Refleksi 71 Tahun Berdirinya Pelajar Islam Indonesia

BANTEN BUDAYA CILEGON EKONOMI HEADLINE INTERNASIONAL KESEHATAN KOMUNITAS LEBAK NASIONAL OPINI PANDEGLANG PENDIDIKAN SERANG TANGERANG TEKNOLOGI UTAMA

P E R J A L A N A N

Sebuah Legenda Kapal yang “Makin Tua”

Oleh: Sunano

“Banyak yang menyangka, bahwa kemuliaan semata-mata terjadi karena turunan atau silsilah manusia, kekayaan atau kemegahan mereka. Pendapat mereka keliru! Kemuliaan tidak terjadi kecuali dengan pengabdian bagi umat manusia, atau dengan keikhlasan berkorban jiwa dan harta. Entah turunan pembesar atau bukan, sama saja. Tiada berbeda, apakah dia jutawan raja harta ataukah tuan tanah, ataupun seorang fakir yang papa”. (Musthafa Luthfi al-Manfaluthy)

Dalam suatu waktu, saat melakukan perjalanan mengarungi samudra luas, sang sufi, berkesempatan satu kapal dengan seorang pengusaha. Ini merupakan kali pertama pejabat itu naik perahu. Saat kapal berada di tengah samudera tiba-tiba cuaca berubah, langit menghitam menyelimuti sejauh mata memandang. Dan laut yang tadinya tenang, berubah menjadi buas, bergejolak, bergelombang dan mengombang-ambingkan kapal. Tiba-tiba ombak datang menggoncang, menghantam dan menghempas, hingga membuat perahu itu oleng. Terlihat di sana-sini kapal mulai bocor, air dengan cepat masuk dan menggenangi beberapa bagian kapal.

Dengan santai sang sufi duduk menatap aliran air yang perlahan naik, sedangkan sang pengusaha sudah sangat khawatir. Terlintas di benak sang pengusaha akan harta, anak istri dan kebun-kebun yang luas. Serta merta sang pengusaha menjadi takut akan kematian, terbayang kengerian yang amat sangat. Dengan putus asa pejabat itu menggapai tangan sang sufi, maka memohonlah sang pengusaha kepada sang sufi akan kekhawatirannya:

“wahai sang sufi yang baik hati, aku merasa ajalku hampir tiba, sudikah menolong saudaramu ini?”

“apa gerangan yang bisa saya bantu”

“Saat ini tiba-tiba saya menjadi sangat khawatir dan ngeri melihat kenyataan, lakukanlah sesuatu yang bisa menbuat saya bisa tenang, carilah upaya untuk membuatku tidak takut.”
“Upaya?” Tanya sang sufi,

“Oh.. ya.. ya ada jalan.. tetapi sepertinya anda tidak akan senang dan setuju dengan usul saya” lakukanlah apapun sekehendak hatimu, saya pasti menyetujuinya”

“Baiklah kalau begitu. Pertama-tama terjunlah ke laut” kata sang sufi itu seraya mendorong pejabat itu dan melemparkannya ke lautan

Di lautan yang sedang mengganas pejabat itu perlahan timbul tenggelam dan nafasnya mulai terputus-putus. Setelah didiamkan cukup lama oleh sang sufi, ditariklah kembali sang pengusaha ke atas perahu. Diperhatikan sikap sang pengusaha yang perlahan berubah dan lebih tenang.

“Wahai saudaraku, bagaimana kondisimu saat ini? Merasa lebih tenang?” Tanya sang sufi

“Terima kasih, jauh lebih baik sekarang, aku merasa lebih tenang dan aman…” jawab si pejabat

“Yah….” kata sang sufi dengan senang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “…memang begitu, mereka yang tidak pernah berjalan kaki tidak pernah menghargai jasa seekor kuda. Mereka yang tidak pernah tenggelam di laut tidak pernah menghargai jasa sebuah perahu. Seorang pejabat yang selalu makan enak-enak tidak dapat memahami rasa lapar….”

Dalam perjalanan seorang manusia sering kali menemukan saat-saat, kondisi yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Muncullah sumpah serapah, berbagai cacian dan berbagai ucapan yang bermaksud mencela dan tidak sepakat dengan kenyataan yang saat itu dihadapi. Seperti orang yang tidak pernah mengalami lelah dan payahnya jalan kaki tidak pernah bisa menghargai jasa seekor kuda, sepeda onthel. Orang yang tidak pernah lapar tidak akan menghargai sesuap nasi. Mereka yang tidak pernah terseret arus dan tenggelam di laut tidak pernah menghargai makna sebuah perahu. Seorang pejabat yang selalu makan enak-enak tidak dapat memahami rasa lapar.

Keangkuhan dan kecongkakan, kekhawatiran dan kegelisahan sering kali muncul oleh tidak adanya pengalaman yang dimiliki seseorang akan kenyataan yang sedang dihadapi. Hal tersebut semakin menjadi-jadi ketika ternyata pengalaman yang selama ini didapat ternyata tidak juga memberikan solusi kongkrit.

Ketika seseorang telah berhasil menimba ilmu lewat cawan kehidupan dan menikmati samudra kenikmatan untuk melepas kedahagaan akan nilai-nilai hidup, mereka menjadi congkak atas kebehasilan yang telah dicapai. Akan tetapi ketika menemukan wujud yang berbeda dari apa yang mendasari citra diri yang awal, kemudian mereka menyepelekan, mencaci maki sumber mata air kecemerlangan.

Adanya sikap ambivalensi ini mencerminkan persoalan yang akut di tingkat kaderisasi yang selama ini mempertahankan eksistensi lembaga, sebuah jama’ah kadang kala mengalami kebocoran di sana-sini, akan tetapi sikap kemunafikkan yang dipakai untuk mensikapi realitas. Barangkali sosok kapal (baca: PII) hanya menjelaskan fungsi alat yang sering jadi tumpuan caci maki pemumpangnya karena sudah tua dan rapuh sehingga sudah tidak mampu lagi berbenturan dengan ombak yang menghadang, sudah tidak mampu lagi menerjang karang yang menantang. Kenyataannya, ketika kita tenggelam apapun kita rengkuh, kita raih untuk mengapungkan diri kita, walau hanya sebatang kayu.

Siapa yang sebenarnya mampu membuktikan kekuatan kapal yang “sudah tua” ketika mengarungi samudra luas, bentangan laut yang masih menghampar tanpa simbol-simbol dan petunjuk arah. Kita tidak bisa hanya selalu mengandalkan pertolongan alat dan penumpang, mereka hanya menumpang, kitalah yang mengarahkan laju kapal.

“Jalan masih teramat jauh, mustahil kapal akan berlabuh bila dayung tak terkayuh”, kata Iwan Fals dalam lagunya Maaf Cintaku.

Kedewasaan kitalah yang nantinya membantu dalam mengamati tanda-tanda alam yang sering muncul tiba-tiba, yang jikalau kita tidak siap mengantisipasi bencanalah yang akan menyusul; kapal kita karam tanpa prasasti.

Barang kali kegagahan dan kemampuan kapal dalam mengarungi samudra luas cukup kita ceritakan kepada generasi penerus agar mereka menjadi generasi yang cukup bijaksana dalam mengambil keputusan, mengambil arah laju kapal berlayar. Juga untuk membantu kita dalam menterjemahkan mitos, kekuatan dan korban. Dalam konteks inilah cerita-cerita per-periode dapat kita pakai sebagai jernihnya air sungai untuk melihat buramnya wajah kita.

Mitos adalah gabungan antara ide dan harapan yang menguasai struktur alam pikiran dan psikologis kita, ia tidak hanya menerangkan tempat kita berada secara sosial dan daerah yang harus dituju. Melebihi teori, mitos menyentuh pula daerah psikomotorik dan spiritual kita untuk bertindak secara penuh keyakinan. Mitos mampu mengubah manusia yang berfikir jernih, menjadi pengikut yang hanya memiliki kacamata kuda; melihat lurus kedepan, secara hitam putih. Dan membagi dunia hanya berdasarkan dua kategori; lawan-kawan, hitam-putih, baik-buruk. Ini artinya menolak pada heterogenitas masing-masing individu dan pluralitas yang diagungkan oleh nilai setiap agama.

Mitos selalu dikawal pula oleh kekuasaan, sedangkan kekuasaan selalu memiliki alat pemaksa agar komunitas hanya berjalan ditempat yang sudah dipetakan. Ibarat barisan yang panjang, kekuasaan berada di atas bukit yang dapat melihat secara menyeluruh siapa yang keluar dari barisan. Dibentengi oleh mitos, kekuasan menjadi satu-satunya hakim agung, sebagai penentu siapa yang bersalah serta memiliki legitimasi mengontrol tindak tanduk setiap warga. Hingga pada akhirnya relativisme internal hanyalah slogan yang berkibar-kibar tanpa pernah dihormati dan dipahami.

Pada gilirannya korban pun berjatuhan. Mereka yang bergerak di luar barisan menjadi korban pertama. Mitos pun menghendaki korban lain untuk merealisasikan dirinya. Atas nama sebuah cita-cita, korban manusia dibenarkan, fakta ini bisa kita ziarahi pada monumen-monumen korban pembangunan bangsa, juga tak lebih mengerikan dalam arkeologi-arkeologi “demi agama, organisasi dan negara”.

Kalau kita berbicara humanisasi pendidikan “kaderisasi” sebuah lembaga, maka kita tidak bisa lepas dari masalah kader. Sebab kader adalah sentral kebajikan dan kebijakan lembaga. Untuk itu diperlukan demitologisasi kader, mengubah sistem pendidikan yang membudayakan dehumanisasi menuju pada humanisasi, juga sekularisasi peran bagi pemegang kebijaksanaan lembaga secara proporsional. Dari sinilah kita berharap kaderisasi PII mampu memenuhi cita-cita profetik dari Islam, yakni Rahmatan lil ‘alamin

7 Hadiah terbaik pada hari ulang tahun
Kepada Kawan – kesetiaan
Kepada Musuh – kemaafan
Kepada Ketua – khidmat
Kepada yang Muda – berikan contoh terbaik
Kepada yang Tua – hargai budi pekerti mereka dan kesantunan
Kepada Pasangan – cinta dan ketaatan
Kepada Manusia – kebebasan. (*)

 

*) Penulis adalah mantan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *