ASDP Journalism Award 2025, Pengurus PWI Cilegon Raih Juara Favorit

 

CILEGON – Pengurus PWI Kota Cilegon, Rahmatullah Safrai atau dikenal dengan panggilan Mang Pram meraih Juara Favorit ASDP Journalism Award 2025 untuk kategori Citizen Journalism.

Karyanya tentang pengalaman berwisata di Bakauheni Harbour City mencuri perhatian juri karena cara bertuturnya yang pelan, dekat, dan mengajak pembaca berjalan bersamanya.

Ajang ASDP Journalism Award digelar setiap tahun oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) sebagai ruang bagi jurnalis dan penulis independen.

Tahun ini, melalui tema “Cerita Kita, Cerita Indonesia”, para peserta diminta menangkap keseharian masyarakat yang bergerak bersama konektivitas antarpulau.

Kisah yang ditulis Mang Pram menjadi salah satu yang dinilai berhasil menghadirkan ASDP berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Ditemui Rabu, 26 November 2025, Mang Pram mengatakan ia menulis dengan gaya feature.

“Saya lebih nyaman menulis dengan gaya feature. Cerita akan menemukan alur informasi kalau kita sabar melihat detailnya,” ujar Pimred Sarekat.com.

Ia menyebut kemenangannya lahir dari kerja lapangan yang sederhana, melihat langsung di lapangan, mendengarkan, mencatat, dan menunggu momen yang ingin ditulis.

Tulisan Mang Pram tentang pelayanan ASDP, lintasan Pelabuhan Merak–Bakauheni dan wisata baru Bakauheni Harbour City menempatkan perjalanan bukan sekadar perpindahan.

Ia menarasikan kemudahan akses perjalanan yang dibangun ASDP, langkah keluarga yang baru pertama naik kapal, juga perasaan berlibur dengan rasa kenyamanan.

“Dengan sentuhan bercerita, sebuah perjalanan terasa lebih menyenangkan,” katanya.Menurut Mang Pram, dasar dari strategi menulis feature adalah kemampuan melihat sisi kemanusiaan di balik fakta.

Ia menulis tetap berpegang pada data, namun membiarkan percakapan wawancara memberi arah pada cerita.

Penulis, kata dia, perlu hadir seutuhnya di lapangan agar bisa menangkap suasana yang tidak selalu tampak.

“Cukup tulis apa yang benar-benar terjadi. Kadang yang paling sederhana justru yang paling melekat,” ujarnya.

Bagi Mang Pram, feature yang baik adalah cerita mengalir dari pengamatan yang jernih, lalu dihantarkan dengan cerita yang terstruktur.

Ia percaya pembaca bisa merasakan kejujuran sebuah tulisan, terutama ketika penulis memberi ruang bagi manusia yang ia temui.

Penghargaan ini menjadi penanda bahwa jurnalis yang menempatkan manusia sebagai pusat cerita masih menemukan tempatnya.

Mang Pram menunjukkan bahwa tulisan yang jujur, lembut, dan terukur tetap dibutuhkan di tengah arus informasi yang serba cepat.***

Comments (0)
Add Comment