Dukung Gerakan Ayah Hadir di Sekolah, 1.350 Rapot Siswa SMA Negeri 1 Cilegon Dibagi Bertahap

 

CILEGON-SMA Negeri 1 Kota Cilegon kembali menunjukkan keseriusannya dalam mengelola kegiatan sekolah yang melibatkan ribuan orang tua siswa.

Dengan jumlah peserta didik mencapai 1.350 siswa, pihak sekolah SMA 1 Kota Cilegon memilih strategi pembagian rapot secara bertahap guna mengantisipasi keterbatasan lahan parkir dan kemacetan di sekitar lingkungan sekolah.

Kepala SMA Negeri 1 Kota Cilegon Drs. Agus Pancasusila M.pd menjelaskan, pengambilan rapot tidak mungkin dilakukan dalam satu waktu yang bersamaan.

Selain keterbatasan area parkir, lonjakan kendaraan orang tua berpotensi mengganggu arus lalu lintas di jalan utama depan sekolah.

“Kalau dilakukan serentak jelas tidak memungkinkan. Karena itu kami selalu membuat perencanaan, minimal dibagi menjadi tiga termin,” ujar Agus kepada Fakta Banten saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis, (18/12/2025)

Ia mengungkapkan, Setiap termin pengambilan rapot dijadwalkan dengan jarak waktu sekitar dua setengah jam.

Skema ini diterapkan agar orang tua memiliki kesempatan untuk memarkir kendaraan di sekitar sekolah, meski diakui tetap menimbulkan dampak kepadatan lalu lintas.

“Walaupun sudah dibagi termin, tetap saja sebagian badan jalan terpakai kendaraan roda empat. Arus lalu lintas mau tidak mau agak tersendat,”ungkap Agus

Sementara itu, untuk mengantisipasi hal tersebut, ia melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, mulai dari Polsek dan Koramil yang berada di depan sekolah, hingga pengelola titik-titik parkir yang dikelola masyarakat sekitar.

Tak hanya soal teknis, kata Agus pembagian rapot semester ini juga mengusung pesan khusus.

SMA Negeri 1 mendukung gerakan yang dianjurkan Pemerintah Kota Cilegon dan Provinsi Banten, yakni Gerakan Pengambilan Rapot oleh Para Ayah.

“Pada prinsipnya, rapot boleh diambil oleh siapa saja, ayah atau ibu. Tapi ada himbauan dari pemerintah agar di akhir semester ini yang datang adalah para ayah,” jelas Agus

Menurutnya , kehadiran ayah dinilai penting karena dapat membuka ruang dialog yang lebih efektif antara wali kelas dan orang tua.

Pengalaman selama ini menunjukkan adanya perbedaan respons antara ayah dan ibu dalam menyikapi perkembangan anak.

“Biasanya ayah lebih cepat merespons dan mengambil keputusan. Selain itu, pemerintah juga ingin mendorong para ayah agar lebih peduli terhadap pendidikan anaknya, tidak semua urusan diserahkan ke ibu,” tambahnya.

Sekolah pun telah menyampaikan himbauan tersebut secara resmi melalui surat edaran dan undangan yang dibagikan kepada orang tua siswa, termasuk melalui grup komunikasi orang tua.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa himbauan tersebut tidak bersifat wajib.

“Kami tidak bisa memaksakan harus ayah yang datang. Tapi kami berharap semakin banyak ayah yang hadir dan terlibat langsung dalam pendidikan anak-anaknya,” pungkasnya.***

Comments (0)
Add Comment