Cilegon Diduga Kehilangan Identitas, Tokoh Penolakan PIK 2 Ini Sebut Kapitalisme dan Materialisme Menggerus Kota Santri

 

CILEGON – Kota Cilegon yang dikenal sebagai Kota Santri kini menghadapi ancaman serius dari dominasi kapitalisme dan materialisme.

Realitas yang ada menunjukkan pergeseran nilai yang mengikis identitas keislaman, menjadikan hiburan malam, perjudian, dan prostitusi sebagai bagian dari wajah kota ini.

Dalam diskusi bedah buku No LC No Party, KH. Hafidin sebagai salah satu Tokoh Penolakan PIK 2 di Banten, dan Penggerak Pemberantasan Kemaksiatan di Kota Cilegon, menyebut bahwa keberadaan tempat hiburan malam bukanlah efek dari industrialisasi, melainkan akibat lemahnya komitmen para pemangku kepentingan.

“Banyak yang beranggapan bahwa tempat hiburan malam adalah dampak dari industri, padahal bukan. Ini adalah akibat dari lemahnya iman, lemahnya takwa, dan lemahnya komitmen terhadap identitas kita sebagai wilayah dengan seribu ulama dan sejuta santri,” tegasnya, pada Rabu (26/2/2025) malam.

Ia mengungkap bahwa kawasan seperti Jalan Lingkar Selatan Cilegon kini dijuluki “Las Vegas” oleh mahasiswa karena menjamurnya tempat hiburan malam.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pergeseran nilai sedang terjadi di tengah masyarakat yang seharusnya menjunjung tinggi norma agama dan budaya.

KH. Hafidin menilai, budaya konsumtif dan hedonisme yang didorong oleh kapitalisme semakin menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai keislaman.

Menurutnya, banyak pihak yang justru abai terhadap fenomena ini dan lebih memilih untuk menikmati keuntungan ekonomi yang dihasilkan dari bisnis tersebut.

“Saat masyarakat lebih sibuk memenuhi kebutuhan makan dan memperkaya diri sendiri, mereka lupa bahwa ada tanggung jawab sosial yang harus diemban. Inilah dampak dari kapitalisme yang semakin menggerus jati diri kita,” katanya.

Ia menambahkan bahwa lemahnya kepedulian sosial ini beriringan dengan meningkatnya budaya permisif terhadap praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum, tetapi juga di antara para tokoh yang seharusnya menjadi benteng moral.

Di akhir diskusi, KH. Hafidin menegaskan pentingnya membangun kesadaran kolektif agar Kota Cilegon tidak kehilangan identitasnya.

Menurutnya, perlawanan terhadap kapitalisme dan materialisme harus dimulai dengan meneguhkan kembali komitmen terhadap nilai-nilai Islam yang menjadi fondasi kota ini.

“Jika kita tidak bergerak sekarang, jangan kaget jika beberapa tahun ke depan, Kota Santri ini tinggal kenangan,” pungkasnya. (*/Hery)

Comments (0)
Add Comment