Polres Lebak Dinilai Lamban Dalam Mengusut Kematian Mahasiswi La Tansa Mashiro

LEBAK – Puluhan masyarakat yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Peduli Ayu, melakukan Long March dari rumah kediaman almarhumah Ayu Octaviani menuju Alun-alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kamis (10/8/2017).

Aksi Long March tersebut menuntut agar kasus kematian Ayu Octaviani yang diproses oleh pihak kepolisian segera bisa dituntaskan dan adanya titik terang.

Pasalnya, hampir enam bulan berlalu pasca kematian Ayu, tim khusus yang dibentuk Polres Lebak dengan dipimpin Kasatreskrim AKP Zamrul Aini, ternyata belum mampu mendapatkan petunjuk apapun yang mengarah kepada pelaku pembunuhan.

Agustian, salah satu aktivis Aliansi Masyarakat Peduli Ayu, menuntut agar pihak Polres Lebak segera mengungkap kematian Ayu Octaviani, salah satu mahasiswi La Tansa Mashiro jurusan akademi kebidanan (Akbid) yang meninggal di Sungai Ciujung dan diduga merupakan korban pembunuhan.

Kasus tersebut diharapkan segera ada titik terang.

“Kami atas nama Aliansi Masyarakat Peduli Ayu, sangat kecewa terhadap kinerja kepolisian yang sangat lambat dalam menangani kasus kematian Ayu,” ujar Agustian kepada wartawan.

Merasa tak puas akan kinerja Polres Lebak, para aktivis akan mengadukan persoalan ini ke Mabes Polri.

“Kami pun akan kembali berorasi ke Mabes Polri dan akan membawa kasus ini langsung ke Kapolri,” tambah Agustian.

Aliansi Masyarakat Peduli Ayu ini berjanji akan berangkat ke Mabes Polri di Jakarta pada hari Jumat (25/8/2017) pekan depan.

Diketahui, Ayu Octaviani, mahasiswi Akbid La Tansa Mashiro ditemukan tewas, pada Jumat 24 Maret 2017 lalu. Jasadnya ditemukan warga mengapung di Sungai Ciujung, Kampung Baturambang, Desa/Kecamatan Cibadak, Lebak.

Sebelum tewas, putri pertama pasangan suami istri Yuyun dan Amas, warga Kampung Jaura, Desa Rangkasbitung Timur ini diketahui keluar dari lingkungan kampus pada Rabu (22/3/2017) malam. Kepada petugas jaga, Ayu mengaku hendak menuju ATM yang berada di gerbang kampus. Namun, beredar kabar jika Ayu bertemu dengan seseorang di depan ruang ATM tersebut.

Semula, pihak kepolisian menduga Ayu tewas karena bunuh diri. Meski belum bisa memastikan karena menunggu hasil autopsi, polisi menyebut jika depresi yang dialami Ayu menjadi faktor dara cantik tersebut nekat mengakhiri hidupnya dengan cara terjun ke sungai. Namun, hal itu tak diyakini oleh pihak keluarga. Kedua orangtua Ayu tak yakin jika putrinya tewas karena bunuh diri dan meminta kepolisian mengungkap kematian Ayu.

Kepada orangtuanya, sebelum meninggal Ayu memang sempat bercerita ihwal handphone yang disita oleh ibu asrama. Ayu menceritakan hal itu kepada orangtuanya saat ia pulang ke rumah pada Sabtu (18/3/2017).

Untuk mengusut kasus tersebut,, Polres Lebak telah membentuk Tim Khusus yang dipimpin Kasatreskrim AKP Zamrul Aini. Setelah memastikan hasil visum Ayu, menunjukkan ada bekas tekanan di bagian leher. Bekas tekanan pada tenggorokan inilah yang memunculkan dugaan Ayu bukan tewas karena bunuh diri. Polisi menyebut ada indikasi pembunuhan dalam kasus tersebut. Pasalnya, nafas Ayu berhenti sebelum Ayu tenggelam. (*)