PB Al-Khairiyah: Waspadai Penumpang Gelap di Pilpres 2019

Gerindra Nizar

CILEGON – Ketua PB Al-Khairiyah, Ali Mujahidin mengimbau masyarakat untuk mewaspadai isu adanya ‘Penumpang Gelap’ dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) yang digelar pada 17 April 2019 mendatang.

“Untuk Pemilu 2019 ini masyarakat kami himbau untuk jeli dan waspada karena diduga kuat ada penumpang gelap yang menunggangi salah satu pasangan calon presiden pada Pemilu 2019 ini,” himbaunya, yang disampaikan melalui pers rillisnya. Sabtu (30/3/2019).

Pria yang akrab disapa Haji Mumu ini, mengungkapkan tujuan ‘Penumpang Gelap’ tersebut untuk memecah belah Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI).

Fraksi serang

“Tidak penting Capres yang ditungganginya menang atau tidak, karena tujuan utamanya bukan memenangkan Capres yang seolah didukungnya tapi lebih ingin agar bangsa Indonesia chaos, kisruh, gaduh dan ingin merusak sistem NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan merusak UUD 1945,” ungkapnya.

Haji Mumu juga membeberkan beberapa poin, terkait ciri-ciri ”penumpang gelap” yang secara sistematis dikendalikan oleh pihak yang berada di luar wilayah NKRI.

“Kelompok ini dibiayai kelompok dan orang-orang luar Negeri (bukan negara) tapi hanya kelompok dan perorangan yang punya kepentingan terhadap Indonesia atau kecewa karena tidak bisa memanfaatkan indonesia untuk syahwat mereka, seperti syahwat intervensi ekonomi, intervensi politik, intervensi sistem pertahanan dan keamanan negara dan syahwat-syahwat lainnya yang ingin merusak Indonesia,” bebernya.

“Kedua, berupaya membenturkan masyarakat melalui isu SARA primordial, mengadu domba antar anak bangsa dan gencar menggelontorkan isu agama, penistaan ulama, isu pemerintah dzalim, isu syariat Islam, isu system khilafah dan isu lainnya untuk merusak sistem yang sudah kokoh di Indonesia,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Haji Mumu juga menjelaskan pola-pola yang dilakukan oleh kelompok dengan menyerang akal dan fikiran anak bangsa dengan cara “Terror main set” melalui Media Sosial.

Fraksi

“Karena dianggap biaya murah ‘low cost’ dengan gencar menebar ‘Hoax-Ghibah-Namimah dan Fitnah’ dengan mencari kesalahan-kesalahan pemerintah-pemimpin bangsa dengan platform atas nama agama untuk merasuki akal dan fikiran anak bangsa bahkan mereka seringkali membully dan mengolok-olok orang yang tidak sependapat dengan mereka melalui Medsos, dengan target agar orang-orang yang tidak terpengaruh menjadi minder meski pendapatnya benar,” jelasnya.

Menurut Haji Mumu, kelompok ini diduga kuat berada pada kelompok orang Islam garis keras dan organisasi yang dilarang oleh pemerintah.

“Diduga subur pada kelompok wahabi, organisasi terlarang, dan lebih mudah disebut dengan kelompok ‘Neo Khawarij’, karena polarisasi gerakanya sama persis dengan kaum ‘Khawarij’ yang punya historycal memecah belah ummat Islam,” tegasnya.

“Kelompok ini cenderung keras, intoleran, dan senantiasa mencari celah agar Pemilu 2019 ini kisruh, dan gaduh bahkan mendorong ke arah terjadinya pertikaian sesama anak bangsa seperti halnya yang terjadi saat jaman para tabi’in dan kejadian pertikaian di negara lain seperti suriah, mesir dan sebaginya,” tambahnya.

Dengan alasan tersebut, Haji Mumu mengajak masyarakat ber-satu merapatkan barisan bangsa dan negara, untuk mengamankan Pemilu 2019.

“Waspadai dan hindari pasangan Capres yang ditunggangi mereka, dan abaikan serangan Hoax-ghibah-namimah dan fitnah yang selelu mereka sebarkan, dan buat mereka merasa gagal merusak bangsa Indonesia yang punya satu kesatuan yang kuat dan tidak tergoyahkan oleh Capres yang di tunggangi kelompok yang menjual-jual atas nama agama, dan khilafah itu,” ujarnya.

Haji Mumu juga menyerukan agar masyarakat waspada pola-pola yang mengatasnamakan agama.

“Mereka sengaja menyerang atas nama agama demi kekusaan, agar bangsa yang beragama ini canggung dan takut salah jika melawan mereka karena mereka sesunggunya diduga adalah “Musang berbaju agama,” himbaunya.

“Ibnu Rusdy mengatakan, jika kalian ingin menguasai orang-orang bodoh maka gunakanlah isu agama,” tutupnya. (*/Red)

Gerindra kuswandi