Jadilah Manusia “Ruang”, Bukan Manusia “Perabot”

*) Oleh: Ilung (Sang Revolusioner)

FAKTA BANTEN – Semakin mendekati Pemilu yang padahal baru digelar tahun depan, namun saya melihat, mendengar dan memperhatikan manuver kubu-kubu para calon legislatif yang diam-diam sudah curi start kampanye. Baik yang terselubung maupun dengan dalih sosialisasi.

Untuk Pilpres, dengan dua kandidat Capres yang tidak mengalami banyak perubahan, kegaduhan rakyat seperti yang terjadi pada Pilpres sebelumnya juga sudah mulai menyeruak, deklarasi kubu-kubu dari lintas koalisi partai hingga yang hanya mengaku relawan dan simpatisan.

Jika kegaduhan-kegaduhan itu hanya di Medsos saja mungkin masih bisa dianggap lumrah dengan polarisasi psikologis yang berbeda dengan perdebatan orang-orang kecil di kampung-kampung yang ikut berdebat hebat dalam menjagokan Capres pilihannya. Dari kuli bangunan yang saling ngotot dengan ‘pekatik’nya lurah, tukang ojek dengan buruh pabrik, perdepatan Capres dari warung kopi hingga di pasar-pasar induk kabupaten/kota. Seolah-olah mereka meyakini betul bahwa Capres jagoannya yang pasti benar dan harus menang, sedangkan lawannya pasti buruk dan tidak layak jadi presiden.

Dengan begitu, mereka bisa mudah termakan isu atau berita hoax. Bahkan dengan perkubuan yang sangat menstimulasi terjadinya gesekan sosial atau konflik horizontal yang membuat retaknya persatuan dan kesatuan negara ini yang bangga dengan demokrasi adopsinya. Saya kira ini patut menjadi perhatian dan perenungan kita bersama, agar rakyat yang berdaulat atas negara ini, tak menjadi “tumbal politik”.

Sehingga, keresahan itupun sampai terbawa mimpi. Dan alhamdulillah dalam mimpi itu saya diajak duduk bersama guru saya Emha Ainun Nadjib, ke dalam suatu dimensi yang menenangkan jiwa. Namun tak akan saya tuliskan lebih lanjut isi mimpi tersebut, selain dua Capres sedang berebut meminta dukungan kepada beliau.

Dalam perjumpaan langsung, guru saya yang multi talent sangat bijaksana serta mumpuni dalam segala aspek kehidupan. Peranannya untuk negeri ini seperti Kanjeng Sunan Kalijaga di abad 15-16 silam.

Entah itu urusan pemilu elektoral maupun urusan-urusan perbedaan tafsir keagamaan, masyarakat kita saat ini menjadi lebih akrab dengan perkubuan dan tidak mampu mengelola perbedaan sebagai bagian dari kenyataan hidup. Padahal sejak dulu kita adalah bangsa “Semut” kenapa mau dijadikan “Anak Sapi”?

Kita sekan dipaksa turut menikmati berbagai kericuhan itu. Terkadang tanpa sadar kita juga sering terbawa arus tanpa punya proteksi untuk selamat dari berbagai gesekan sosial yang absurd itu. Ada apa dengan kita? Kenapa sih, kita kok senang sekali ketika bergesekan dengan orang lain? Mengapa kita menjadi senang adu menang-menangan pada hal-hal yang tidak bermanfaat dalam membangun kebersamaan.

Ada baiknya dalam hati dan pikiran kita mulai bertanya-tanya tentang sumber penyebabnya. Jangan melihat orang lain dulu, tapi mari lihat diri kita masing-masing. Jangan-jangan segala bentuk kericuhan itu sebenarnya berawal dari sempitnya ruang penerimaan kita. Bukankah hidup ini sedemikian luasnya. Tetapi karena begitu sempitnya ruang penerimaan dalam diri kita sehingga kita begitu mudah alergi dengan perbedaan dan kita menjadi mudah tersinggung pada hal-hal yang sebenarnya tidak substansial terkait urusan martabat kehidupan kita.

Kita gerah dengan kondisi ini, maka untuk memahami dan memaknai suatu keadaan ada rujukan ilmu Jawa tua yang bisa dilakukan untuk upaya-upaya ijtihad. Gerah bisa diartikan sebagai kondisi manusia yang menjadi panas karena dua faktor: eksternal dan internal.

Untuk me-manage faktor-faktor eksternal, dibutuhkan ilmu ruang (pranoto mongso); sementara untuk me-manage fakor-faktor internal, bekal kita adalah ilmu karakter (katuranggan).

Jika belajar dari cara Tuhan menciptakan alam semesta ini, kita akan mendapatkan pelajaran tentang bedanya ruang dengan perabot. Perabot adalah segala sesuatu yang bersifat mengisi ruang. Jika kita hidup dalam kesadaran perabot, betapa statisnya dan betapa mudahnya kita bergesekkan satu sama lain. Dengan demikian, tidakkah lebih tepat jika kita hidup dalam kesadaran ruang, sehingga kita bisa menampung segala hal sembari memperhatikan dengan teliti mana perabot yang bermanfaat, mana yang mubadzir, dan mana yang membahayakan.

Manusia yang berkesadaran ruang akan lebih banyak belajar memahami seraya berusaha memaksimalkan kapasitas ruang dalam dirinya agar senantiasa dapat memberikan manfaat bagi sekitarnya. Ia menjadi waspada karena selalu memperhatikan dengan cermat apa yang ia tampung dalam kesadaran ruangnya, sehingga justru jelas apa yang menjadi kebaikan dan apa saja yang membahayakan. Sehingga ketika melakukan tindakan, manusia-manusia yang berkesadaran ruang akan selalu mengutamakan kebaikan, bukan sekedar unggul-unggulan soal kebenaran.

Dengan prinsip itu, mari kita berupaya menjadi ruang bagi siapa pun yang ingin belajar untuk melatih dirinya menjadi manusia ruang. Sebab, di tengah berbagai kekacauan dan ketidakpastian yang sedang dialami banyak orang, orang maiyah menawarkan wadah berkumpul kepada manusia-manusia yang sungguh-sungguh ingin belajar mengenal dirinya dan merenungkan tugas penciptaan yang Tuhan gariskan. Sehingga diharapkan setiap Jamaah Maiyah menjadi manusia yang khairunnas anfauhum linnas seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW. (*/Ilung)

PemiluPILPRES 2019
Comments (0)
Add Comment