CILEGON – Deretan truk tangki sedot WC berbaris di atas bahu jalan persimpangan depan pusat perbelanjaan Transmart daerah Sumampir Kelurahan Kebondalem Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon, sedari pagi hingga mulai dari jam 6.00 pagi hingga pukul 17.00 sore mereka di situ.
Diantara deretan truk-truk itu, sekelompok bapak-bapak duduk santai sambil sesekali memperhatikan handphone berharap ada notifikasi, sambil berbincang dengan rekan-rekannya, mereka adalah para operator jasa sedot WC yang beroperasi di wilayah Cilegon.
Di antara mereka, Budin (48), warga Lingkungan Sumampir Kelurahan Kebondalem, tampak menatap layar ponsel yang retak.
Ia bukan sedang menunggu pesan keluarga, melainkan menunggu kabar rezeki, panggilan jasa sedot WC.
“Order jadi barang langka belakangan ini, kadang sehari dapat order, kadang juga enggak ada sama sekali,” ujarnya, Selasa (2/9/2025).
Sudah puluhan tahun Budin menggeluti usaha ini. Dulu, katanya, bisnis sedot WC adalah lahan basah. Minim pesaing, permintaan tinggi, dan masyarakat selalu membutuhkan.
“Mau diambil atau tidak terserah kita,” kenangnya.
Pekerjaan yang bagi sebagian orang dianggap kotor dan menjijikkan itu justru menjadi sumber kehidupan bagi Budin dan puluhan supir dan operator sedot WC di Kota Cilegon.
Setiap pagi sedikitnya tujuh truk medium berjejer di kawasan Sumampir, tak jauh dari pusat perbelanjaan di komplek Krakatau Steel itu. Para operator nongkrong, menunggu telepon atau pesan masuk.
“Kita standby aja di sini. Kalau ada panggilan, langsung jalan,” tutur Budin.
Untuk mencari pelanggan, dulu mereka andalkan stiker dan pamflet yang ditempel di tiang listrik dan telepon umum. Kini, cara itu sudah tak banyak membantu.
“Sekarang lebih banyak dapat dari Google sama Facebook. Kalau enggak online, susah,” imbuhnya.
Namun, zaman berubah. Persaingan semakin ketat, sementara aturan pengelolaan limbah juga makin diperketat.
“Lain dulu, lain sekarang. Bisnis ini berat, saingannya banyak banget,” ujar Budin.
Beban operasional juga tidak kecil. Operator resmi wajib membuang limbah ke tempat pengolahan di Jakarta.
“Yang resmi lumayan, itu harus buangnya ke Jakarta, biaya bisa 5 sampai 6 juta,” ungkapnya.
Satu kali operasi, tarif jasa dipatok Rp750 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung jarak tempuh dan panjang selang penyedotan.
“Kalau makin jauh rumahnya, makin panjang selangnya, makin mahal juga,” jelas Budin.
Dalam sekali sedot, satu truk bisa penuh 5.000 liter limbah. Hasil pendapatan harus dibagi dua dengan pemilik usaha setelah dikurangi biaya solar, makan, dan retribusi tempat buangan.
“Buang aja bayar 250 ribu per mobil,” ujarnya.
Uang yang tersisa untuk operator pun tak seberapa.
“Sehari paling dapat 400 ribu, itu pun dibagi dua sama kernet,” kata Budin. Tidak jarang, ia pulang tanpa hasil.
“Kadang ada, kadang enggak. Kalau enggak ada order, ya kosong,”keluhnya.
Meski hasilnya tak menentu, Budin tetap bertahan.
“Saya enggak punya pilihan lain. Ini pekerjaan saya sejak muda. Susah kalau harus pindah kerja sekarang,” ucapnya lirih.
Pekerjaan ini lumayan cukup merepotkan, tidak hanya persoalan membuang limbah tinjanya saja, beberapa rumah pengguna layanan bahkan tidak memiliki lubang hawa untuk septic tank nya.
“Kalau gak ada lubangnya, harus kita bobok dan itu resiko kami,” ujarnya.
Keberadaan mereka sangat penting bagi masyarakat, mengingat masa pakai penampungan karena daya serap yang buruk sehingga dalam kurun waktu tertentu harus dibersihkan.
Menurut informasi dari mereka, saat ini belum ada tempat atau instalasi untuk pengelolaan air tinja di Kota Cilegon, selama ini para operator sedot WC membuang tinja ke daerah Bojonegara Kabupaten Serang dengan biaya 250 ribu per sekali buang. (*/ARAS)