Terorisme Bukan Jihad

BANTEN HEADLINE OPINI

*) Oleh: Ahmad Basori

FAKTA BANTEN – BOM kembali mengguncang Indonesia, kini gilaran 3 gereja di Surabaya. Tragedi yang menewaskan 10 orang dan puluhan orang luka-luka ini pun mendapatkan kecaman dan kutukan dari berbagai pihak mulai dari masyarakat, tokoh agama, kepala negara bahkan dunia Internasional.

Dari hasil penyelidikan sementara pihak yang berwajib, pelaku pemboman ini sepertinya di alamatkan kepada Jaringan Anshor Dhaulah (JAD). Kelompok yang melegitimasi tindakan kekerasan dan teror atas nama ajaran agama (baca: Jihad), ini seyogyanya tidak dikaitkan dengan Islam.

Karena terorisme seperti diungkapkan oleh Yusuf Qardhawi berbeda dengan jihad, Jihad jelas nashnya dalam al-Quran. Dalam al-Quran jihad tidak selalu diidentikkan dengan bentrok fisik atau mengangkat senjata. Makna jihad lebih komprehensif, dimulai dengan jihad terhadap setan, lalu jihad terhadap kezaliman dan kerusakan masyarakat, setelah itu barulah terhadap kaum kafir dan munafik.

Jihad yang dapat ditangguhkan hanyalah jihad dengan senjata atau jihad di medan perang, Jihad inipun oleh al-Quran dibatasi pada saat-saat tertentu khususnya dalam rangka mempertahankan diri.

Sedangkan kebanyakan para ulama Islam berpendapat bahwa jihad perang seharusnya dapat dihindari dan tidak perlu terjadi apabila jalan damai dapat dilakukan oleh umat Islam. Selain itu pengaruh yang ditimbulkan dari peperangan berdampak buruk, destruktif dan merusak semua tatanan yang ada, tidak saja materi tapi juga non materi.

Jihad Perang dapat dilakukan apabila umat Islam dianiaya, apa yang menjadi milik umat Islam dirampas dan dikuasai olehnya, mereka juga merusak dan menyerang daerah umat Islam. Menjadi wajib bagi umat Islam untuk melakukan perlawanan dan memerangi mereka. Seperti yang terjadi pada kasus Palestina dengan Israel.

Sementara jihad dengan dakwah dan penerangan, atau jihad dengan al-Qur’an tegak berdiri sejak hari pertama. Selama di Makkah Rasulullah dan para sahabat menjadi Al-Mujahidun (para mujahid) bukan Al-Muqatil (orang yang berperang). Jihad yang mereka lakukan adalah dengan jalan dakwah dan tarbiyah. Yaitu memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang agama yang benar bersumber dari Allah SWT.

Rosulullah berusaha memerangi keyakinan, budaya, moral, yang menyimpang dan tidak benar, sekaligus juga memerangi kebodohan dan keterbelakangan. Hingga bangsa Arab waktu itu setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW menjadi bangsa yang maju, beradab dan sebagai contoh sebuah masyarakat Islam.

Ketika Nabi berada di Madinah banyak mendapatkan serangan­ serangan dari orang-orang kafir, baik dari dalam Madinah sendiri maupun dari luar. Dalam menghadapi hal ini Nabi mencoba jalan dengan cara berdiplomasi dengan mereka untuk berdamai dan menghentikan aksi kekerasan, peperangan, akan tetapi ketika usaha tersebut tidak dapat ditempuh, maka tidak ada pilihan lain kecuali melakukan aksi peperangan.

Di dalam Islam sendiri berperang bukanlah suatu tindakan yang dilarang oleh agama. Akan tetapi ketika berperang umat Islam tidak diperkenankan membunuh anak-anak dan perempuan, tidak merusak tanaman dan tidak merusak rumah-rumah ibadah musuh.

Sedangkan terorisme berbeda dengan jihad dengan makna perang terorisme adalah sebuah tindakan yang dilarang oleh agama. Sebab terorisme adalah aksi yang dilakukan oleh kelompok yang memakai cara kekerasan kepada orang yang tidak punya masalah dengan mereka. Kekerasan tersebut adalah sarana untuk mengintimidasi, melukai dan memaksa orang lain supaya tunduk kepada kemauannya. Meskipun dalam persepsi mereka hal tersebut merupakan tindakan yang adil.

Islam menolak pemikiran yang mengajarkan “untuk mencapai tujuan, cara apapun dibenarkan”. Islam mewajibkan tujuan dan cara yang ditempuh haruslah benar. Misalnya Islam tidak membolehkan seorang Muslim menerima uang hasil korupsi, uang tersebut nantinya digunakan untuk pembangunan Masjid atau mendirikan yayasan sosial.

Tindakan terorisme adalah sebuah kejahatan yang mengakibatkan jatuhnya korban kemanusiaan yang dahsyat. Berhitung tentang korban kemanusiaan tidak sama artinya dengan menghitung korban manusia. Menghitung korban kemanusiaan tidak cukup dengan instrumen statiska: tapi juga butuh hati nurani. Karena itu menghitungnya jauh lebih sulit dibandingkan menjumlah korban manusia. Ketika seorang laki-laki tewas tertabrak mobil di jalan raya, ada korban manusia dan korban kemanusiaan yang jatuh. Korban manusianya adalah sang laki-laki itu. Tapi korban kemanusiaanya tak hanya laki-laki itu tapi juga istri dan anak-anak nya yang tiba-tiba masa depannya menjadi gelap gulita lantaran ditinggal pencari nafkah utama.

Contoh ini memperlihatkan bahwa konsep korban kemanusiaan lebih luas dan tinggi tatarannya ketimbang sekedar korban manusia.

Karena itu pengeboman yang terjadi di Surabaya tidak hanya memakan korban manusia tapi juga korban-korban kemanusiaan. Korban manusia itu mudah saja dideretkan dengan bantuan statiska: puluhan meninggal dunia, ratusan luka-luka dan seterusnya. Namun korban kemanusiaanya tidak terhitung berada dalam jumlah jauh lebih besar dan dahsyat. Masyarakat yang tercekam rasa cemas yang luar biasa di pesawat televisi adalah korban-korban kemanusiaan. Mereka tiba-tiba saja merasa tak nyaman dan tak aman di Surabaya bahkan Indonesia, sehingga sejumlah negara mengeluarkan travel warning dan memberikan dampak negatif kepada investor asing sehingga berpengaruh kepada perekonomian bangsa.

Jadi, tragedi bom Surabaya yang meledakan gereja itu tidak ada kaitannya dengan Islam, karena dalam Islam sendiri teror itu tidak ada landasan yang kuat. Karena seorang yang beragama kemudian mengambil jalan kejahatan dengan bom, sesungguhnya sedang bertindak menentang agama yang dia peluk sendiri. (*)

*) Ahmad Basori, Penulis adalah pemerhati sosial politik, yang juga Pengurus Pusat Himpunan Pemuda Al-Khairiyah (HPA).

 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *