PII Saling Membimbing: Fitrah yang Perlu Dihidupkan

OPINI PENDIDIKAN

Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia

Deby Rosselinni *)

FAKTA BANTEN – Banyak orang berkata, pelajar saat ini jauh sekali dari arti pelajar yang sesungguhnya. Sosok yang telah disiapkan untuk menjadi generasi penerus bangsa, yang diharapkan membawa perubahan di tanah air, yang diunggulkan dengan segala macam jenjang pendidikan dan ajang prestasi. Setiap orang tua, guru, dan rakyat Indonesia memiliki harapan dan mimpi yang hanya bisa diwujudkan oleh para generasi muda pelajar.

Namun tak jauh berbeda dari tahun sebelumnya; berita tentang guru yang masuk penjara karena berusaha tegas kepada muridnya, kali ini semua masyarakat dibuat benar-benar kecewa, lumpuh tak berdaya dan tak bisa percaya lagi pada pelajar. Berita tentang dekadensi moral dan krisis identitas pelajar menjadi pembahasan utama mengenai generasi milenial saat ini, yang paling hangat diperbincangakan di televisi, surat kabar, jejaring sosial di internet, bahkan dari rumah ke rumah masyarakat adalah berita tentang guru yang meninggal di Jawa Timur sebab murid yang tidak terima akan perlakuan tegas sang guru dan berakhir tragis.

Ini mengejutkan! Dalam masing-masing nurani, kita pasti mengatakan bahwa hal ini sudah keterlaluan. Hati kita memberontak. Kita ingin mengubah pelajar saat ini menjadi lebih baik, yakni pelajar yang hidup dalam kebaikan, belajar untuk kebaikan, manusiawi dan beradab, bukan hanya sekadar cerdas mendapatkan banyak gelar tetapi juga dapat peduli dan empati terhadap sesama, saling menolong, bukan saling bermusuhan. Ya, singkatnya berakhlakul karimah. Menjadi pribadi yang berbudi pekerti. Begitu.

Namun yang konyol sekali, kita masih terus bertanya-tanya apa penyebab dari semua hal menakutkan ini? Bagaimana solusinya? Kemana fungsi pendidikan karakter yang dicanangkan kurikulum 2013? Mau dibawa kemana dunia pendidikan kita saat ini? Atau, kita malah mulai saling menuduh dan menyalahkan?

Rasanya akal sulit menerima kenyataan bahwa dunia pendidikan yang kita harapkan sebagai agen perubahan sosial untuk membangun masyarakat yang lebih baik telah kotor, tercemar, jauh dari ruh pendidikan yang sebenarnya.

Setidaknya, yang kita harapkan, pendidikan bisa melahirkan para pelajar yang mampu melunasi hutang-hutang Indonesia yang menggunung, memberantas korupsi, tidak mengulangi sejarah ketika ada diktator yang tega membungkam suara mayoritas warganya dengan berondongan peluru setelah berkuasa puluhan tahun, pelajar yang mampu menghilangkan kekerasan dalam rumah tangga, tidak memuja benda mati dan menginjak manusia seperti yang terjadi pada zaman Jahiliyah.

Nurani kita tentu berteriak lantang bahwa ini suatu kekeliruan yang harus segera dibenahi. Kita ingin manusia hidup dalam harmoni dan damai. Terciptanya masyarakat sejahtera. Begitu pula Rasulullah Saw yang ketika kecil, hidup dan dibesarkan di tengah masyarakat yang sangat bejat—gemar menumpahkan darah. Menjual belikan manusia tak ubahnya seperti barang dagangan. Menindas, meniadakan hak apapun, termasuk hak untuk hidup—berangkat dari keprihatinan yang mendalam inilah Rasulullah Saw menguatkan tekadnya untuk menjadi seorang lentera bagi kegelapan.

Perasaan ini yang mendorong beliau berdakwah, mengajak orang masuk ke jalan keselamatan dengan memberikan petunjuk dan jalan hidup yang benar.
Yang telah kita lupakan bersama, bahwa setiap manusia adalah pembimbing. Bukan hanya itu, rupanya banyak di antara kita yang telah membuang jauh fitrah kemanusiaan yang sejak awal kita miliki, yaitu fitrah membimbing orang lain. Dunia ini (oke jangan jauh-jauh), di Indonesia butuh orang yang mau melakukan perbaikan dengan cara membimbing manusia yang lain, bukan sekadar manusia yang ahli mengeksploitasi kehidupan. Untuk itu, tak cukup sekadar ilmu. Bekal mendasar yang harus dimiliki adalah keselamatan fitrahnya. Tanpa bekal ini perbaikan apapun mustahil terjadi.

Contoh nyata adalah penduduk dunia saat ini. Tingkat pendidikan mayoritas penduduk dunia saat ini lebih maju dibanding manusia seabad lalu. Tetapi kerusakan sosial maupun ekosistem yang ditimbulkan manusia saat ini jauh lebih besar dari sebelumnya (cobalah tengok kanan-kiri: lingkungan sekitar di Indonesia, Palestina, Myanmar, dan masih banyak). Negara yang dikenal maju ternyata adalah penghisap kekayaan negara lain. Mereka jelas mengesampingkan fitrah persaudaraan dan kebersamaan.

Kita harus membimbing diri sendiri dan orang lain; sebagai orang tua, guru, sahabat, rekan kerja, saudara se-iman, dan manusia.

Sebagian pelajar, salah satunya Pelajar Islam Indonesia (PII), yang sadar dan insyaf akan tanggung jawab memerlukan dukungan dan dorongan masyarakat serta semua pihak untuk tidak mencabut kepercayaan, menyambut cita-cita PII “Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia” dengan sukacita dan penuh kasih sayang.

Para kader Pelajar Islam Indonesia (PII), yang memang jujur menyayangi diri, keluarga, sahabat, dan umat manusia telah paham bahwa tidak ada jalan lain kecuali menyiapkan segala upaya agar fitrah manusia terjaga. Dengan gigih dan tulus kader Pelajar Islam Indonesia (PII) akan membuktikan dengan mengadakan training, ta’lim dan kursus rutin untuk para generasi muda pelajar bahwa tujuan mencapai kesempurnaan bukan hanya omong kosong belaka.

Seperti yang diharapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof. Dr. Muhadjir Effendi dalam sambutannya pada pelantikan PB PII bahwa beliau meminta agar PII bekerja keras dalam membangun pelajar melalui gerakan pengkaderan.
“Kembalilah PII ke sekolah lagi dan kembalikan PII menjadi organisasi kader untuk membangun bangsa bersama-sama.” Katanya.

Penulis buku fenomenal Api Sejarah, Prof. Ahmad Masur Suryanegara pun menyemangati para kader PII Januari lalu pada acara Leadership Advance Training (LAT) PII di Lembang, Bandung supaya terus berjuang, karena ini waktunya para pelajar menggoreskan tinta emasnya pada sejarah.

Mereka adalah para alumni Pelajar Islam Indonesia (PII), yang saat ini masih terus berusaha membimbing diri sendiri dan orang lain dengan caranya masing-masing. Catur Bakti Pelajar Islam Indonesia (PII) yang meliputi: Pelajar Islam Indonesia (PII) sebagai tempat berlatih, wahana penghantar sukses studi, wadah pembentukan pribadi muslim, dan alat perjuangan. Dengan senang hati menerima dan saling membimbing para generasi muda pelajar untuk terus memperbaiki menjadi lebih baik lagi dan berusaha menemukan keberartian.

“Jangan biarkan fitrah membimbing pada diri kita hilang tanpa kita sadari, berganti dengan dorongan untuk menzalimi diri sendiri dan orang lain.” Ucap Angga Wijaya, S.T, selaku ketua umum Pengurus Wilayah (PW) PII Banten Periode 2016-2018 yang merasa gelisah dan khawatir akan generasi pelajar.

Pelajar Islam Indonesia merupakan organisasi pelajar yang bangkit atas dasar kegelisahan dan kekhawatiran pada kondisi pelajar di awal kemerdekaan. Pelajar sebagai generasi yang dipersiapkan untuk menggerakkan pembangunan bangsa justru disibukkan dengan dikotomi pondok pesantren dan sekolah umum. Berawal dari peduli akan kegelisahan inilah terbentuk suatu kekuatan besar pelajar islam di Indonesia yang menjadi salah satu rantai perjuangan ummat Islam hingga saat ini. Terhitung sudah 70 tahun lebih PII berperan aktif dalam perjuangan ummat islam di Indonesia.

“Pengadaan training Pelajar Islam Indonesia (PII) selalu dilakukan ketika liburan semester agar tidak mengganggu waktu sekolah sebab selama tujuh hari tujuh malam para pelajar dibimbing dan diasah jiwa kepemimpinannya. Sedangkan kursus dan ta’lim selalu rutin dilakukan ketika hari libur dan pulang sekolah di masing-masing daerah. Proses ini bertujuan memformat potensi ruhani, intelektual dan keterampilan pelajar menuju kematangan fitrah. Proses ini begitu penting, sama seperti orangtua mengasuh anaknya.” jelas ketua umum.

Apa yang dilakukan Pelajar Islam Indonesia (PII) adalah salah satu upaya untuk saling mengingatkan kepada kebaikan dengan membersihkan hati, terutama dari dosa yang membayangi manusia sepanjang sejarah peradaban, yaitu dekadensi moral, yang saat ini sedang melanda generasa muda pelajar. Sebelum menjadi sesuatu yang lebih mengerikan lagi layaknya monster, Pelajar Islam Indonesia (PII) akan terus berusaha dengan baik, dan juga butuh kerja sama dari masing-masing diri pelajar dan masyarakat untuk mewujudkan cita bersama.

Dalam Falsafah Gerakan PII, dijelaskan bahwa kader pada hakekatnya adalah seseorang yang dipersiapkan untuk mengemban tugas masa depan dengan kemampuan, kualitas dan kualifikasi tertentu. Kader merupakan kekuatan inti organisasi dan ummat Islam untuk menjadi pelopor, penggerak dan penjaga misi perjuangan guna mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

Pelajar Islam Indonesia (PII) tahu bahwa harus melakukan hal yang sama seperti Rasulullah Saw jika ingin betul-betul menjadi penerus misi para Nabi, yakni terus memelihara kebaikan pada diri sendiri, orang lain, baik sesama manusia maupun lingkungannya dengan niat ridho Allah Swt.

Dengan Profil Ideal Kader: Muslim, Cendekia, Pemimpin. Pelajar Islam Indonesia (PII) akan mengembalikan arti pelajar yang sesungguhnya. Berprestasi dan berakhlakul karimah. Nantikan kedatangan Pelajar Islam Indonesia (PII) di sekolah-sekolah, lingkungan dan dimanapun teman-teman berada. Sebab PII ada di seluruh Indonesia, sebab PII hadir untuk semuanya, siapapun itu, tenang saja.~(*)

*) Deby Rosselinni, gadis sederhana yang suka membaca dan gemar menulis. Hidup dalam imajinasi, dunia dongeng, tertumpuk buku-buku tua, mengatakan bahwa sedikit kegilaan itu perlu. Tinggal di Cilegon Banten. Kelahiran 06 Desember 1997. Mahasiswi di Universitas Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kegembiraan terbesarnya adalah terus menulis. Beberapa karyanya sudah dimuat media lokal Banten. Karya yang diterbitkan, The Mistery Checkered Floor and Gods (kumpulan cerpen tunggal) 2012; Simfoni Cinta Khanzah (sebuah novel tunggal) 2014; Bukan Cerita Cinderella: Gilalova 6 (kumpulan cerpen bersama) 2015; Kurajut Cintamu lagi (kumpulan cerpen bersama) 2015; Ibu (kumpulan cerpen bersama) 2015; Aidhil Fitri (antologi puisi bersama tiga negara, terbit di Malaysia) 2016; Antologi Cerpen Yang Pertama Yang Kukenang 2018. Kesibukkannya menjadi guru les privat anak-anak, dan pengurus di GAKSA (Gabungan Komunitas Sastra Asean), berorganisasi di Pelajar Islam Indonesia (PII) Banten. Impiannya membuat Taman Rosselinni, yang telah didesainnya sejak masa kanak-kanak; sebuah perpustakaan besar, galeri lukisan, taman bermain anak, kebun mawar dan segala hal yang disukainya. Debyrosselinni6@gmail.com. Fb: Deby Rosselinni

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *