Ramadhan Tiba, Sudah Siapkah Kita Menyambutnya?

OPINI UTAMA

FAKTA BANTEN – Marhaban ya Ramadhan! Puasa Ramadhan 1439 Hijriyah akan kita mulai jalani besok hari Kamis, (17/5/2018). Dimana Kementerian Agama RI telah menetapkan 1 Ramadhan tahun ini akan jatuh pada hari tersebut, atau pada penanggalan hijriyah pergantian tanggal dimulai pada waktu Maghrib, dan ba’da Isya malam ini kita sudah mulai Sholat Tarawih.

Namun, sudah seberapa jauh persiapan kita umat Islam menyambut tamu agung bulan suci ini? Sudahkah pada bulan puasa Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya kita memaknai puasa sebagai sebetul-betulnya ibadah, bukan sekadar menahan lapar belaka?

Karena setiap kita yang sudah akil baligh diperintah oleh Allah SWT untuk menunaikan ibadah mahdloh wajibnya puasa Ramadhan yang tertuang dalam surat al-Baqarah: 183, berikut ini:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍْ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻛَﻤَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Puasa Ramadhan Menuju Ilmu “Makan Sejati”

Di dalam buku Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai, karya Emha Ainun Nadjib atau yang lebih akrab disapa Caknun ini, menjelaskan, ibadah puasa Ramadhan adalah jalan menuju ilmu “makan sejati”. Puasa membantu kita memberi jarak antara makan dengan nafsu. Puasa pula yang akan membuat kita mengerti bahwa ilmu makan sebetulnya hanya perlu dipenuhi oleh sesuatu yang dapat meredakan lapar. Tidak kurang dan tidak lebih hanya itu saja.

Atau mungkin kita pernah dengar ungkapan “makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”. Ilmu ini datang dari baginda Rasulullah SAW dan diketahui oleh kita semua sebagai umatnya sebagai ilmu makan yang turun-menurun. Menurut apa yang sampaikan Cak Nun, ilmu makan ini punya makna yang sangat dalam dan dapat membantu kita memahami arti puasa.

Ketika berpuasa kita menahan lapar setelah sahur dan sangat menantikan waktu berbuka puasa tiba. Sepanjang puasa itu, kita membayangkan banyak makanan untuk berbuka di magrib, nanti. Kolak, es campur, rujak bonteng, rendang, soto, ayam, bakso, sate, semua terasa menggiurkan untuk disantap. Padahal ternyata, ketika sampai di rumah untuk berbuka, teh manis saja terasa sudah lebih dari cukup, bukan?

Pertanyaannya adalah mengapa di hari lain yang tanpa puasa, sarapan apa pun selain nasi membuat kita seakan belum makan apa-apa? Sebetulnya apa yang kita beri makan selama ini: perut atau nafsu?

Jika pertanyaannya seperti itu, sebenarnya jawabannya pun sederhana. Kita hanya perlu memahami ilmu “makan sejati” yang sederhana ini: “makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”. Jika kita cermat memahami makan sebagai pemenuh kebutuhan perut, maka makanan apa pun harusnya terasa cukup. Jika es teh manis cukup, mengapa memaksakan harus ada nasi padang sebagai dalih pelengkap?

Mungkin sudah bukan rahasia umum lagi, khususnya bagi kalangan menengah keatas, ketika sore menjelang berbuka, betapa meja makan kita selalu dipenuhi oleh beragam olahan makanan dan minuman. Sehingga wajar kiranya jika beberapa harga di pasaran merangkak naik, yang berarti puasa yang secara logika kebutuhan konsumsi berkurang, tapi justru malah bertambah.

Disadari atau tidak, dalam menjalani bulan puasa Ramadhan selama ini, kita lebih sering menuruti nafsu alih-alih memenuhi kebutuhan. Kita dituntut oleh berbagai hal di luar diri yang mengharuskan kita untuk mencapai “lebih” dan bukan sekadar “cukup”.

“Alangkah sedih menyaksikan betapa dunia ini diisi oleh banyak manusia yang tak henti-hentinya makan, padahal ia tak lapar, serta oleh banyak manusia yang tidak habis-habisnya makan padahal ia sudah amat kekenyangan.”

Maka marilah di momentum yang sudah dekat ini, jadikan ibadah puasa sebagai tempat berlatih untuk mencapai ilmu “makan sejati”. Menjadikan bulan Ramadhan sebagai tempat untuk menguji keberhasilan kita untuk selalu merasa “cukup” dan tidak menuntut “lebih”.

Puasa Kontemplasi dan Bermesraan dengan Allah

Ibadah puasa adalah saat-saat memelihara keintiman hubungan dengan Allah SWT. Puasa itu terkadang bersifat sangat pribadi.Kesempurnaan puasa hanya diketahui oleh Allah dan pribadi yang menjalankannya.

Dan puasa Ramadhan pada dasarnya adalah sebuah kontemplasi tahunan, wadah bagi manusia untuk merenung. Puasa adalah kesempatan “pacaran” dengan Allah, berdua. Maka dari itu, ketika Idul fitri pun hanya satu malam yang merupakan puncak dari kesunyian dengan Allah.

Namun, mestinya kita merasa heran dengan cara perayaan bulan puasa masyarakat modern belakangan yang justru cenderung lebih sering atau dekat dengan keramaian. Padahal puasa itu sangat pribadi untuk setiap manusia dan Tuhan. Puasa adalah kontemplasi.

Sebulan penuh Ramadhan mendatangi kita, Allah SWT sudah menciptakan suatu siklus hidup yang dalam setahun diberikan waktu khusus bagi manusia untuk bertafakur, beritikaf,dan berkontemplasi.

Di dalam bulan Ramadhan pula Allah SWT menurunkan Rahmat_Nya di sepuluh hari pertama, serta Maghfirah dan Itskum minannar di sepuluh hari kedua dan ketiga.

Selain itu, masih banyak keutamaan dan keistimewaan bulan yang agung ini, diantaranya adalah pahala yang dilipat gandakan di dalam amalan-amalan ibadah. Namun saya kurang tertarik untuk mengulas bab fiqih tentang pahala yang berlipat-lipat di dalam bulan nan suci ini. Saya khawatir para pembaca akan lebih tendensi kepada (pamrih) pahala, dan mengurangi kadar ketulusan ibadah kita kepada Allah SWT.

Selamat datang bulan Ramadhan, Selamat menunaikan ibadah puasa, Selamat meningkatkan ketaqwaan! (*)

Penulis: Ilung (Sang Revolusioner)

 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *