Tahun (2018) Politik Menjelang, Rakyat Jangan Salah Pandang !

*) Oleh: Ilung (Sang Revolusioner)

DERASNYA arus gobalisasi di zaman now ini sudah nyaris tak terbendung kita lagi. Segala sesuatunya apapun itu, bisa dijadikan komoditi yang dapat diperdagangkan pada kompetisi pasar global. Aset-aset nasional berapa yang tersisa, jika terus dibeli oleh pemodal asing yang berkedok investasi.

Sementara perusahaan-perusahaan lokal yang potensial malah justru dijual-jual dengan alasan kekurangan modal. Tentu ini tidaklah berlaku hanya pada bidang ekonomi saja, hampir semua bidang sendi-sendi kehidupan bernegara yang seakan tak luput dari pengaruhnya.

Terlebih di bidang sosial-politik dimana para investor jabatan tidak segan mengucurkan dana segar hingga triliunan sebagai bahan bakar kampanye politik para bakal calon kepala pemerintahan daerah, maupun kepala pemerintahan nasional. Mereka mampu menyiapkan berbagai skenario pencitraan hingga suksesi meraih jabatan. Namun, tahukah kita siapakah mereka yang berada di balik layar menjadi bandar yang akan selalu menang dalam perjudian politik lokal maupun nasional?

Kita tidak boleh sekadar tahu, kita juga mesti memahami 2018 adalah tahun Politik. Tahun dimana kembang plastik, gincu dan topeng bertebaran di mana-mana. Para bakal calon pemimpin daerah akan bersolek dengan make up pencitraan tercanggih dari yang ada sebelumnya.

Dan bisa jadi, dalam episode tahun ini akan lebih eksploratif membuai rakyat, selain dengan blusukan, tampilan merakyat, bersandal jepit dan berkaos oblong. Tidak hanya datang ke pondok pesantren kemudian berpeci dan berselempang sorban, lantas tangannya diciumi oleh para santri. Tidak hanya mengumbar jargon-jargon sesat; “ayo bersatu (dukung saya) untuk kesejahteraan bersama”, “untuk rakyat apa saja akan saya perjuangkan”, “jika saya terpilih, ini, itu, dan anu akan saya gratiskan untuk rakyat ”, serta beragam serangkaian kalimat-kalimat rayuan yang terkonsep lainnya.

Dalam wilayah partai politik, seperti yang sudah-sudah, mungkin kita sudah tidak asing dengan istilah “tidak ada kawan dan lawan yang abadi”. Seperti halnya; kalau dalam pemilihan kepala daerah sebelumnya beberapa partai saling berlawanan karena beda koalisi, maka di tahun ini partai-partai yang sebelumnya saling mengalahkan itu, tahun ini bisa saling berangkulan dan saling dukung karena bakal calon pemimpin daerah yang diusungnya merupakan bakal calon paling potensial yang menguntungkan mereka.

Selain itu, yang perlu kita pahami dengan seksama adalah, bahwa tahun ini merupakan tahun pemanasan suhu sebagai barometer politik 2019. Ada 17 Pemilihan Gubernur, 39 Pemilihan Walikota dan 115 Pemilihan Bupati yang akan digelar secara serentak. Dan di Banten sendiri dari 8 Kabupaten/Kota, separuhnya yakni Kota Serang, Kabupaten Lebak, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang akan turut menggelar pilkada serentak bersama daerah lainnya di Indonesia.

Jika di suatu daerah beberapa partai berkoalisi, jangan kaget karena ternyata di daerah lain partai-partai tersebut bersaing satu sama lain karena calon yang mereka usung berbeda. Itulah keniscayaan politik.

Rakyat akan dihadapkan pada tahun politik yang menjelang. Maka, rakyat jangan sampai salah pandang. Ini adalah tahun yang penuh gincu, penuh topeng, penuh kepalsuan dan kembang plastik yang bertebaran. Kembali, besar kemungkinan rakyat akan ditipu habis-habisan oleh para politisi demi kepentingan partai dan golongannya. Badut-badut dipasang untuk meramaikan pesta demokrasi ini.

Para tim sorak soray pengais recehan akan semakin bertebaran di media sosial, ikut turun ke jalan meneriakkan yel-yel untuk turut meramaikan suasana. Dan rakyat, waspadalah! Kita akan memasuki hari-hari pencitraan. Rakyat kecil jangan mau dijadikan komoditas yang diperjual-belikan oleh para calo-calo politik, rakyat jelata jangan tergiur oleh buaian dusta dalam kampanye area, jangan terhipnotis oleh teriakkan jargon-jargon penuh urna, jangan terperdaya hanya dengan upah selembar uang dan nasi kotak.

Kita sebagai rakyat pemilik kedaulatan atas negara Indonesia tercinta ini sudah sebaiknya bersama-sama belajar dari ajang perlombaan para politikus sebelumnya. Cobalah kenali siapa diri kita dan asal usul negara kita, ayo belajar bersama-sama untuk menemukan sudut pandang, jarak pandang, sisi pandang, cara dan resolusi pandang yang baru agar kita menemukan presisi dan tidak melulu salah pandang.
Bukankah kita merindukan sosok Begawan, seorang Negarawan, sosok orang tua yang mampu mengayomi kita?

Dan sadarilah, di tengah kepungan zaman yang semakin edan dimana yang tidak ikut edan tidak kebagian. Segala sesuatu dijadikan komoditi barang dagangan, ayo kita ajak rakyat Indonesia untuk menemukan kesejatian agar bisa terhindar kepalsuan. Sudah seyogyanya kita untuk saling mengingatkan, berasama-sama menjaga pusaka bangsa, menajamkan pandangan dan membersihkan diri dari kotoran.

Kita adalah rakyat yang merupakan hakikat dari orang-orang berkumpul dan berpendapat sebagaimana termaktub dalam UUD 45. Kita perlu kesadaran yang mendalam dalam
bekerjasama, berorganisasi, yang tak lain karena supaya Rahmat dari Tuhan dapat terdistribusi dan menjadi Berkah bagi semesta alam.

Dasar inilah yang semestinya menjadi komitmen bersama dari orang-orang yang terlibat dalam aktivitas peran di dalam adanya Negara, yang hakikatnya pun demikian, yakni supaya Rahmat dari Tuhan dapat terdistribusi sehingga dapat menjadi berkah bagi seluruh rakyatnya, bukan malah menjadi alat para pemodal untuk menancapkan cengkeraman bisnis mereka di wilayah Negara. (*)

*) Penulis adalah Jurnalis Fakta Banten