Warga Perkampungan Baduy Lagi Panen Durian, Harga Murah dan Melimpah

EKONOMI LEBAK

LEBAK – Panen buah durian membawa berkah bagi masyarakat suku Baduy. Panen durian kali ini tentu meningkatkan pendapatan keluarga yang tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten.

Dengan kondisi alam hutan yang masih terjaga, tentu buah-buahan hasil dari alam masih melimpah di wilayah tersebut.

“Kami sepekan terakhir ini sibuk berjualan durian,” kata Pulung, seorang warga Baduy saat ditemui di Kampung Marengo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Minggu (25/2/2018).

Memasuki musim panen durian kali ini, masyarakat Baduy mengaku meninggalkan pekerjaan utama mereka yakni bertani di ladang. Mereka lebih memilih berjualan durian karena ada pendapatan yang berlebih di musim ini.

Para pedagang durian warga Baduy itu membuat lapak-lapak di sekitar tempat wisata baduy serta tempat parkir kendaraan.

Pembeli durian Baduy bukan hanya wisatawan lokal saja melainkan wisatawan dari luar Lebak juga. Selama ini, buah durian Baduy memiliki kelebihan dengan rasanya yang manis, dan daging buah yang tebal.

Selain itu juga harga durian di dekat perkampungan Baduy masih terjangkau, mulai dijual Rp 20 ribu sampai Rp 60 ribu per buah.

“Omzet penjualan durian hingga puluhan juta rupiah,” katanya.

Samani (55), seorang petani Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar mengatakan, dirinya panen durian itu dijual ke pengumpul yang ada di Rangkasbitung maupun pengecer di wilayah kawasan Baduy.

Buah durian Baduy diangkut kendaraan melalui kawasan perbatasan di Pasar Ciboleger dan Kebon Cau untuk dipasok ke Rangkasbitung dan daerah lainnya. Panen durian tahun ini masuk kategori baik, karena hasilnya cukup bagus dan berlimpah.

“Kami panen durian tentu dapat membantu pendapatan ekonomi keluarga dan bisa menjual hingga puluhan juta,” katanya.

Petani Badui lainnya, Shanta (45), mengaku kebun durian miliknya dipastikan bisa memanen durian hingga akhir Februari 2018. Selama musim panen banyak para tengkulak mendatangi pemilik kebun durian untuk dibeli secara borongan buah yang ada di pohon dengan harga perkiraan pasaran. Para tengkulak memasok ke Rangkasbitung, Tangerang, dan Jakarta.

“Kami menjual durian lebih baik dengan sistem borongan karena tidak mengeluarkan biaya angkutan lagi,” katanya. (*/Sandy)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *