Tradisi “Neger” yang Sudah Banyak Dilupakan Warga Cilegon

CILEGON – Neger adalah teknik memancing tradisional Cilegon yang dulu banyak dilakukan oleh warga dalam mencari ikan untuk lauk sebagai kebutuhan konsumsi, namun kini hal itu sudah tidak banyak lagi warga Cilegon yang melakukannya, dan bahkan bahkan banyak anak-anak muda sekarang yang tidak mengetahuinya.

Bagi warga yang lahir di Cilegon dan kini berusia 40 tahun keatas, mungkin masih tahu dan mengenangnya karena dulu saat anak-anak atau remaja sering Neger.

Neger sendiri kata aktif dari Teger, Teger merupakan alat pancing tradisional khas Cilegon yang berbeda dengan alat pancing pada umumnya. Dengan joran atau jejer yang relatif pendek hanya satu meter lebih antara 1,2 meter hingga 1,5 meter, sedangkan benang senar pancing antara mata kail dengan ujung joran panjangnya hanya berkisar setengah meter saja.

Selain bentuknya, teknik memancing dengan Teger ini terbilang cukup unik, karena setelah kail diberi umpan berupa Cacing atau Kodok, lalu dipasang di Sawah, Kubangan, Rawa atau Kali dengan menancapkan joran ke gegaleng atau tanah agar ketika umpan disambar Ikan, joran tidak hanyut dibawa Ikan. Maka pangkal joran Teger pun sengaja dibuat runcing.

Setelah dipasang, Teger kemudian ditinggal beberapa saat, lalu biasanya setiap satu jam sekali dicek apakah dapat Ikan atau tidak, sekaligus sekalian mengganti umpan yang tinggal sedikit atau habis. Ada juga Teger yang dibiarkan menginap hingga keesokan hari lagi, dan baru dicek pada besok paginya.

Biasanya setiap memancing dengan Teger, warga membawa puluhan Teger, dari 60 sampai 100 lebih untuk lebih banyak peluang mendapatkan Ikan. Dan setelah dapat Ikan disimpan di Kembu, sebuah wadah Ikan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Bisa dikatakan alat tangkap Ikan ini sangat ramah lingkungan, karena besarnya mata kail pada Teger, Ikan berukuran kecil jarang ada yang mencaploknya.

Baca Juga : Ricuh; 10 Korban Suporter PSS Sleman, 3 dari Cilegon United dan 1 Polisi Dilarikan ke RSKM

Sekitar 20-30 tahun yang lalu, warga Cilegon khususnya laki-laki masih banyak yang memiliki Teger ini. Cilegon saat itu masih banyak Sawah, Kubangan, Rawa atau Kali yang masih bersih dan sangat banyak habitat jenis Ikan air tawar yang hidup di dalamnya.

Walaupun sama, dalam mancing pada umumnya hasilnya lebih ditentukan pada keberuntungan. Namun dalam Neger ada banyak hal-hal yang perlu diketahui, sebagaimana Nelayan laut yang perlu mengetahui rumpon tempat Ikan, kondisi air, musim, cuaca dan sebagainya.

Kegiatan Neger pada saat itu bisa dikatakan menjadi profesi sampingan bagi sebagian warga Cilegon, karena dari hasil Neger ini warga tak perlu membeli ikan untuk lauk kebutuhan makan, dan Ikan hasil Neger juga bisa dibarter dengan beras dan keperluan dapur lainnya.

Selain Neger, saat musim penghujan warga juga punya alat penangkap Ikan yang juga ramah lingkungan, yakni masang sosog sejenis jaring yang dipasang pada derasnya aliran air Sungai setelah turun hujan.

Neger juga ada hari pasarannya, yaitu hari Jum’at. Biasanya warga dari satu Kampung setiap ba’da Jum’atan, belasan sampai puluhan warga berkumpul untuk Neger bareng ke suatu tempat yang disepakati sebelumnya yang dianggap sedang banyak Ikannya. Konvoi berboncengan naik sepeda ontel, berangkat Neger siang atau sore, lalu pulang tengah malam bahkan sampai subuh dinihari. Tergantung hasil banyak tidaknya tangkapan dan kondisi cuaca.

Sedangkan pada hari-hari biasa, warga Neger di Sawah terdekat dengan rumah atau di Sawah Kampung tetangga terdekat saja. Menurut beberapa orang tua, sebagai pelaku sejarah yang bercerita kepada wartawan faktabanten.co.id, saat di Kota Cilegon dulu masih banyak Sawah-sawah, Kubang, Rawa dan Kali yang masih banyak Ikannya, seperti Bayong (Gabus), Lele sawah, Belut, Larak, Betik, hewan konsumsi ini sangat mudah diambil langsung dari alam. Seperti memetik padi saat panen, walau sekarang juga bisa dengan uang banyak belanja di Supermarket, tapi tentu kesegaran yang diambil langsung dari alam lebih berkualitas.

Namun tidak dengan Cilegon sekarang, maka wajar Ikannya sudah jarang dan harganya mahal, karena tempat tinggal Ikannya juga tinggal sedikit. Sampai-sampai beberapa penerus sejarah Neger inipun harus pergi jauh untuk mencari Ikan-ikan jenis air tawar yang mulai langka tersebut.

Seperti Kang Muhriji dan Kang Marzuki yang mengikuti tradisi hari pasaran Neger hari Jum’at. Kedua warga Kampung Palas, Kelurahan Bendungan, Kecamatan Cilegon ini, yang kepergok wartawan faktabanten.co.id pada Jum’at (6/10/2017) sore kemarin, mengaku akan berangkat Neger ke persawahan di Banten Lama.

Menurut mereka, di Cilegon sudah sulit mendapatkan Ikan sawah karena sawah-sawah sudah tergusur pembangunan.

“Iya kih arep Neger ning Banten bengen. Gati ulihe ning wilayah Cilegon mah, Sawah, Kubang kari semet digusuri gena ngebangun Pabrik karo Perumahan, Kaline wis kebek sangkrah. (Iya nih mau Neger di Banten Lama. Sulit dapatnya kalau di Cilegon, Sawah dan Kubang tinggal sedikit digusuri buat membangun Pabrik dengan Perumahan, Sungainya kotor tercemar),” ujar Kang Muhriji, yang menjadikan Neger ini sebagai usaha sampingannya selain mendaur ulang sampah.

Hal ini juga benarkan oleh rekannya Kang Marzuki, warga yang berprofesi di Industri rumahan pembuat kasur bantal ini juga menegaskan kalau Neger ini untuk selingan dan hiburan baginya.

“Inimah selingan aja, kan kalau dapat nggak perlu beli Ikan buat makan, ya bisa sambil hiburan di tengah sawah yang sunyi. Dapatin Ikan sekilo disini (Cilegon) mah, jago. Cari tempat Negernya aja sudah susah, kalau di Banten sana mah kan Sawahnya masih luas, dapatnya juga kadang lumayan,” tuturnya penuh harap. (*/Ilung)