Soal Proyek Geothermal, Gubernur Banten Dapat Kado Istimewa dari Warga

SERANG

SERANG – Sejumlah warga yang tergabung dalam Syarekat Pejuang Rakyat (Sapar) terus mengawal surat perizinan eksplorasi Panas Bumi Gunung Prakasak di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, yang telah habis masa berlakunya pada 28 April 2018 dengan  mengirimkan sebuah kado. Kado tersebut berisi pena, tinta juga kertas dan surat istimewa yang ditujukan khusus kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Banten, Senin (14/5/2018).

Hal tersebut dilakukan dalam rangka merespon surat kabar ultimatum Wakil Gubernur Banten terkait proyek geothermal di Padarincang.

“Hari ini kami berangkat dari Padarincang membawa surat dan kado istimewa agar Gubernur dan Wakil Gubernur Banten segera merealisasikan ultimatum proyek geothermal,” ucap Rendi, Ketua Sapar kepada wartawan melalui pesan siaran pers, Senin.

Ia menjelaskan, surat yang ditulis tangan tersebut adalah hasil rumusan dari musyawarah yang telah dilakukan. Sementara itu, kado sendiri sebagai simbol bagi mereka (Sapar) dalam meminta Pemprov Banten segera membuat surat tugas untuk para penegak hukum agar secepatnya menurunkan alat berat yang masih berada di atas Gunung Prakasak.

“Karena kemarin saat kami temui Satpol PP,  hingga sampai saat ini Satpol PP belum berani menurunkan alat berat, karena belum ada surat intruksi dari gubernur (katanya menirukan-red), makanya kami mencoba menagih ultimatum Wakil Gubernur Banten dengan membuat surat dan kado istimewa yang tujuannya agar Pemprov segera mengintruksikan penegak hukum untuk menertibkan proyek geothermal yang masa izin eksplorasinya sudah habis tanggal 28 April kemarin,” cetusnya.

Rendi menegaskan, saat ini pihaknya masih terus bersabar dan mampu meredam untuk tidak kembali turun aksi ke jalan. Namun jika Pemerintah tidak melakukan tindakan, maka pihaknya terpaksa akan kembali melakukan aksi demonstrasi.

“Sejauh ini kami masih berupaya sabar dan melakukan permohonan penurunan alat berat kepada yang berwajib meski kami tahu bahwa izin eksplorasi itu sudah habis sejak 14 hari yang lalu, dan sampai saat ini kami masih bisa bersabar, tapi jika hal ini dibiarkan berlama-lama khawatir kesabaran masyarakat tidak terbendung,” tegasnya (*/Dave)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *