CILEGON — Hendriawan, pemuda asal Seneja, Kelurahan Sukmajaya, Kota Cilegon, menjadi bukti nyata bahwa tekad dan keberanian mampu membuka jalan menuju peluang global.
Ia tercatat sebagai alumni angkatan pertama pelatihan bahasa Jepang di LPK INARI sekaligus menjadi peserta pertama yang berhasil diberangkatkan ke Jepang, meski saat itu lembaga tersebut belum memiliki lulusan.
Kini, genap satu tahun Hendriawan menjalani karier di Prefektur Ehime, Jepang. Melalui komunikasi rutin dengan pihak LPK INARI, ia membagikan berbagai pengalaman, mulai dari tantangan awal hingga proses adaptasi yang dijalaninya selama bekerja di negeri sakura.
Hendriawan mengungkapkan, fase awal keberangkatannya dipenuhi berbagai kesulitan, terutama dalam hal komunikasi.
Keterbatasan kosakata membuatnya kerap mengalami kendala saat memahami instruksi kerja.
“Banyak hal yang dipelajari dan dialami, mulai dari kesulitan mengerti perintah dari pimpinan hingga kesalahan mengambil alat kerja karena banyak kosakata yang belum dipelajari sebelumnya,” ujar Hendriawan, Sabtu (18/4/2026).
Meski demikian, ia tidak menyerah. Dengan ketekunan, dukungan dari rekan sesama pekerja asal Indonesia, serta lingkungan kerja yang kondusif, Hendriawan perlahan mampu beradaptasi.
Ia menilai sosok atasan yang tegas namun perhatian turut mendorongnya untuk terus berkembang sesuai tujuan program pemagangan.
Selain tantangan bahasa, kondisi fisik juga menjadi ujian tersendiri. Perbedaan iklim yang signifikan antara Indonesia dan Jepang memaksanya beradaptasi dengan suhu ekstrem, mulai dari panas terik saat musim panas hingga dingin menusuk di musim dingin.
Namun, di balik berbagai kesulitan tersebut, Hendriawan menemukan pengalaman berharga yang tak tergantikan.
Ia mengaku keindahan alam Jepang menjadi pengobat lelah selama menjalani aktivitas kerja.
“Semua lelah itu terlihat indah saat sakura bermekaran di musim semi dan dedaunan mulai menguning saat musim gugur tiba,” tuturnya.
Sebagai perintis bagi peserta berikutnya di LPK INARI, Hendriawan juga menyampaikan pesan kepada generasi muda, khususnya di Kota Cilegon, agar berani keluar dari zona nyaman dan memanfaatkan peluang kerja di luar negeri.
“Keluar dari zona nyaman kalian dan coba peluang di negara lain. Selain untuk merubah nasib, banyak hal yang dapat dipelajari dari melihat dunia luar. Terus belajar, semangat, dan jangan lupakan tanggung jawab,” katanya.
Ia pun menutup pesannya dengan semangat khas daerah asalnya, sebagai motivasi bagi pemuda Cilegon untuk terus berprestasi.
“Sing penting pemuda pemudi Cilegon juare! Salam saking Jepang, Ehime,” ujarnya.
Kisah Hendriawan menjadi gambaran bahwa dengan persiapan yang matang serta kemauan kuat, generasi muda daerah memiliki peluang besar untuk bersaing dan berkembang di tingkat internasional.***