CILEGON – Salah satu aktivis kota Cilegon Dwi Qorry menyayangkan kehadiran anggota DPRD dalam rapat paripurna yang hanya berbekal tanda tangan bukan berbentuk wujud sebagai perwakilan masyarakat Kota Cilegon.
“Apakah tanda tangan itu sudah sesuai ketentuan tata tertib di DPRD itu sendiri. Kalau memang diperbolehkan tata tertib, tanda tangan bisa mewakili kehadiran dalam rapat paripurna, ironis saja ya?” kata Dwi Qorry, Ketua Dewan Penasehat Gerakan Rakyat Cilegon (GRC), Selasa (25/7/2023) malam.
Meski diakui dirinya belum membaca isi ketentuan peraturan DPRD ihwal Tata Tertib DPRD itu sendiri, namun Qorry menyayangkan sikap seperti itu terjadi, mengingat anggota DPRD merupakan perwakilan dari masyarakat Kota Cilegon.
Lebih lanjut, jikapun tanda tangan itu memenuhi unsur kuorum, tetap saja tidak merepresentasikan aspirasi masyarakat untuk menuangkan ide dan gagasan dalam memberikan masukan terhadap eksekutif.
“Luar biasa sekali DPRD Cilegon itu menghadiri rapat paripurna hanya dengan tanda tangan saja sudah dianggap memenuhi kuorum.” ujar Qorry.
Selain itu, Qorry juga menyoroti kerapnya rapat di luar kota yang dilakukan DPRD Kota Cilegon baik bersama Pemerintah Kota maupun DPRD itu sendiri. Sementara segudang fasilitasi untuk urusan rapat di Kota Cilegon dirasa sudah cukup.
“Jika dibandingkan dengan rapat-rapat di luar Kota apakah ada yang diwakili dengan tanda tangan. Saya kira ikut semua itu,” tuturnya.
Semestinya sambung Qorry, rapat tidak perlu dilakukan di luar Kota, gunakan saja fasilitasi yang ada disekitaran Kota Cilegon. Jikapun enggan melakukan rapat di gedung sendiri lantaran butuh kenyamanan, banyak fasilitas hotel di sekitaran Kota Cilegon maupun Anyer yang dipastikan akan lebih menekan anggaran.
“Kalau pengen nyaman disini juga banyak hotel di Anyer atau dimana. Anggaran juga bisa lebih minim di banding dapat di luar kota.”tambahnya.
Karena itu Qorry berharap, sudahi bergaya, perjuangkan nasib masyarakat yang jadi pengangguran di Kota Industri termasuk turut menyelesaikan persoalan upah murah yang menimpa buruh yang bekerja pada sub kontraktor di proyek pembangunan PT Lotte Chemical Indonesia. (*/Wan)