CILEGON – Kota Cilegon pernah menjadi barometer pergaulan sekaligus trendsetter di Banten wilayah barat.
Dari mode, gaya hidup, hingga pusat hiburan, kota baja ini tumbuh menjadi magnet berkat posisinya yang strategis sebagai daerah transit.
Arus budaya dari Jakarta maupun Sumatera berbaur di sini, menciptakan dinamika yang khas dalam kehidupan warganya.
Kini, banyak tempat ikonik yang dulu pernah digdaya perlahan berganti wajah. Ada yang berubah fungsi, berganti nama, hingga benar-benar terlupakan.
Tulisan ini mencoba menelusuri kembali jejak lokasi-lokasi legendaris yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Cilegon.
Ketua Bidang Warisan Tak Benda Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, Mahmud Juadda, menegaskan bahwa perubahan nama tempat memiliki arti penting yang patut didokumentasikan.
“Bagi kami di Dewan Kebudayaan, catatan semacam ini memiliki nilai penting sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat. Meski banyak dari tempat-tempat tersebut telah berubah fungsi, cerita dan kenangan yang melekat tetap menjadi bagian dari warisan budaya tak benda yang patut kita rawat,” ujar Mahmud, Senin (15/9/2025).
Menelusuri Cilegon hari ini, tak lengkap rasanya tanpa menoleh ke masa lalu. Generasi sebelumnya mengenal sejumlah titik populer dengan nama yang berbeda dari sekarang.
Sebut saja Lapangan Sumampir, yang dulu menjadi lokasi hampir seluruh konser besar di Cilegon. Kini, kawasan itu telah beralih fungsi menjadi parkiran Transmart.
Sementara di sekitarnya, Wisma Permata yang pernah menjadi titik kumpul eksekutif kini juga lenyap ditelan perkembangan pusat perbelanjaan modern.
Krakatau Country Club (KCC), ikon waterboom termegah di zamannya, kini berubah nama menjadi Waterworld.
Bagi banyak anak-anak Cilegon dulu, tempat ini adalah simbol liburan penuh euforia.
Tak kalah legendaris, ada Lampu Merah Damkar di kawasan Simpang Merak.
Titik ini dulu menjadi lokasi transit sekaligus tempat berkumpul mahasiswa Untirta dan anak teknik Cilegon.
Kawasan Simpang Tiga yang kini dikenal sebagai Landmark, dulu hanyalah pertigaan biasa.
Namun, popularitasnya menjadikannya titik janjian favorit antar warga dari berbagai daerah.
Di era milenium tahun 2000-an, Simpang Tiga bahkan dikenal sebagai habitat angkot jedag-jedug silver jurusan Anyer–Labuan.
Sementara itu, ikon kemajuan pusat perdagangan modern di Cilegon yang dulu ada seperti Matahari Lama dan juga mall yang sering disebut Ramtol (Ramayana), menjadi tempat favorit anak-anak SMK dan SMA nongkrong di sela-sela sekolah.
Ada juga Supermall, ikon pusat belanja terbesar di era 2000 an, kini telah berganti nama beberapa kali, dari Mayofield hingga kini menjadi City Mall.
Kehadirannya dulu begitu melekat sebagai destinasi wajib bagi pelancong yang mampir ke kota baja.
Perubahan juga terjadi di Lapangan Hellypad yang kini menjelma menjadi Alun-alun Kota Cilegon.
Begitu pula Lapangan Oktip di Kelurahan Samangraya depan gerbang Kawasan Industri, yang dulunya ramai oleh aktivitas Pasar Kaget saat momen gajian pegawai PT Krakatau Steel.
Di Seruni, PCI menjadi titik transit populer bagi pengguna bus dan angkot, sementara Matahari Lama dulu menjadi simbol gaya hidup modern bagi keluarga Cilegon, meski kini kalah oleh pusat belanja baru.
“Perubahan zaman memang tak terhindarkan, tetapi dokumentasi dan narasi semacam ini membantu generasi muda memahami perjalanan kota mereka. Harapannya, semakin banyak warga yang terdorong untuk merekam, menulis, dan berbagi cerita tentang ruang-ruang bersejarah dalam kehidupan sosial Cilegon,” pungkas Mahmud. (*/ARAS)