeh (malam ke-14 Imlek) menjadi begitu meriah dengan atraksi petasan, hingga banyak ditonton dan dinikmati bukan hanya oleh warga Cina, tapi juga pribumi, Arab, dan Belanda.

Dulu di Jakarta terdapat Gang Petasan, di sekitar Jalan Hayam Wuruk, masuk ke sebuah lorong. Kalau kini di tempat pembuatan petasan sering terjadi kebakaran akibat peledakan, tempo dulu tidak pernah terjadi peristiwa semacam itu.

Kembang api atau janghwee dulu juga memiliki pabrik di Jakarta. Di Angke, Jakarta Barat, ada Jl Teratai yang dulu bernama Jl Janghwee, karena ada pabrik kembang apinya. Entah siapa dan kapan memulainya, orang Betawi pun ikut-ikutan. Tapi, mereka memasang petasan bukan untuk menakut-nakuti setan, melainkan dijadikan alat komunikasi antarkampung. Maklum, ketika itu belum ada telepon, atau ponsel seperti sekarang.

Ketika terjadi revolusi fisik 1945, penduduk Jakarta yang sekarang berjumlah 14 juta jiwa, hanya setengah juta jiwa. Karena Belanda membangun kota ini hanya untuk 800 ribu jiwa. Jalan Thamrinb dan Jl Sudirman masih tanah dan bila hujan sulit dilalui. Kawasan Kuningan masih menjadi tempat peternakan sapi dan penjual susu. Demikian juga Buncit dan Kemang.

Pasar Minggu dan Ragunan masih sawah dan kebun buah-buahan. Jadi, yang disebut kampung saat itu masih sunyi senyap. Paling-paling hanya ada enam atau tujuh rumah. Satu atau dua kilometer dari sebuah kampung baru terdapat kampung lainnya. Begitu seterusnya.

Kalau ada satu kampung ingin mengadakan hajatan seperti menikahkan anak atau khitanan, bahkan menunaikan ibadah haji, undangan dengan membunyikan petasan paling efektif.Kampung yang mendengar rentetan bunyi petasan akan
bertanya-tanya, “Dari mane tuh datangnye petasan? kemudian ada yang memberi tahu, oh, si Anu ingin
menikahkan anaknya”. Atau, “Si Anu ngundang ingin pegi haji”.

Ketika petasan dipasang di Kemang, maka penduduk di Kampung Mampang yang berdekatan akan bertanya-tanya ada apa tuh orang Kemang masang petasan. “Oh si Anu mengundang ingin nikahkan anaknya”.

Waktu itu, banyaknya petasan menunjukkan status sosial seseorang. Makin banyak memasang petasan ia akan makin mendapat pujian. “Oh, si Anu yang mau pegi haji petasannya sampai segerobak,” kata orang yang mendengarnya. Sampai sekarang, di kampung-kampung pinggiran Jakarta apabila besan datang ke rumah calon mempelai wanita akan dibunyikan berenteng-renteng petasan.

Kala itu juga ada petasan impor dan petasan lokal. Petasan impor dari Jepang dan petasan lokal dari Parung, Kabupaten Bogor. Petasan impor bukan saja harganya lebih mahal,suaranya lebih keras dan nyaring. Sedangkan petasan Parung tidak begitu keras, dan tidak menjadi kebanggaan. Ah petasan kampung, ejekan yang sering dikemukakan kala itu.

Menurut tokoh Betawi, H Irwan Syafi’ie (80 tahun), dulu petasan bagi orang Betawi juga untuk membangunkan warga saat makan sahur. Warga Betawi juga memasang petasan saat Idul Fitri, dikaitkan dengan kagembiraan setelah berpuasa selama sebulan. (*/Republika.co.id)