Tatang Muftadi: Pak Aat itu Bapak Kepekaan

CILEGON

CILEGON, FB – Meninggalnya Walikota Cilegon Periode 2000 – 2010 Tb Aat Syafaat pada Kamis lalu 10 November 2016, membuat banyak pihak merasa kehilangan akan sosok pemimpin kharismatik yang dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan Kota Cilegon itu.

Bagi banyak orang, Pak Aat merupakan guru yang telaten dalam membimbing dan berjasa besar mengantarkan kesuksesan karir mereka, baik di bidang politik, bisnis, maupun di birokrasi.

Salah satu yang merasa sangat kehilangan terhadap sosok Pak Aat adalah Tatang Muftadi, Asda II Pemkot Cilegon. Tatang mengaku memiliki banyak kenangan dan kesan-kesan baik atas sosok ayah dari Walikota Cilegon Tb Iman Ariyadi itu.

Tatang yang mulai dekat dengan almarhum sejak tahun 1998 itu, menganggap Tb Aat Syafaat sebagai pemimpin tegas sekaligus guru pembimbing yang sangat peka terhadap berbagai persoalan.

“Sejak tahun 1998 saya dekat dengan beliau (almarhum). Hal yang cukup berkesan mendalam bagi saya, saat Pak Aat menjabat walikota dan saya menjabat Kabag Kominfo, saya selalu keduluan dalam membaca koran sama Pa Aat. Jika ada pemberitaan penting, saya malah sering ditelepon duluan disuruh baca koran oleh Pa Aat,” ujar Tatang bercerita saat kegiatan tahlilan di kediaman almarhum, Sabtu malam 12 November 2016.

Bagi Tatang, almarhum Aat merupakan sosok pemimpin tegas, tajam dalam menganalisa dan menjalankan tugas, namun juga selalu membimbing bawahannya dengan sabar dan telaten.

“Saking tajamnya, berita di media itu setiap kalimat per kalimat tidak ada yang terlewat dibaca oleh beliau (Pak Aat),” ujarnya.

“Beliau juga bukan hanya memberi perintah tetapi membimbing. Beliau memberi nasihat secara tegas tetapi sabar dan terus diulang-ulang, kalau kita belum bisa menjalani nasihatnya terus saja dibimbing dan diarahkan sama Pak Aat,” jelas Tatang.

Dalam memimpin Kota Cilegon dan birokrasi, Tatang juga menilai Politisi Golkar itu sangat gigih memperjuangkan kepentingan rakyat dan pembangunan daerah.

“Beliau itu mengajari kepekaan dalam tugas. Kepekaan tugas ini lebih mendalam dibanding dengan Tupoksi. Kalau saya sebut Pak Aat itu guru kepekaan,” tegas Tatang.

“Pak Aat juga sangat peduli dengan bawahannya dan masyarakat, bahkan pernah suatu saat beliau sedang sakit dirawat di RS Siloam, ternyata tiba-tiba beliau menelepon saya menanyakan kondisi masyarakat di Merak. Dalam kondisi dirinya sendiri saja tak bersaya, Pak Aat tetap memantau kondisi masyarakatnya, waktu itu sekitar tahun 2006, ada isu Merak bakal terjadi tsunami. Gimana Pa Tatang kondisi masyarakat? Tolong aparat standby dan dilayani masyarakat ya, perkembangannya selalu laporkan ke saya. Itu telepon almarhum ke saya,” lanjut Tatang bercerita.

Sejumlah prestasi pembangunan saat Kota Cilegon dipimpin Walikota Tb Aat Syafaat juga sangat dipuji oleh Tatang.

“Beliau sangat gigih memperjuangkan Kota Cilegon mulai dari pendirian dan melanjutkan pembangunannya, bisa disebut Pak Aat ini sebagai tokoh sentral. Dengan kepekaan dan tajamnya analisa Pak Aat dengan situasi masyarakatnya, lahirlah program honor guru madrasah. Contoh lainnya pembangunan Masjid Agung Cilegon, proyek-proyek awal pembangunan JLS, Pasar Kranggot, Terminal Merak, ini semua memberikan manfaat besar untuk Kota Cilegon. Dan alhamdulillah pembangunannya dilanjutkan dengan baik oleh Pak Iman, anak beliau (Pak Aat),” jelas Tatang.

Tatang juga bersyukur dan mengaku sangat berterimakasih atas bimbingan almarhum.

“Berkat jasa beliau juga, apa yang diraih oleh saya saat ini. Waktu saya Sekretaris KONI, bertugas di Dispora, beliau memotivasi saya untuk mendapatkan juara umum Porprov Banten, berkat bimbingan beliau akhirnya Cilegon bisa sukses meraih juara umum. Beliau memberikan apresiasi, dan juga tidak gengsi berterimakasih kepada bawahannya,” tutur Tatang sambil terus mengenang. (*)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *