Rupiah Terus Melemah, Kini Sentuh Rp 13.800 per Dollar AS

EKONOMI NASIONAL

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengaku tidak khawatir terhadap pelemahan rupiah yang sudah menembus Rp 13.804 per dolar AS, berdasarkan kurs tengah JISDOR BI.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengatakan, bank sentral akan terus berada di pasar guna menstabilkan nilai tukar rupiah. “BI tidak khawatir. Artinya, BI tetap pada posisi untuk terus berada di pasar. BI menjaga bahwa rupiah kita masih dalam kondisi fundamentalnya, volatilitasnya kami jaga,” ujar Dody di gedung Bank Indonesia, Jumat (20/4).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami depresiasi sebesar 98 poin atau 0,13 persen di level Rp 13.893 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (20/4), dibandingkan awal perdagangan yang berada di level Rp 13.795 per dolar AS.

Pelemahan ini tampaknya terus terjadi. Berdasarkan data BI, pada Maret 2018, secara rata-rata harian rupiah terdepresiasi 1,13 persen. Sedangkan, menurut pantauan di JISDOR BI, pada April 2018, rupiah terus melemah dari Rp 13.750 pada 2 April hingga menembus angka Rp 13.804 per hari ini.

Menurut BI, tekanan terhadap rupiah terutama disebabkan perbaikan indikator ekonomi AS yang diikuti ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga FFR yang lebih agresif serta risiko berlanjutnya perang dagang AS-Cina. Hal tersebut mendorong pembalikan modal asing dan tekanan depresiasi nilai tukar pada berbagai mata uang dunia, termasuk Indonesia.

“Tekanan global yang cukup besar itu memperlemah mata uang di regional. Jadi, tetap harus dilihat kekuatan domestik ini menahan pelemahan rupiah lebih dalam,” kata Dody.

Sementara itu, dari dalam negeri, pelemahan rupiah karena tingginya impor bahan baku dan barang modal. Selain itu, risiko transaksi berjalan yang diproyeksikan lebih defisit dari tahun lalu.

“Kami juga selalu memberikan penjelasan bahwa pelemahan itu lebih didorong karena impor yang terkait bahan baku dan barang modal. Artinya, sebagai konsekuensi ekonomi kita bergerak,” kata Dody.

Selain itu, Dody menilai kekuatan ekonomi domestik masih cukup baik. Hal ini terlihat dari inflasi yang masih rendah. Selain itu, ekspor dan perdagangan juga positif. (*/Republika.co.id)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *