Dorong Serapan Tenaga Kerja Lokal, Mantan Anggota DPRD Cilegon Ini Bangun IKM Berbasis Limbah Industri

 

CILEGON – Kota Cilegon dikenal sebagai kawasan industri besar, penghasil bahan baku logam hingga plastik.

Di balik geliat industri tersebut, tersimpan potensi besar bagi masyarakat untuk mengembangkan hilirisasi produk, tak hanya dari bahan baku baru, tetapi juga dari limbah seperti besi bekas, kayu bekas, hingga plastik yang selama ini kerap terabaikan.

Timbulan limbah di Kota Cilegon yang mencapai rata-rata 270 ton per hari menjadi tantangan sekaligus peluang.

Bagi para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM), kondisi ini justru dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif yang bernilai ekonomis jika dikelola dengan tepat.

Ketua Koperasi Konsumen Krakatau Baja Trikora Cilegon, Muhammad Ibrohim Aswadi (MIA), mengungkapkan bahwa pihaknya telah menginisiasi sektor IKM yang berbasis pada prinsip reuse, reduce, dan recycle (R.3).

Melalui wadah koperasi tersebut, lahirlah berbagai klaster usaha seperti IKM Steel, Wood dan Plastic yang beroperasi di bawah merek “Buyut Cilegon”.

“Koperasi Konsumen Krakatau Baja Trikora Cilegon melahirkan sektor IKM Steel, Wood dan Plastic ‘Buyut Cilegon’ yang bergerak di kerajinan yang berbasis bahan baku besi bekas, kayu bekas dan plastik bekas, dengan melakukan reuse, reduce dan recycle (R.3),” ungkap Ibrohim, Senin, (21/7/2025).

Ia menegaskan bahwa prinsip R.3 berarti mengurangi penggunaan barang yang menghasilkan sampah, menggunakan kembali barang yang masih bisa dipakai, serta mendaur ulang sampah menjadi produk baru.

Lewat konsep ini, IKM bukan hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan peluang kerja baru bagi warga lokal.

“Mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi warga,” tambahnya.

Produk yang dihasilkan pun beragam, mulai dari alat-alat pertanian seperti cangkul, kored, hingga alat dapur dan bangunan seperti golok, pisau, linggis, dan sendok bata.

“Kita produksi untuk alat-alat pertanian, alat-alat dapur dan alat-alat bangunan, mulai dari cangkul, kored, golok, pisau, linggis, sendok bata dan lainnya,” jelas mantan Anggota DPRD Kota Cilegon ini.

Tidak hanya berbasis logam, bahan kayu bekas juga dimanfaatkan menjadi produk unik seperti souvenir landmark Kota Cilegon hingga gagang senjata tajam.

“Barang bekas yang berbasis bahan baku kayu bekas kita memproduksi souvenir landmark Kota Cilegon, binatang, gagang golok, gagang pisau,” katanya.

Sementara dari plastik bekas, pihaknya mengolahnya menjadi produk fungsional seperti akuarium dari botol galon serta gagang golok dan pisau.

“Yang berbasis bahan baku plastik, kami memproduksi akuarium dari botol galon, gagang golok, gagang pisau dan lainnya,” tambahnya lagi.

Politik Partai Demokrat ini berharap ke depan akan tumbuh lebih banyak klaster-klaster IKM di Cilegon yang dapat berkembang secara bersama-sama, sehingga menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang kuat dan berdaya saing tinggi.

“Semoga ke depan, klaster-klaster IKM Kota Cilegon bisa tumbuh, berkembang dan maju pesat secara bersama-sama,” tuturnya.

Ia menyebutkan bahwa ketersediaan bahan baku bekas di Kota Cilegon sangat melimpah karena wilayah ini merupakan gudangnya industri.

“Sejalan dengan program pemerintah, dan saya optimis ketika berbicara ketersediaan akan bahan baku, baik baja, kayu, plastik, Kota Cilegon itu gudangnya, dan sangat mencukupi bahkan melimpah,” katanya.

Namun, optimalisasi peran pemerintah dan industri sangat diperlukan untuk menjadikan potensi ini sebagai kekuatan ekonomi berbasis hilirisasi lokal yang berkelanjutan.

“Tinggal bagaimana mengoptimalkan pembinaan dan pendampingan baik dari pihak pemerintah maupun dari pihak industri yang ada, dengan terus membangun sinergitas dan kolaborasi yang serius dan maksimal,” ujarnya.

Ibrohim meyakini bahwa IKM Cilegon, sebagai turunan langsung dari aktivitas industri besar, memiliki posisi strategis untuk tumbuh dan bersaing sebagai pelaku utama industri kreatif berbasis daur ulang.

“IKM Cilegon sebagai bagian dari turunan atau hilirisasi industri mampu tumbuh, berkembang, bersaing, berdaulat, maju, dan juara di tanah Cilegon itu sendiri sebagai pusat industri,” paparnya.

Namun demikian, untuk mewujudkan visi tersebut, diperlukan adanya perencanaan strategis jangka panjang dan sinergi lintas sektor.

“Butuh kebijakan yang serius dari stakeholder yang ada, mulai dari pemerintah, kalangan industri, akademi dan para pelaku IKM Cilegon, untuk membuat blue print besar tentang hilirisasi industri,” katanya.

Dengan begitu, hilirisasi yang berbasis sampah dan limbah industri dapat menjadi pilar ekonomi kreatif dan inovatif, sekaligus menjadi solusi bagi tingginya angka pengangguran dan tantangan lingkungan di Cilegon.

“Mampu menciptakan ekonomi yang kreatif, inovatif bagi rakyat, dan mampu menyumbang PAD dan lapangan kerja baru, di saat angkatan kerja semakin banyak,” pungkasnya. (*/ARAS)

Buyut CilegonIKMLimbah IndustriMIAMuhamad Ibrohim Aswadi
Comments (0)
Add Comment