CILEGON– Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cilegon terus mengintensifkan edukasi mengenai metode vasektomi sebagai upaya meningkatkan partisipasi pria dalam program Keluarga Berencana (KB).
Kepala DP3AP2KB Kota Cilegon, Lia Nurlia Mahatma, menjelaskan metode itu diperuntukkan bagi pria yang benar-benar berkomitmen tidak ingin menambah keturunan atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.
“Vasektomi itu sebenarnya ditawarkan bagi pria yang memang sudah tidak berencana memiliki anak, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu yang tidak memungkinkan untuk menambah keturunan,” ujarnya, ditulis Jum’at (7/11/20205).
Namun, di lapangan, kesadaran pria untuk ber-KB masih minim. Banyak yang masih menganggap pengendalian kehamilan adalah urusan perempuan semata.
“Kalau perempuan kan merasakan langsung kehamilan dan melahirkan, jadi lebih cepat punya kesadaran untuk ber-KB. Sedangkan laki-laki, sebagian masih berpikir urusan KB itu tanggung jawab perempuan,” tuturnya.
Padahal, lanjut Lia, ketika pria ikut berperan, itu bukan hanya membantu pasangan, tetapi juga menunjukkan dukungan emosional dan fisik dalam membangun keluarga yang sehat.
Edukasi mengenai vasektomi pun terus dilakukan secara berkelanjutan oleh pihaknya melalui penyuluhan di berbagai wilayah.
“Program edukasi KB pria ini sudah lama kami jalankan, dan setiap tahun ada target tersendiri. Tantangannya memang masih di tingkat kesadaran. Jadi kami terus sosialisasikan agar laki-laki juga ikut mengambil peran,” ucapnya.
Vasektomi sendiri berbeda dengan metode KB pada perempuan seperti pil, suntik, atau implan yang bersifat sementara.
Metode ini bersifat permanen, sehingga memerlukan komitmen dan kesepakatan bersama antara suami dan istri.
“Kalau KB perempuan seperti implan kan bisa dilepas kapan saja, sedangkan vasektomi sifatnya permanen. Jadi perlu benar-benar ada kesepakatan dan komitmen dari pasangan,” ujar Lia.
Lewat edukasi berkelanjutan, pihaknya berharap muncul kesadaran baru bahwa tanggung jawab dalam KB bukan hanya berada di pundak perempuan.
“Prinsipnya ber-KB itu kesepakatan bersama, bukan hanya beban perempuan. Dengan keterlibatan pria, kita bisa wujudkan keluarga yang lebih berkualitas,” ungkapnya.***