Tradisi Silatirahmi Dua Pimpinan Pondok Pesantren Tua di Cilegon

CILEGON – Begitu indah dan sejuk pemandangan dua pimpinan Pondok Pesantren yang sedang bersilaturahmi ini, mengingatkan kita pada sebuah tradisi yang telah sejak lama dilakukan oleh para Kyai pimpinan pondok pesantren pada beberapa dekade bahkan beberapa abad silam di tanah air tercinta.

Secara historis, Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang pada awalnya dirintis oleh para alim ‘Ulama untuk melakukan syi’ar agama ini, bukan hanya mampu mencetak para santri dengan ilmu pengetahuan saja, namun pondok pesantren yang merupakan basis pendidikan agama Islam dengan metode-metode kulturalnya ini juga secara luas membekali para santrinya belajar aqidah, akhlak dan ilmu kehidupan tentang lakon urip, ilmu katon dan ilmu ora katon, serta kebijaksanaan.

Dilansir dari berbagai versi sejarah, bahwa dulu tradisi silaturahmi antara Kyai kepada Kyai-Kyai lainnya ini selalu intensif dilakukan, dari hanya untuk sekadar berkunjung menguatkan ukhuwah, membahas syi’ar agama Islam sampai pada membahas persoalan-persoalan pelik yang terjadi pada umat atau rakyat.

Baca Juga : Peran Pendidikan Di Kabupaten Pandeglang Harus Di Optimalkan

Masih ingat dengan tragedi Geger Cilegon 1888? Ya, perlawanan rakyat yang dikomandoi oleh para Kyai terhadap pemerintah kolonial Belanda yang menindas rakyat pada saat itu. Banyak versi sejarah yang menyebutkan peristiwa bersejarah itu lahir dari gerakan pertemuan rutin antar Kyai tersebut. Mungkin itulah sebabnya dulu Cilegon disebut sebagai ‘Kota Santri’.

Dan bagai melihat oase di Padang Pasir, saat Selasa (10/10/2017) siang kemarin, kembali terlihat tradisi lawas tersebut. Pembina pondok pesantren Al-Khairiyah, Citangkil dan pengasuh pondok pesantren Bani Latief Cibeber Al-Jauharotunnaqiyyah, terlihat bersamaan sedang bersilaturahmi.

Sebagaimana diketahui, kedua lembaga pondok pesantren tua di Kota Cilegon ini sudah berdiri jauh sebelum Cilegon terbentuk menjadi Kota, bahkan sebelum diproklamasikannya kemerdekaan negara Republik Indonesia. Namun hingga kini kedua lembaga tersebut masih terus istiqomah menjaga dan terus mengajarkan apa yang diwariskan oleh para leluhur.

Selasa (10/10/2017) siang itu, Ustadz Alwiyan Qosyid Syam’un Pembina Pondok Pesantren Al-Khairiyah menerima kunjungan silaturahmi Ustadz H. Alawi, pengasuh pesantren di Kecamatan Cibeber.

Ustadz Alwiyan mengaku gembira dengan kunjungan Ustadz H. Alawi tersebut ke Ponpes Al-Khairiyah.

“Alhamdulillah, kunjungan beliau sebagai kunjungan sahabat lama yang telah saling mengunjungi, cuma buka-buka Kitab, saling cerita sekitar Pondok bahkan kami berencana akan saling mengunjungi antar Pondok yang ada di Cilegon dalam rangka silaturrahmi yang muaranya bisa memperkuat peran pesantren dalam pembangunan SDM, itu saja. Berharap masyarakat Cilegon back to basic yaitu pesantren,” ujar Ustadz Alwiyan, kepada wartawan faktabanten.co.id

Dan tidak bisa dipungkiri, kesadaran dan minat masyarakat Cilegon akan pentingnya pendidikan tradisional di pondok pesantren bagi anak-anaknya kini semakin menipis, yang bisa jadi hal ini dikarenakan kalangan masyarakat kita yang terus digiring arus globalisasi untuk dipaksa menerima gaya hidup modern.

Namun kini, perubahan budaya oleh pertumbuhan kehidupan modern, dengan pendidikan modernnya, sepertinya tidak menggugah kesadaran itu dengan menyodorkan motivasi yang tepat dan esensial. Mungkin ada baiknya bila kita mengevaluasi “produk impor” modernitas yang orientasinya lebih menitikberatkan kehidupan pada wadah materi duniawi tersebut.

Sekolah adalah anak-anak tangga yang sayup-sayup di bawah bayangan bintang gemintang kemewahan kehidupan.
Anak-anak kita iming-iming hasil tinggi, bukan kerja. Sedang kehidupan ini tergantung di kerja, bukan hasil.

Lingkungan menyeret segala-galanya dan itu sama sekali bukan dosa bagi setiap orang. Tanyakanlah dosa kepada Pak Kusir yang mengendalikan kuda. Bayi lahir, orangtua dan kebudayaan telah menentukan segala-galanya.

Berapa jumlah Santri kita yang tersisa? (*/Ilung)