Seni Pentas dan Masyarakat Kampung

PANDEGLANG WISATA

PANDEGLANG – Kampung Lame, Desa Mekarjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, dipilih menjadi panggung pentas utama dalam rangka Peringatan Hari Teater Dunia tahun 2018 di Provinsi Banten, beberapa waktu lalu.

Perlu waktu 90 menit untuk mencapai kampung ini dari pusat kota di Pandeglang, jauh dari kota bukan berarti pentas teater tidak bisa dinikmati.

Seni pentas terutama teater di berbagai daerah seperti di Banten, lebih banyak dinikmati masyarakat perkotaan, seperti dikatakan Yopi Hendrawan, koordinator Hatedu 2018.

Kata Yopi, ini harus menjadi satu upaya, ritual, penyadaran yang berangkat dari tingkat kampung, desa, dan harus bangga menjadi orang desa. Sebab ke depan ia tidak mau berada pada wilayah sentralisasi, kebudayaan itu selalu berada di wilayah kota, seolah-olah bahwa sistem kebudayaan itu dikuasai oleh kota dan masyarakat desa ini terpinggirkan.

“Saya diingetin dan tersinggung yang kemudian ini menjadi pemicu, ketika mas Garin Nugraha itu bertanya kepada saya, kenapa pi?, kebudayaan atau event-event kebudayaan di wilayah Jawa Barat dan Banten terutama selalu terpusat di kota, kayaknya bukan gak ada deh tapi kenapa bahkan media selalu mengekspos itu, terutama di Bandung, (Saat menirukan-red), dari pertanyaan itu kemudia memicu semangat saya juga, bahwa kontruksi itu harus dibangun dari tingkat dasar tingkat bawah yang kita sebut sistem desa, dari situ dan akhirnya berjalan,” katanya.

“Kemudian saya melihat satu event di kreasi saya melihat ada tiga orang penonton yaitu ayah ibu dan anaknya datang dengan suatu antusias untuk hadir dalam suatu pertunjukan dan itu yang menjadi satu hal bagi saya indah sekali yah kalau kemudian kesenian ini dikonsumsi oleh masyarakat yang memang tidak berada pada saat pemahaman yang sama, istilahnya tidak hanya kesenian atau kebudayaan itu dinikmati tidak hanya sekedar art to art tapi kita bicara kesenian untuk art for people,” imbuhnya.

Saat mengamati kebudayaan dan seni di desa, menurut Yopi banyak yang tidak tersentuh secara utuh, entah itu oleh instansi Pemerintah atau institusi kesenian itu.

“Disitulah kemudian pada akhirnya pilihan ada dan bersepakat dengan kawan-kawan untuk gerak di desa, itu hal yang paling dasar,” ucapnya.

Selain itu juga ia berharap semoga saja dengan adanya Hatedu yang terselenggara Kampung Lame ini kemudian pemerintah bisa melihat suatu realitas yang lain instansi pemerintah bisa melihat sesuatu hal yang beda, bahwa ini ada sesuatu hal yang harus dibangung.

“Tidak hanya sekedar bahwa kemudian kita bicara hari ini, terus kita bicara wisata tidak hanya sekedar itu, malah justru ketika kita harus bicara pariwisata itu sebagai sumber yang bisa di gali oleh negara, saya malah berfikir bahwa, ok, pariwisata itu menjadi sesuatu hal yang sangat mencrang (menjadi sorotan-red), menggairahkan masa depan istilahnya negara kita akan merah, kuning, hijau dengan pariwisata tapi itu menjadi sesuatu hal seperti seolah-olah dua sisi mata uang, pisau yang bermata ganda, satu sisi itu punya nilai kesenian, tapi satu sisi itu justru akan menghancurkan kontruksi dasar tradisi masyarakat lokal itu sendiri, jika sistem seni dan budaya tidak dibangun,” cetusnya.

“Jadi di Desa itu upaya untuk membuat sebuah pertahanan sebelum kemudian pariwisata. Karenakan wisata keluar masuk, kebudayaan keluar masuk, bukan saya anti barat, karena di barat juga ada sesuatu hal nilai plusnya tetep, tinggal filtering aja, tapi kita akan gelar kontruksi masyarakat itu ya, itu hal yang paling sederhana, cuma mungkin punya tantangan juga karena bicara¬†‘Peringatan sebuah peristiwa’ itu ya bicara semuanya, termasuk infrastruktur,” tambahnya.

Selain itu, Jefri Priatna, yang juga pernah menjabat Ketua Umum Kreatifitas Mahasiswa Seni (Kreasi), mengatakan, pihaknya pun merasakan hal yang sama dengan pemikiran Yopi, sehingga harus mengamini kegiatan teater tersebut, sebab penularan hobi tersebut bisa saja terjadi ketika ada penonton yang menjiwai seni teater, bukan karena mereka yang berada di pelosok tidak suka tapi karena kekurangan media penyelenggaraan seni itu.

“Karena kita sama-sama berada di wilayah kesenian (hobi-red) kemudian tujuannya juga sama satu pemikirakn sama kita menggali potensi-potensi kebudayaan, intinya sama satu tujuan, sampai akhirnya kami nyatakan siap,” ujarnya.

Lebih lanjut, sudah banyak penggiat seni teater di wilayah Banten namun semua kebanyakan terpusat di perkotaan saja, sementara Desa akan selalu terpinggirkan.

“Kalau bicara provinsi di teater sudah banyak penggiat seni teater cuman berada di wilayah perkotaan, dari beberapa daerah banyak sebetulnya penggiat teater di Bnten ini, tapi kalo ke kampung ya ini baru disini (kampung Lame-red) Pandeglang Selatan,” tegasnya. (*/Dave)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *