Jadi Ketua MUI Cilegon, Zubaedi Ahyani: Kritik Pemerintah Tetap Harus Dilakukan

 

CILEGON – Pasca pengunduran diri KH. Dimyati Syuja’i Abubakar dan menyatakan dirinya melepas jabatan sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cilegon, Ketua I KH. Zubaedi Ahyani, naik jabatan menjadi Ketua Umum MUI Cilegon.

“Saya ingin mengembalikan MUI ini sebagaimana fungsinya apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT dalam Q.S. Fathir ayat 28 yang berbunyi :
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُور
Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Itu adalah salah satu Visi misi saya kedepannya, ini yang ingin saya jadikan landasan utama untuk kepengurusan MUI kedepan,” kata Zubaedi Ahyani, Jumat, (8/4/2022).

Ia menekankan MUI seharusnya menjadi khotimul ummah atau pelayan masyarakat dan pelayan ummat bukan sayyidul ummah.

“Visi misi yang kedua MUI harus menjadi Shodiqul Hukummah, artinya ialah mitra dari pemerintah, jalinan kemitraan inilah yang nanti saya akan kembangkan dengan prinsip kerukunan dan keharmonisan, intinya seperti dalam Al-Qur’an, surat Al-Ashr ayat ketiga yang berbunyi : وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Yang artinya menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran,” ungkapnya.

Zubaedi menegaskan antara MUI dan pemerintah harus saling mengingatkan.

“Didalam bermitra dengan pemerintah juga menurutnya harus diperhatikan, tetapi bukan berati semata mata MUI mengikuti dan menelan mentah-mentah apa yang dikatakan pemerintah, yes saja, oh tidak MUI tidak seperti itu. Kita juga harus kritis apabila ada yang tidak cocok atau keputusan pemerintah yang kurang bijak,” tegas Zubaedi.

“Harus kritis sekalipun sebagai mitra,” imbuhnya.

Setelah ada pelantikan dan peresmian yang akan dilaksanakan Minggu depan, Zubaedi akan merumuskan program-programnya lebih terperinci.

“Saya memegang prinsip al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni ‘Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik’,” kata Zubaedi.

“Program yang baik dulu akan kami lanjutkan, tapi kami akan membuat program yang lebih baik, tidak mau banyak mengorek masa lalu, saya hanya ingin melihat di masa depan,” imbuhnya.

Ia menjelaskan juga untuk struktural kepengurusan tidak berubah, para ketua yang banyak berubah dikarenakan beberapa hal.

“Faktor meninggal dunia dan ingin efesiensi pengurus saja,” pungkasnya. (*/Hery)

Comments (0)
Add Comment