Warga Kecamatan Tanara Serang “Masih Menolak” Vaksinasi Difteri

SERANG – Banyaknya masyarakat yang belum memahami imunisasi difteri dan ketakutan akan dampak pasca pemberian vaksinasi, membuat cakupan imunisasi difteri di wilayah Kecamatan Tanara khususnya Desa Cerukcuk dan Tanara, Kabupaten Serang, masih terhitung rendah.

Petugas Surveilans Puskesmas Tanara, Aisatica, mengatakan, wabah difteri saat ini sudah merebak dan menyebabkan kejadian luar biasa dengan adanya kasus hingga 2 orang positif difteri di kecamatannya, maka masyarakat yang sebelumnya menolak divaksin pun kini menjadi bersedia.

“Tapi Alhamdulillah artinya dengan adanya penyuluhan difteri disini semua masyarakat yang tadinya tidak mau diimunisasi menjadi mau, Alhamdulillah pada mau khususnya daerah cakupan rendah seperti disini (Cerukcuk-red) dan desa lainnya juga,” ujarnya.

Ia mengatakan, sampai saat ini pihaknya masih melakukan penanganan khusus di wilayah Kabupaten Serang karena dan dilakukan outbreak response immunization (ORI) difteri, untuk imunisasi di wilayahnya sampai saat ini masih belum selesai karena awalnya masih banyak masyarakat yang tidak mau disuntikkan vaksin difteri.

“Pokoknya usia dari 0-5 tahun dan dari usia 1-19 tahun. Tapi kalau untuk Tanara ini semua di vaksinasi bahkan sampai yang 70 tahun juga, Alhamdulillah sekarang sudah hampir 100 persen untuk pemberian ORI anak sekolah dan balita,” katanya.

Ia mengatakan, masih rendahnya cakupan imunisasi itu dikarenakan masih banyaknya masyarakat yang kurang memahami dan mengerti soal imunisasi. Oleh karena itu, semua bidan desa dan kader-kadernya telah diminta untuk membantu masyarakat yang sulit divaksinasi itu.

Diketahui dipilihnya Desa Cerukcuk untuk diadakan penyuluhan, karena desa tersebut masuk kategori rendah cakupan imunisasi. Selain itu, Desa Cerukcuk juga sudah terdapat kasus positif difteri.

“Jadi ada 3, itu di Desa Bendung, Tanara dan Cerukcuk. Tapi dari 3 itu salah satunya belum ada kepastian. Yang positif itu Tanara dan Cerukcuk ada 2 orang,” ujarnya.

Hal tersebut diakui salah satu warga Desa Cerukcuk, Faizah, mengatakan, ia takut dengan adanya imunisasi tersebut. Ia mengaku sebelumnya sudah sempat mendapatkan vaksinasi, dan pegal-pegal setelah mendapatkan vaksinasi tersebut.

“Takut sih, soalnya jemper pas habisnya. Terus panas dingin juga, tapi dikasih obatnya sih, kalau sudah program mah dan yang lain ikut ya ikut,” katanya. (*/Dave)