Teater “Babi-babi Sangiang” Bikin Warga Pulau Sangiang Menangis Terharu

SERANG

SERANG – Laboratorium Banten Girang telah berkeliling Banten untuk mengkampanyekan dukungan terhadap warga Pulau Sangiang yang saat ini tengah menghadapi konflik agraria dengan korporasi melalui pementasan teater.

Teater yang berjudul ‘Babi-babi Sangiang’ yang disutradarai oleh Peri Sandi telah dipentaskan sebanyak 4 kali di Provinsi Banten. Di Kota Serang, Kota Tangerang, Kabupaten Pandeglang, Kota Cilegon dan Kabupaten Serang.

Peri sang sutradara mendapat ide saat lawatannya dan berbincang dengan warga Pulau Sangiang. Kala itu, warga mengeluh atas penyerobotan tanah yang dilakukan PT Pondok Indah Kalimaya Putih (Green Garden Group). Dan juga menyebarkan hama untuk melakukan pengusiran warga secara halus.

“Dari sanalah ide pementasan teater berjudul Babi-babi Sangiang tercipta,” kata Peri.

Sabtu (7/7/2018), pementasan dilakukan di depan warga Pulau Sangiang, Desa Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang.

“Saya mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan oleh warga sehingga pementasan langsung disajikan di pulaunya. Beberapa waktu lalu saya berkunjung kesini, mendengar cerita langsung konflik agraria yang sedang terjadi. Sampai korporasi menebar hama seperti Babi, Ular dan lainnya untuk mengusik warga untuk beraktivitas,” katanya.

Setelah pulang, bersama komunitas Laboratorium Banten Girang kami membuat sebuah pertunjukan teater sebagai bentuk kampanye mendukung warga Pulau.

“Perlawanan harus dilakukan secara masif dan merata dari semua sektor. Baik dari Lembaga Bantuan Hukum, Aktivis, Pegiat Seni, Jurnalis dan lainnya untuk mendukung warga Pulau Sangiang dalam berjuang mempertahankan tanah ulayatnya,” tegasnya saat memberikan sambutan.

Selain pementasan teater, juga diiringi oleh diskusi oleh tokoh masyarakat dan Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Banten.

Sofyan, selaku tokoh masyarakat dan beberapa warga lainnya terenyuh saat menyaksikan pertunjukan. Matanya memancarkan cermin dan sesekali air matanya mentes.

Dalam pembukaan diskusi setelah pementasan ia berujar.

“Saya dan warga pulau Sangiang bingung mau ngucapin terimakasihnya pakai apa. Apa yang ditampilkan itu sudah sesuai dengan apa yang terjadi dan dirasakan warga,” katanya.

“Sekali lagi, saya dan warga benar-benar mengucapkan terimakasih sudah menguatkan kami, mendukung kami dan mengampanyekan warga Pulau Sangiang atas tanah Ulayat dan dijadikan pertunjukan teater,” ucapnya sambil berkaca-kaca. (*/Cholis)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *