Banjir Masih Hantui Warga Gerem Kota Cilegon

 

CILEGON — Warga RT 001 RW 004 Lingkungan Gerem Raya, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, kembali mengeluhkan banjir yang kerap menggenangi permukiman setiap musim penghujan.

Kondisi tersebut disebut terjadi hampir setiap tahun dan hingga kini belum mendapatkan penanganan tuntas.

Luapan air berasal dari aliran sungai yang melintasi kawasan Gerem Raya, termasuk kiriman air dari wilayah Gerem Atas serta aliran dari Rawa Ujung.

Saat intensitas hujan meningkat, warga mengaku selalu diliputi kekhawatiran akan terjadinya banjir.

Bustomi (34), salah satu tokoh pemuda setempat, mengungkapkan kekecewaannya karena persoalan banjir yang terus berulang tanpa solusi konkret dari pihak terkait.

“Masyarakat Gerem Raya mengeluh setiap tahunnya selalu kebanjiran dari luapan air kali dari kiriman Gerem Atas dan aliran sungai dari Rawa Ujung,” ujarnya, Selasa (30/12/2025).

Ia menyebutkan, selama bertahun-tahun warga hidup dalam bayang-bayang banjir yang berdampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari serta kondisi perekonomian masyarakat.

Menurut Bustomi, warga telah berulang kali menyampaikan aspirasi dan meminta solusi kepada pemerintah daerah agar persoalan banjir di wilayah tersebut dapat segera ditangani secara menyeluruh.

“Masyarakat Gerem Raya beberapa kali membicarakan dan mengajukan permohonan kepada pemerintah terkait pembangunan tanggul di Gerem Raya untuk mengatasi kebanjiran,” imbuhnya.

Ketika banjir melanda, kerugian yang dialami warga tidak sedikit. Sejumlah kebun warga dilaporkan rusak, ternak hilang terbawa arus, serta perabot rumah tangga mengalami kerusakan akibat terendam air.

“Tolong pemerintah kami masyarakat Gerem Raya dilihat kembali kejadian kemaren musibah ini, jangan terulang kembali di tahun tahun berikutnya, masyarakat sudah capek mendengar banjir,” tegas Bustomi.

Ia menilai, persoalan banjir semestinya menjadi perhatian serius semua pihak. Salah satunya terkait pembangunan tanggul sungai yang dinilai belum merata dan masih terputus-putus di beberapa titik.

Selain itu, sedimentasi, tumpukan sampah, serta kondisi jaringan sungai yang melintasi kawasan industri juga disebut turut memperparah potensi banjir.

“Pembangunan tanggul sungai yang selama ini terputus-putus, selama ini masih belum merata, sangat bahaya sungai gerem raya ini kecil dan kiriman air sangat tinggi dari Gerem Atas,” jelasnya.

Di wilayah Gerem Raya terdapat tiga jaringan aliran air utama. Namun, dua di antaranya dilaporkan mengalami penyumbatan akibat penyempitan aliran sungai.

Penyempitan aliran air, khususnya yang masuk ke kawasan industri, dinilai perlu mendapat perhatian dan evaluasi. Sejumlah aliran sungai diketahui melewati area industri seperti INOES, Lotte Titan, BIL, MCCI, MFI, Pertamina Tanjung Gerem, serta industri lain di wilayah hilir.

Ketua RT 001 RW 004 Lingkungan Gerem Raya, Sukia, turut meminta pihak industri yang beroperasi di wilayah tersebut agar ikut berpartisipasi aktif dalam mengatasi persoalan banjir.

“Kami harapkan pihak industri juga mau bantu solusi untuk membereskan urusan banjir ini, agar bisa segera teratasi,” ujarnya.

Warga berharap adanya sinergi antara pemerintah daerah, pihak industri, dan masyarakat dalam mencari solusi jangka panjang, sehingga banjir yang kerap menghantui Gerem Raya tidak terus berulang di tahun-tahun mendatang. (*/ARAS)

Comments (0)
Add Comment